alexametrics
23.7 C
Bojonegoro
Thursday, August 18, 2022

Oleh: Fahrul Khakim *

Kota tanpa Perahu

- Advertisement -

KAKEK memintaku untuk belajar membuat perahu sebelum dia meninggal ketika banjir melanda ibukota tujuh tahun lalu. Sama seperti kakek dulu, ketika banjir melanda lagi, aku masih tak bisa berenang.

Seminggu setelah kembang api bergemerlapan di langit ibukota, hujan menitik tiada henti. Seolah kami mencairkan awan-awan bergelembung air bah di angkasa. Banjir melanda tak berselang lama. Keluar dari selokan-selokan buntu. Situ dan tanggul tak lagi sanggup membendung. Got-got tersesak pedih, tersumbat aneka macam kolesterol kemarau.

 

Aku menatap ujung langit tak menyisakan harapan tentang banjir yang menyusut. Kaki, lutut, perut, dada, hingga leher dilalap air keruh terus mengalir dari kali renta di berbagai sudut kota. Rembulan tak lebih indah dari bingar jalanan dipenuhi lampu sebelum segalanya tenggelam. Di atap rumah, segala jelaga langit tampak mau tumpah.

 

- Advertisement -

Mendiang kakek tak akan pernah merindukan pemandangan seperti ini. Suasana sepaceklik ini. Tapi, kakek barangkali lebih menderita ketika liang lahatnya dibekam air bah berhari-hari. Bayangkan saja mayat ringkih itu pastilah nyaris mengambang di kuburannya yang sempit. Menghimpit tubuhnya sudah begitu kurus dan renta ketika dulu beliau dimakamkan.

 

Aku sempat memimpikan mendengar mayat kakek mengumpat lalu berjalan keluar mengungsi dari makamnya yang kacau. Kurapatkan tubuhku menghalau dingin di atap rumah sambil memandang rembulan terlihat begitu ganjil dengan tatapannya pedih. Mungkin karena tak ada bintang menemaninya malam itu, hanya sekumpulan gas timbal dari embusan mesin-mesin kota ini.

 

Air di bawah atap hanya terdiam, seperti cermin usang pembawa luka. Pemisah kenyataan dengan keinginan. Aku enggan menghitung berapa banyak dubur got mengambang di sana selain kesunyian membusuk bersama temaram merkuri.

 

Jangan pernah kau bertanya kenapa kami semua lupa cara tersenyum? Senyum hanya mitos bagai negeri-negeri dengan seribu debu yang menggantung di antara mata dan hujan. Kau tak akan mengingat bentuk bibirmu ketika di sekelilingmu bibir-bibir bernanah dari wajah sungai mengerubungimu.

 

Satu-satunya hal kau dan aku butuhkan adalah perahu. Mungkin senyum itu seperti perahu. Bagai Nuh memperoleh ilham membuat perahu amat besar dan suci, demi menyelamatkan kehidupan taat pada Yang Maha Makrifat. Bagi kami, perahu adalah ilham terlambat datang ketika sungai menunjukkan kemarahan semakin mengerikan. Kami teramat lalai menghitung alamanda musim, terlena pada kemarau.

 

Jadilah aku bertanya-tanya pada keluhan semu mendingan kakek. Dia tak akan pernah lagi menikmati banjir menyelimuti segala hal sudah menyedihkan di wajah ibu. Seperti kakek tahu, ibuku tak pernah mengeluh. Walau tiap tahun harus menguras peluh yang sama. Ketegaran ibu terpatut jelas di wajahnya kusam dan basah. Sesekali linglung sambil menenteng timba bocor ibu bertanya padaku,

 

“Benarkah kakekmu tak pernah mengajarimu membuat perahu?”

Baca Juga :  Belum Terima Pemberitahuan Kampanye Terbuka

 

“Tidak. Kukira beliau dulu mengajari ibu.”

 

Ibu menggeleng, kecewa. “Tidak, kukira dulu ayahmu belajar banyak darinya.”

 

“Tidak, Bu. Kakek tak tahu cara membuat perahu. Leluhur kita menulis resep perahu dalam botol kertas lalu membuangnya ke laut. Tak pernah kembali, tak ada mau berenang mengambil botol itu. Seperti ketika ayah meninggalkan ibu untuk kursi kekuasaan. Walau kita tinggal satu kota, dia tak pernah mau belajar melepaskan penderitaan kita. Dia tetap meninggalkan kita dengan seribu debu dalam kubangan air ini.”

 

“Kau benar, Nak. Tapi, aku yakin ayahmu tak pernah melupakan kita. Dia hanya terlalu sibuk mengurus seluruh kota dan pelosok negara ini.” Sungut ibu, lagi-lagi membela ayahku kesekian kalinya. Sampai aku ingin meminum seluruh air di kota ini karena begitu tragisnya melihat harapan ibu yang mubazir.

 

Kami berusaha mengingat-ingat bentuk perahu, seperti merangkai sebuah senyuman tanpa melihat cermin. Adakah kau tahu kita tak pernah menyadari ada sejuta molekul rumit mendesak bagai air bah ketika kebingungan menerjang kami? Terlebih ketika dentuman hujan meluberkan sungai menjadi raksasa menggasak tanah dalam hitungan detik. Sementara ibu dan aku masih memperdebatkan kepayahan kakek yang engan belajar berenang.

 

Lihatlah, segala terlihat hanya atap-atap dekil tak menyisakan asa. Jadi kuputuskan tetap diam menunggu sampai beduk subuh berbunyi. Ibu masih menenteng ember bocornya sambil menggigil pias. Rambutnya semakin masai karena tak mandi berhari-hari. Baunya sudah jangan ditanya, basin. Aku tak mau berdekatan dengannya karena bisa membuatku menenggelamkan hidung dalam air bah yang kotor ini.

 

Ayahku pastilah duduk di kursinya hangat di pencakar langit sana. Ibu berpesan aku tak boleh iri pada ayah karena akulah nanti akan menggantikan tugas ibu ketika ibu wafat. Tapi, aku tak mau. Beban itu terlalu berat. Ibuku kuanggap sebagai wanita terkuat di dunia saja tampak begitu ringkih menghadapi semua kekacauan ini sendirian.

 

Sementara ayahku membiarkan berbagai macam barang memenuhi rumah kami ketika ibu berjuang mempertahankan agar kakinya tetap tegak. Apa aku membenci ayah? Tidak, ibuku bilang ayah akan membangun rumah lebih indah, tapi ibu harus lebih banyak berkorban. Terima pasrah ketika ayah menaruh berbagai barang baru di dalam rumah kami sampai-sampai hampir membuat kami sesak napas. Insomnia sepanjang hari.

 

Aku tak mau menjadi penerus ibu. Untuk itulah, kupilih merenungi nasib di atap rumah daripada membantu ibu membuang air dengan embernya yang bocor. Ibu tahu aku sedang merajuk. Aku sudah menentang takdir ini sejak dua tahun terakhir.

 

Sebenarnya aku tak pernah ingin menambahi beban ibu. Tapi, aku tak pernah menginginkan jabatan itu. Aku ingin ayah melihat keadaan kami lebih dekat, rapat, dan erat. Biar kami hadapi ini sama-sama. Ketika air bah menerjang, ayah hanya mengirim mi instan dan selimut tak memberi kehangatan sempurna. Jadi kami semakin menggigil sepanjang malam. Koreng meradang kaki-kaki dekil kami sampai lecet-lecet.

Baca Juga :  Mbah Rembun

 

Sekali lagi, iri pada ayah tak ada gunanya. Sepatu kulit ayah cemerlang tak akan tersentuh air bah, apalagi kulit kakinya yang bersih dan mulus.

 

Rembulan itu menatapku semakin pucat ketika kulirik wajah lelah ibu di depan rumah. Kusadari rembulan itu bukan bersedih melihatku, tapi lihatlah…. ibu menyeka pelipisnya berpeluh debu. Sapu tangan kumal ibu juga menyeka air mata ibu berwarna cokelat. Ibu menjatuhkan ember bocornya dengan putus asa. Dia menoleh ke arahku dengan nanap.

 

Segera kuhindari tatapan ibu. Kutatap hitam malam dan air bah tenang di kejauhan. Mataku mendadak ikut basah. Aku tahu dalam hati, ibu sudah berteriak memanggilku berkali-kali. Pembicaraan kami pastilah akan jadi perdebatan panjang tak berujung. Seperti ketika ibuku kembali memaksaku kemarin. Padahal aku ingin menjadi ayah. Ibu menamparku karena merasa itu menyalahi kodrat. Masih terngiang jelas episode sengit kemarin.

 

“Kau harus melanjutkan tugas ibu, Nak. Tulang ibu sudah remuk semua.”

 

“Tidak, Bu. Aku ingin seperti ayah saja. Aku tak kuat dengan banjir, koreng, dan diare.”

 

“Tapi kamu perempuan. Kau dikodratkan jadi ibu.”

 

“Aku tidak mau jadi ibu untuk tugas ibu. Aku ingin jadi ibu yang lain.”

 

Tangan lembut ibu menghajar pipiku. Mata ibu menyiratkan penyesalan mendalam seketika. Mulutku terkunci pedih. Segera aku berlari ke atap dan tak pernah turun lagi sampai hari ini.

 

Sebelum aku sampai atap, ibu sudah mencegahku pergi.

 

“Sadarlah, Nak. Ibumu sudah tua. Di dunia ini hanya ada ibukota. Kitalah ditakdirkan untuk itu. Menjadi ibu bagi kota pusat negara ini. Biarlah ayahmu mengurus masalah negara karena dia sudah dilahirkan sebagai politik. Bidangmu bukan di sana, Nak.”

 

Aku tak pernah menyahut lagi. Terus menatap langit dan menyembunyikan air mata penyesalan terus bergulir dari pelupuk. Penyesalan berisi kutukan dan kekecewaan pada nasib ibukota dalam diri perempuan telah melahirkanku. Ibu tak pernah tahu aku menangis untuk setiap gayung ember bocor sebagai usahanya mengusir banjir. Sia-sia.

 

Kakek, maafkan aku. Aku tak bisa belajar membuat perahu. Kakek lupa, hanya lelehur kita pernah menjadi pelaut. Bukan kakek, ibu, atau pun aku yang lagi-lagi menyambut kedatangan tamu pageblog ini dengan kebingungan yang sama. (*)

 

 

*) Dosen Jurusan Sejarah, Universitas Negeri Malang. Buku terbarunya: Artefak Rindu (Jagat Litera, 2021).

KAKEK memintaku untuk belajar membuat perahu sebelum dia meninggal ketika banjir melanda ibukota tujuh tahun lalu. Sama seperti kakek dulu, ketika banjir melanda lagi, aku masih tak bisa berenang.

Seminggu setelah kembang api bergemerlapan di langit ibukota, hujan menitik tiada henti. Seolah kami mencairkan awan-awan bergelembung air bah di angkasa. Banjir melanda tak berselang lama. Keluar dari selokan-selokan buntu. Situ dan tanggul tak lagi sanggup membendung. Got-got tersesak pedih, tersumbat aneka macam kolesterol kemarau.

 

Aku menatap ujung langit tak menyisakan harapan tentang banjir yang menyusut. Kaki, lutut, perut, dada, hingga leher dilalap air keruh terus mengalir dari kali renta di berbagai sudut kota. Rembulan tak lebih indah dari bingar jalanan dipenuhi lampu sebelum segalanya tenggelam. Di atap rumah, segala jelaga langit tampak mau tumpah.

 

- Advertisement -

Mendiang kakek tak akan pernah merindukan pemandangan seperti ini. Suasana sepaceklik ini. Tapi, kakek barangkali lebih menderita ketika liang lahatnya dibekam air bah berhari-hari. Bayangkan saja mayat ringkih itu pastilah nyaris mengambang di kuburannya yang sempit. Menghimpit tubuhnya sudah begitu kurus dan renta ketika dulu beliau dimakamkan.

 

Aku sempat memimpikan mendengar mayat kakek mengumpat lalu berjalan keluar mengungsi dari makamnya yang kacau. Kurapatkan tubuhku menghalau dingin di atap rumah sambil memandang rembulan terlihat begitu ganjil dengan tatapannya pedih. Mungkin karena tak ada bintang menemaninya malam itu, hanya sekumpulan gas timbal dari embusan mesin-mesin kota ini.

 

Air di bawah atap hanya terdiam, seperti cermin usang pembawa luka. Pemisah kenyataan dengan keinginan. Aku enggan menghitung berapa banyak dubur got mengambang di sana selain kesunyian membusuk bersama temaram merkuri.

 

Jangan pernah kau bertanya kenapa kami semua lupa cara tersenyum? Senyum hanya mitos bagai negeri-negeri dengan seribu debu yang menggantung di antara mata dan hujan. Kau tak akan mengingat bentuk bibirmu ketika di sekelilingmu bibir-bibir bernanah dari wajah sungai mengerubungimu.

 

Satu-satunya hal kau dan aku butuhkan adalah perahu. Mungkin senyum itu seperti perahu. Bagai Nuh memperoleh ilham membuat perahu amat besar dan suci, demi menyelamatkan kehidupan taat pada Yang Maha Makrifat. Bagi kami, perahu adalah ilham terlambat datang ketika sungai menunjukkan kemarahan semakin mengerikan. Kami teramat lalai menghitung alamanda musim, terlena pada kemarau.

 

Jadilah aku bertanya-tanya pada keluhan semu mendingan kakek. Dia tak akan pernah lagi menikmati banjir menyelimuti segala hal sudah menyedihkan di wajah ibu. Seperti kakek tahu, ibuku tak pernah mengeluh. Walau tiap tahun harus menguras peluh yang sama. Ketegaran ibu terpatut jelas di wajahnya kusam dan basah. Sesekali linglung sambil menenteng timba bocor ibu bertanya padaku,

 

“Benarkah kakekmu tak pernah mengajarimu membuat perahu?”

Baca Juga :  Antara Aku, Seorang Cengkau dan Pelunasan Wayang Darimu

 

“Tidak. Kukira beliau dulu mengajari ibu.”

 

Ibu menggeleng, kecewa. “Tidak, kukira dulu ayahmu belajar banyak darinya.”

 

“Tidak, Bu. Kakek tak tahu cara membuat perahu. Leluhur kita menulis resep perahu dalam botol kertas lalu membuangnya ke laut. Tak pernah kembali, tak ada mau berenang mengambil botol itu. Seperti ketika ayah meninggalkan ibu untuk kursi kekuasaan. Walau kita tinggal satu kota, dia tak pernah mau belajar melepaskan penderitaan kita. Dia tetap meninggalkan kita dengan seribu debu dalam kubangan air ini.”

 

“Kau benar, Nak. Tapi, aku yakin ayahmu tak pernah melupakan kita. Dia hanya terlalu sibuk mengurus seluruh kota dan pelosok negara ini.” Sungut ibu, lagi-lagi membela ayahku kesekian kalinya. Sampai aku ingin meminum seluruh air di kota ini karena begitu tragisnya melihat harapan ibu yang mubazir.

 

Kami berusaha mengingat-ingat bentuk perahu, seperti merangkai sebuah senyuman tanpa melihat cermin. Adakah kau tahu kita tak pernah menyadari ada sejuta molekul rumit mendesak bagai air bah ketika kebingungan menerjang kami? Terlebih ketika dentuman hujan meluberkan sungai menjadi raksasa menggasak tanah dalam hitungan detik. Sementara ibu dan aku masih memperdebatkan kepayahan kakek yang engan belajar berenang.

 

Lihatlah, segala terlihat hanya atap-atap dekil tak menyisakan asa. Jadi kuputuskan tetap diam menunggu sampai beduk subuh berbunyi. Ibu masih menenteng ember bocornya sambil menggigil pias. Rambutnya semakin masai karena tak mandi berhari-hari. Baunya sudah jangan ditanya, basin. Aku tak mau berdekatan dengannya karena bisa membuatku menenggelamkan hidung dalam air bah yang kotor ini.

 

Ayahku pastilah duduk di kursinya hangat di pencakar langit sana. Ibu berpesan aku tak boleh iri pada ayah karena akulah nanti akan menggantikan tugas ibu ketika ibu wafat. Tapi, aku tak mau. Beban itu terlalu berat. Ibuku kuanggap sebagai wanita terkuat di dunia saja tampak begitu ringkih menghadapi semua kekacauan ini sendirian.

 

Sementara ayahku membiarkan berbagai macam barang memenuhi rumah kami ketika ibu berjuang mempertahankan agar kakinya tetap tegak. Apa aku membenci ayah? Tidak, ibuku bilang ayah akan membangun rumah lebih indah, tapi ibu harus lebih banyak berkorban. Terima pasrah ketika ayah menaruh berbagai barang baru di dalam rumah kami sampai-sampai hampir membuat kami sesak napas. Insomnia sepanjang hari.

 

Aku tak mau menjadi penerus ibu. Untuk itulah, kupilih merenungi nasib di atap rumah daripada membantu ibu membuang air dengan embernya yang bocor. Ibu tahu aku sedang merajuk. Aku sudah menentang takdir ini sejak dua tahun terakhir.

 

Sebenarnya aku tak pernah ingin menambahi beban ibu. Tapi, aku tak pernah menginginkan jabatan itu. Aku ingin ayah melihat keadaan kami lebih dekat, rapat, dan erat. Biar kami hadapi ini sama-sama. Ketika air bah menerjang, ayah hanya mengirim mi instan dan selimut tak memberi kehangatan sempurna. Jadi kami semakin menggigil sepanjang malam. Koreng meradang kaki-kaki dekil kami sampai lecet-lecet.

Baca Juga :  Biografi Kartu Lebaran

 

Sekali lagi, iri pada ayah tak ada gunanya. Sepatu kulit ayah cemerlang tak akan tersentuh air bah, apalagi kulit kakinya yang bersih dan mulus.

 

Rembulan itu menatapku semakin pucat ketika kulirik wajah lelah ibu di depan rumah. Kusadari rembulan itu bukan bersedih melihatku, tapi lihatlah…. ibu menyeka pelipisnya berpeluh debu. Sapu tangan kumal ibu juga menyeka air mata ibu berwarna cokelat. Ibu menjatuhkan ember bocornya dengan putus asa. Dia menoleh ke arahku dengan nanap.

 

Segera kuhindari tatapan ibu. Kutatap hitam malam dan air bah tenang di kejauhan. Mataku mendadak ikut basah. Aku tahu dalam hati, ibu sudah berteriak memanggilku berkali-kali. Pembicaraan kami pastilah akan jadi perdebatan panjang tak berujung. Seperti ketika ibuku kembali memaksaku kemarin. Padahal aku ingin menjadi ayah. Ibu menamparku karena merasa itu menyalahi kodrat. Masih terngiang jelas episode sengit kemarin.

 

“Kau harus melanjutkan tugas ibu, Nak. Tulang ibu sudah remuk semua.”

 

“Tidak, Bu. Aku ingin seperti ayah saja. Aku tak kuat dengan banjir, koreng, dan diare.”

 

“Tapi kamu perempuan. Kau dikodratkan jadi ibu.”

 

“Aku tidak mau jadi ibu untuk tugas ibu. Aku ingin jadi ibu yang lain.”

 

Tangan lembut ibu menghajar pipiku. Mata ibu menyiratkan penyesalan mendalam seketika. Mulutku terkunci pedih. Segera aku berlari ke atap dan tak pernah turun lagi sampai hari ini.

 

Sebelum aku sampai atap, ibu sudah mencegahku pergi.

 

“Sadarlah, Nak. Ibumu sudah tua. Di dunia ini hanya ada ibukota. Kitalah ditakdirkan untuk itu. Menjadi ibu bagi kota pusat negara ini. Biarlah ayahmu mengurus masalah negara karena dia sudah dilahirkan sebagai politik. Bidangmu bukan di sana, Nak.”

 

Aku tak pernah menyahut lagi. Terus menatap langit dan menyembunyikan air mata penyesalan terus bergulir dari pelupuk. Penyesalan berisi kutukan dan kekecewaan pada nasib ibukota dalam diri perempuan telah melahirkanku. Ibu tak pernah tahu aku menangis untuk setiap gayung ember bocor sebagai usahanya mengusir banjir. Sia-sia.

 

Kakek, maafkan aku. Aku tak bisa belajar membuat perahu. Kakek lupa, hanya lelehur kita pernah menjadi pelaut. Bukan kakek, ibu, atau pun aku yang lagi-lagi menyambut kedatangan tamu pageblog ini dengan kebingungan yang sama. (*)

 

 

*) Dosen Jurusan Sejarah, Universitas Negeri Malang. Buku terbarunya: Artefak Rindu (Jagat Litera, 2021).

Artikel Terkait

Jeritan Orang Tua

Elegi Pohon Mangga

Foto Keluarga

Tikus

Most Read

Artikel Terbaru


/