29.3 C
Bojonegoro
Wednesday, November 30, 2022

Oleh Suharsono A.Q.S

Telur Mata Sapi

- Advertisement -

HUJAN belum reda pagi ini. Hampir semalaman Desa Dadapan diguyur air dari langit hingga bumi kembali tersenyum. Tetumbuhan di sekitar pekarangan rumah basah kuyub. Tubuhnya mengigil kedinginan akibat hujan tanpa henti. Lima meter dari pekarangan rumah arah ke kanan kan kau jumpai kandang ayam yang hampir roboh.

 

Bangunan yang ala kadarnya itu terbuat dari anyaman bambu dengan atap genteng yang mulai kusam. Namun, bangunan inilah tempat kami bergantung menyambung hidup agar lebih bermakna. Sebelum subuh berkumandang, kokok ayam ini biasanya bersahutan menjemput para malaikat yang datang membawa catatan kebaikan bagi hamba yang bersujud di tengah malam.

 

Bagi hamba yang melantunkan puji-pujian dan tumpahkan segala problem kepada Sang Pencipta. Gelap masih membayang jatuh bergumul dengan himpitan puluhan ekor ayam. Kokok ayam si belang yang biasanya bersahut sahutan menjelang subuh berkumandang malam ini hampir tak terdengar suaranya.

- Advertisement -

 

Mereka pun sedang terlelap dengan selimut tebal terbuat dari tumpukan jerami. Tampak dari tumpukan jerami terlihat beberapa butir telur yang didekapnya erat-erat.

 

Ya.. telur-telur inilah yang digunakan Bu Tarsiyem untuk menyambung kehidupan kami sekeluarga. Telur tersebut kadang dijual untuk uang saku kami berenam ke sekolah dan tak jarang digunakan untuk lauk makan kami sehari-hari.

 

Sudah menjadi pemandangan yang  biasa. Kami dengan enam bersaudara sejak kecil dididik untuk hidup dengan penuh kesederhanaan dan kesehajaan. Sebelum berangkat ke sekolah kami biasanya makan nasi goreng dengan lauk telur mata sapi buatan Bu Tarsiyem.

 

Sebelum subuh biasanya Bu Tarsiyem  sudah bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan kami. Beberapa telur ayam dibenturkan ke wajan penggorengan. Baru satu per satu setelahnya diletakkan di wajan penggorengan hingga menyerupai telur mata sapi.

 

Dengan cekatan diletakkanya telur mata sapi itu di atas piring dan sebakul nasi putih siap untuk menemani sarapan kami. Syukur yang luar biasa kami rasakan waktu itu. Masakan yang dibuat dengan hati akan sampai juga ke hati, begitulah orang bijak berkata. Begitu nikmatnya telur mata sapi ini hingga kami tak beranjak dari meja makan.

 

Alangkah sedapnya masakan itu seakan masih terasa cita rasanya hingga kami sekarang sudah beranjak dewasa dan menjadi orang tua. Ya telur mata sapi itu dulu pernah mendewasakan kami dengan protein yang terkandung di dalamnya. Ya telur mata sapi inilah yang menjadi batas usia Bu Tarsiyem dengan ajalnya. Lompatan peristiwa itu mengkristal dalam benak kami. Lompatan peristiwa itu  seolah olah hadir kembali menemani kami  dalam hidup yang tidak pasti di tengah-tengah naiknya harga kebutuhan pokok yang tiada berujung dan berpangkal.

 

“Yah…, aku berangkat sekolah dulu yah”  kata anak tertuaku setelah memakai seragam kebanggaan sekolahnya.

Baca Juga :  Jebakan Itaewon

 

Ndak sarapan dulu, Din. Sini sarapan bareng ayah”.

 

“Ahh.. telur mata sapi lagi”, bosan yah..! mendengar jawaban itu  aku sangat kecewa.

 

Padahal, dulu telur mata sapi ini yang biasa kami makan. Entahlah anak zaman sekarang suka yang instan pun soal makanan juga milih makan yang instan dan cepat saji. Tak berapa lama disulurkan tanganya untuk minta restu dan mencium tangan kananku lalu bergegas meninggalkan meja makan.

Telur mata sapi masih tergeletak di atas piring. Seakan tahu kekecewaanku yang terpendam. Wajahnya berangsur angsur kisut setelah kutinggalkan ke belakang rumah beberapa jam lamanya.

 

Setelah anakku berangkat ke sekolah, wajah Bu Tarsiyem tampak timbul tenggelam di tengah telur mata sapi di meja makan. Dulu saat musim penghujan biasanya beliau menerima uang buruh tanam padi di sawah Pak Karto, Lurah kami yang sawahnya berhektare-hektare tapi terkenal angkuh. Pagi betul Bu Tarsiyem  berangkat ke sawah pagi itu. Takut kalau ditinggalkan teman-temanya sesama buruh tanam padi yang sudah bersiap di pos ronda.

Ia berlari lari kecil lewat jalan desa yang masih gelap. Tubuh Bu Tarsiyem melintasi pematang sawah yang berkelok-kelok sejauh puluhan kilometer  untuk sampai ke sawah Pak Karto. Dengan sisa-sisa cahaya bulan yang masih menggantung ia berjalan. Kakinya sudah mulai  keriput itu akhirnya sampai pula  di sawah pak lurah.

 

Tanganya yang  lincah berjibakku dengan benih tanaman padi yang disiapkan sejak sore oleh Lurah Karto. Benih tanaman padi inilah yang ditanam hingga matahari berangsur ke tepian barat. Saat matahari di atas kepala, Bu Tarsiyem dan teman-temanya  menepi ke pematang sawah  untuk istirahat dengan makan nasi bungkus yang disiapkan Bu Lurah Karto.

 

Sebungkus nasi bali dengan satu telur mata sapi dan ditambah kerupuk, bagi Bu Tarsiyem makanan ini  beliau anggap makanan  yang istimewa. Sebungkus makanan yang disiapakan Bu Karto dilahap habis untuk mengganjal perutnya yang keroncongan. Sebuah telur mata sapi disisakannya untuk oleh-oleh kami  saat pulang nanti.

 

Begitupun hari-hari yang lain ibu selalu menyisakan  telur mata sapi untuk anak-anaknya di rumah. Lamunanku mulai pudar saat gerimis tiba-tiba turun kembali saat siang bolong. Ternyata hujan masih bersambung gerutuku sambil menata antena televisi yang mulai rapuh dimakan usia. Dari balik jendela aku melihat awan tebal datang menggumpal di atas langit. Gumpalan awan kadang membentuk dua bola mata besar lalu berubah bentuk menjadi seekor naga hitam dengan ekornya yang panjang.

 

Gerimis berderet panjang di atas genteng sambil terdengar suara bersahutan. Kadang datang dengan cepat lalu berhenti. Kadang  pula stagnan dengan irama yang sama. Pada, saat hujan gerimis di salah satu stasiun televisi swasta  ditayangkan sebuah berita yang menyesakkan dada kami. Selaku orang kecil yang setiap hari dihimpit masalah ekonomi terasa sangat berat. BBM naik dari harga normal dan akan diberlakukan Selasa depan.

Baca Juga :  Refugia

 

Kenaikan harga BBM pasti akan berimbas pada kebutuhan pokok yang lain. Reaksi terhadap kenaikan harga BBM tersebut disambut dengan demo mahasiswa di penjuru tanah air menolak kenaikkan harga BBM tersebut. Alasan pemerintah menaikkan harga tersebut demi stabilitas nasional. Ah entahlah…hanya sebutir telur mata sapi yang bisa menjawab kenaikkan harga BBM saat ini.

 

Aku berjalan mondar-mandir dari  ruang tamu ke halaman rumah. Daun-daun berguguran diterpa angin dan hujan pun belum beranjak  reda. Sepasang burung terukur yang bertengger di pohon depan rumahku terpaksa harus berpindah tempat. Mereka mencari perlindungan  dari terpaan angin dan hujan. Mereka berjuang untuk mendapatkan makanan demi anaknya yang ditinggalkannya  di sarang pohon mahoni.

 

Bagi sepasang burung tekukur beberapa biji jagung yang tersimpan di tembolok sudah cukup untuk mengenyangkan perut anak-anaknya di rumah. Bukan keserakahan dan ketamakan seperti kita manusia yang tidak pandai bersyukur menerima pemberian dari yang maha pemberi rezeki.

 

Azan Ashar  sayup-sayup berkumandang lewat corong masjid. Seruan kemenangan itu telah datang. Ajakkan untuk menjadi hamba yang tunduk dan berpasrah diri pada Sang Khalik telah datang. “Janganlah kalian takut dan gelisah, sesungguhnya Allah bersama kita”, kata Kiai Mustofa sebelum jemaah Ashar dimulai.

 

Sejurus kemudian jamaah tenggelam dalam kekhusyukkan bertemu dengan Sang Khalik. Zikir mulai bergemuruh memuji kebesaran dan karunia-Nya. Lantunanya mengokohkan kembali keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT sang maha kuasa.

 

Sepulang dari masjid, kulihat kembali telur mata sapi di meja makan. Aku melihat wajah Bu Tarsiyem tergambar jelas di kuning telur yang mulai mengering. Senyumnya tumpah ruah di seluruh isi rumah. Wajah yang dulu begitu perhatian kepada kami. Kisah kesederhanaan hidup dan perjuanganya dalam membesarkan kami menjadi orang-orang yang sukses adalah sebuah keniscayaan yang tak dapat dipungkiri. Telur mata sapi dan kenaikan harga BBM menjadi isyarat tentang kesederhanaan dan keserakahan manusia.

Asap tebal membubung tinggi dari rumah Pak Karto. Bangunan yang berlantai dua  dan  berdiri kokoh di desa kami itu dilalap jago merah. Api diduga berasal dari penimbunan jeriken BBM yang disimpan dalam rumahnya. Berpuluh-puluh jeriken sudah hangus terbakar.

 

Orang-orang berlarian memadamkan api dengan alat seadanya. Tak ada yang tersisa dari bangunan itu. Tinggal rangka kayu jati yang terlihat menghitam dan jatuh tersungkur ke tanah. Bersamaan jatuhnya rangka atap rumah yang hangus itu tubuh Pak Karto terpanggang sambil memegang jeriken yang tak utuh lagi. (*)

HUJAN belum reda pagi ini. Hampir semalaman Desa Dadapan diguyur air dari langit hingga bumi kembali tersenyum. Tetumbuhan di sekitar pekarangan rumah basah kuyub. Tubuhnya mengigil kedinginan akibat hujan tanpa henti. Lima meter dari pekarangan rumah arah ke kanan kan kau jumpai kandang ayam yang hampir roboh.

 

Bangunan yang ala kadarnya itu terbuat dari anyaman bambu dengan atap genteng yang mulai kusam. Namun, bangunan inilah tempat kami bergantung menyambung hidup agar lebih bermakna. Sebelum subuh berkumandang, kokok ayam ini biasanya bersahutan menjemput para malaikat yang datang membawa catatan kebaikan bagi hamba yang bersujud di tengah malam.

 

Bagi hamba yang melantunkan puji-pujian dan tumpahkan segala problem kepada Sang Pencipta. Gelap masih membayang jatuh bergumul dengan himpitan puluhan ekor ayam. Kokok ayam si belang yang biasanya bersahut sahutan menjelang subuh berkumandang malam ini hampir tak terdengar suaranya.

- Advertisement -

 

Mereka pun sedang terlelap dengan selimut tebal terbuat dari tumpukan jerami. Tampak dari tumpukan jerami terlihat beberapa butir telur yang didekapnya erat-erat.

 

Ya.. telur-telur inilah yang digunakan Bu Tarsiyem untuk menyambung kehidupan kami sekeluarga. Telur tersebut kadang dijual untuk uang saku kami berenam ke sekolah dan tak jarang digunakan untuk lauk makan kami sehari-hari.

 

Sudah menjadi pemandangan yang  biasa. Kami dengan enam bersaudara sejak kecil dididik untuk hidup dengan penuh kesederhanaan dan kesehajaan. Sebelum berangkat ke sekolah kami biasanya makan nasi goreng dengan lauk telur mata sapi buatan Bu Tarsiyem.

 

Sebelum subuh biasanya Bu Tarsiyem  sudah bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan kami. Beberapa telur ayam dibenturkan ke wajan penggorengan. Baru satu per satu setelahnya diletakkan di wajan penggorengan hingga menyerupai telur mata sapi.

 

Dengan cekatan diletakkanya telur mata sapi itu di atas piring dan sebakul nasi putih siap untuk menemani sarapan kami. Syukur yang luar biasa kami rasakan waktu itu. Masakan yang dibuat dengan hati akan sampai juga ke hati, begitulah orang bijak berkata. Begitu nikmatnya telur mata sapi ini hingga kami tak beranjak dari meja makan.

 

Alangkah sedapnya masakan itu seakan masih terasa cita rasanya hingga kami sekarang sudah beranjak dewasa dan menjadi orang tua. Ya telur mata sapi itu dulu pernah mendewasakan kami dengan protein yang terkandung di dalamnya. Ya telur mata sapi inilah yang menjadi batas usia Bu Tarsiyem dengan ajalnya. Lompatan peristiwa itu mengkristal dalam benak kami. Lompatan peristiwa itu  seolah olah hadir kembali menemani kami  dalam hidup yang tidak pasti di tengah-tengah naiknya harga kebutuhan pokok yang tiada berujung dan berpangkal.

 

“Yah…, aku berangkat sekolah dulu yah”  kata anak tertuaku setelah memakai seragam kebanggaan sekolahnya.

Baca Juga :  Rembulan Tertusuk Ilalang

 

Ndak sarapan dulu, Din. Sini sarapan bareng ayah”.

 

“Ahh.. telur mata sapi lagi”, bosan yah..! mendengar jawaban itu  aku sangat kecewa.

 

Padahal, dulu telur mata sapi ini yang biasa kami makan. Entahlah anak zaman sekarang suka yang instan pun soal makanan juga milih makan yang instan dan cepat saji. Tak berapa lama disulurkan tanganya untuk minta restu dan mencium tangan kananku lalu bergegas meninggalkan meja makan.

Telur mata sapi masih tergeletak di atas piring. Seakan tahu kekecewaanku yang terpendam. Wajahnya berangsur angsur kisut setelah kutinggalkan ke belakang rumah beberapa jam lamanya.

 

Setelah anakku berangkat ke sekolah, wajah Bu Tarsiyem tampak timbul tenggelam di tengah telur mata sapi di meja makan. Dulu saat musim penghujan biasanya beliau menerima uang buruh tanam padi di sawah Pak Karto, Lurah kami yang sawahnya berhektare-hektare tapi terkenal angkuh. Pagi betul Bu Tarsiyem  berangkat ke sawah pagi itu. Takut kalau ditinggalkan teman-temanya sesama buruh tanam padi yang sudah bersiap di pos ronda.

Ia berlari lari kecil lewat jalan desa yang masih gelap. Tubuh Bu Tarsiyem melintasi pematang sawah yang berkelok-kelok sejauh puluhan kilometer  untuk sampai ke sawah Pak Karto. Dengan sisa-sisa cahaya bulan yang masih menggantung ia berjalan. Kakinya sudah mulai  keriput itu akhirnya sampai pula  di sawah pak lurah.

 

Tanganya yang  lincah berjibakku dengan benih tanaman padi yang disiapkan sejak sore oleh Lurah Karto. Benih tanaman padi inilah yang ditanam hingga matahari berangsur ke tepian barat. Saat matahari di atas kepala, Bu Tarsiyem dan teman-temanya  menepi ke pematang sawah  untuk istirahat dengan makan nasi bungkus yang disiapkan Bu Lurah Karto.

 

Sebungkus nasi bali dengan satu telur mata sapi dan ditambah kerupuk, bagi Bu Tarsiyem makanan ini  beliau anggap makanan  yang istimewa. Sebungkus makanan yang disiapakan Bu Karto dilahap habis untuk mengganjal perutnya yang keroncongan. Sebuah telur mata sapi disisakannya untuk oleh-oleh kami  saat pulang nanti.

 

Begitupun hari-hari yang lain ibu selalu menyisakan  telur mata sapi untuk anak-anaknya di rumah. Lamunanku mulai pudar saat gerimis tiba-tiba turun kembali saat siang bolong. Ternyata hujan masih bersambung gerutuku sambil menata antena televisi yang mulai rapuh dimakan usia. Dari balik jendela aku melihat awan tebal datang menggumpal di atas langit. Gumpalan awan kadang membentuk dua bola mata besar lalu berubah bentuk menjadi seekor naga hitam dengan ekornya yang panjang.

 

Gerimis berderet panjang di atas genteng sambil terdengar suara bersahutan. Kadang datang dengan cepat lalu berhenti. Kadang  pula stagnan dengan irama yang sama. Pada, saat hujan gerimis di salah satu stasiun televisi swasta  ditayangkan sebuah berita yang menyesakkan dada kami. Selaku orang kecil yang setiap hari dihimpit masalah ekonomi terasa sangat berat. BBM naik dari harga normal dan akan diberlakukan Selasa depan.

Baca Juga :  Si Puter

 

Kenaikan harga BBM pasti akan berimbas pada kebutuhan pokok yang lain. Reaksi terhadap kenaikan harga BBM tersebut disambut dengan demo mahasiswa di penjuru tanah air menolak kenaikkan harga BBM tersebut. Alasan pemerintah menaikkan harga tersebut demi stabilitas nasional. Ah entahlah…hanya sebutir telur mata sapi yang bisa menjawab kenaikkan harga BBM saat ini.

 

Aku berjalan mondar-mandir dari  ruang tamu ke halaman rumah. Daun-daun berguguran diterpa angin dan hujan pun belum beranjak  reda. Sepasang burung terukur yang bertengger di pohon depan rumahku terpaksa harus berpindah tempat. Mereka mencari perlindungan  dari terpaan angin dan hujan. Mereka berjuang untuk mendapatkan makanan demi anaknya yang ditinggalkannya  di sarang pohon mahoni.

 

Bagi sepasang burung tekukur beberapa biji jagung yang tersimpan di tembolok sudah cukup untuk mengenyangkan perut anak-anaknya di rumah. Bukan keserakahan dan ketamakan seperti kita manusia yang tidak pandai bersyukur menerima pemberian dari yang maha pemberi rezeki.

 

Azan Ashar  sayup-sayup berkumandang lewat corong masjid. Seruan kemenangan itu telah datang. Ajakkan untuk menjadi hamba yang tunduk dan berpasrah diri pada Sang Khalik telah datang. “Janganlah kalian takut dan gelisah, sesungguhnya Allah bersama kita”, kata Kiai Mustofa sebelum jemaah Ashar dimulai.

 

Sejurus kemudian jamaah tenggelam dalam kekhusyukkan bertemu dengan Sang Khalik. Zikir mulai bergemuruh memuji kebesaran dan karunia-Nya. Lantunanya mengokohkan kembali keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT sang maha kuasa.

 

Sepulang dari masjid, kulihat kembali telur mata sapi di meja makan. Aku melihat wajah Bu Tarsiyem tergambar jelas di kuning telur yang mulai mengering. Senyumnya tumpah ruah di seluruh isi rumah. Wajah yang dulu begitu perhatian kepada kami. Kisah kesederhanaan hidup dan perjuanganya dalam membesarkan kami menjadi orang-orang yang sukses adalah sebuah keniscayaan yang tak dapat dipungkiri. Telur mata sapi dan kenaikan harga BBM menjadi isyarat tentang kesederhanaan dan keserakahan manusia.

Asap tebal membubung tinggi dari rumah Pak Karto. Bangunan yang berlantai dua  dan  berdiri kokoh di desa kami itu dilalap jago merah. Api diduga berasal dari penimbunan jeriken BBM yang disimpan dalam rumahnya. Berpuluh-puluh jeriken sudah hangus terbakar.

 

Orang-orang berlarian memadamkan api dengan alat seadanya. Tak ada yang tersisa dari bangunan itu. Tinggal rangka kayu jati yang terlihat menghitam dan jatuh tersungkur ke tanah. Bersamaan jatuhnya rangka atap rumah yang hangus itu tubuh Pak Karto terpanggang sambil memegang jeriken yang tak utuh lagi. (*)

Artikel Terkait

Sang Guru

Tanah Makam Simpang Jalan

Rembulan Tertusuk Ilalang

Menziarahimu

Jalan Melingkar

Most Read

Artikel Terbaru

Raperda Pesantren di Meja DPRD

APBD 2023 Ditetapkan Rp 2,2 Triliun

Pamerkan Busana dari Batik Blora

Dijanjikan Penerbangan Tahun Depan


/