alexametrics
23.7 C
Bojonegoro
Thursday, August 18, 2022

Oleh: Yazid Mar’i

Perempuan Pecahan Kaca

- Advertisement -

KEHIDUPAN sosial memang terkadang begitu kejam. Bahkan membuat manusia terkadang lebih berharga dibanding makhluk lain. Lebih-lebih di mata lelaki hidung belang.

 

Hujan malam itu dengan takdir Tuhan memaksanya berhenti di sebuah kedai kopi terletak di perbatasan antara dua kota.

 

“Kopi Mbak!”  Pinta Aldin sambil meletakkan ranselnya sedikit basah di dekatnya.

- Advertisement -

 

Sebatang sigaret tinggal tiga batang itu diambilnya dan disulutnya dengan korek api sembari menunggu kopi masak.

 

Monggo Pak!” ucap perempuan kuning langsat dengan perawakan atletis dan rambut lurus “rebonding” sambil meletakkan cangkir kopi di depannya.

 

“Sendirian Mbak?” Aldin mencoba membuka percakapan. Meski tampak cantik, tetapi guratan-guratan wajah menyimpan kesedihan itu, tak bisa disembunyikan.

 

“Sudah lama buka kedainya Mbak?” Aldin meneruskan pertanyaan dengan sikap penuh keakraban, seperti telah kenal sebelumnya.

“Selepas tamat SMA pak!” jawab perempuan itu dengan sedikit centil plus genit.

 

“Terpaksa pak! kalau ada pekerjaan lebih baik dan menjanjikan, tentu akan saya tinggalkan. Berat pak.”

 

“Kok berat?” Aldin bertanya balik.

 

“Semenjak Bapak meninggal, ibu sakit-sakitan, keluar-masuk rumah sakit. Tentu biaya tidak sedikit. Belum lagi harus membiayai sekolah  adikku baru kelas 1 SMP. Terkadang juga terpaksa harus menemani orang untuk bernyanyi, bahkan mereka sambil meneguk minuman keras. Lumayan yang penting halal, meski rasa takut menyelimuti diri.”

 

Perempuan itupun menghentikan ucapannya, saat Aldin menuangkan kopi ke lepeknya. Mungkin suatu pernghormatan harus dilakukan sebagai seorang penjual kepada pembeli.

 

“Kok sepi ya?” tanya Aldin dengan sedikit basa-basi.

Perempuan itupun melanjutkan ceritanya dengan air mata berlinang keluar di kedua matanya.

 

“Kehawatiranku pun terjadi Pak. Seorang pejabat di sebuah kabupaten sedikit aku mengenalnya, di luar dugaanku telah memasukkan obat ke dalam minuman yang membuatku tak sadarkan diri dan begitu terbangun sudah tak selembar kainpun tersisa ditubuhku’’ ujarnya dengan kata-kata tersedu.

 

Pejabat bejat! Begitu umpatku. Melupakan kekesalanku pada meja kaca yang pecah, menancap di lambung kiriku dan hampir merenggut nyawaku. Untung saja adikku datang, berteriak histeris, hingga didengar tetangga dan membawaku ke puskesmas terdekat. Sejak itu hidupku seperti tak ada harganya lagi. Seluruh tetangga mencibir bahkan menstigmaku sebagai perempuan lacur.

 

“Belum genap setahun sepeninggal Bapak, ibu menyusul. Tuhan memanggilnya begitu cepat. Mungkin karena syok mendengar peristiwa menimpaku dan beban berat akan stigma perempuan lacur menyebar tak terbendung,” ucap perempuan penjaja kopi di kedai itu melanjutkan kisahnya.

 

Hujan sedikit reda dan sigaret pun tinggal sebatang. Perasaan iba Aldin sebagai manusia pun menyeruak dan memaksanya suatu saat dapat memberikan solusi alternatif. Baginya tidak ada manusia berkeinginan untuk menjadi jelek, jahat, dan nista atau dinistakan.

Baca Juga :  Flores

Bukankah manusia dicipta sebagai makhluk terbaik dan cenderung melakukan kebaikan. Hanya lingkungan, waktu, serta kekuatan angin yang membuatnya keluar dari eksistensi kemanusiaannya. Begitu hati Aldin berbisik.

 

“Mbak, berapa? Kopi, tahu goreng 5, tanya Aldin sebelum meninggalkan kedai itu. “Rp 5.000. Njih, sampun kersa mampir. Ngapunten mbok bilih ngucewakne pajenengan,”  ucap perempuan itu dengan bahasa Jawa khas, sambil mengembalikan kelebihan uang kertas Aldin pecahan Rp 15.000.

 

Namun, Aldin meminta agar sisa uang tidak perlu dikembalikan. Aldin bergegas mengambil ransel dan menenteng di punggungnya untuk meninggalkan kedai itu. Semoga Tuhan segera memberimu kehidupan lebih baik suatu hari nanti, bisik hati Aldin pada Tuhannya sebelum meninggalkan kedai kopi itu.

 

Kedai kopi dan sekaligus rumah, saksi sejarah saat berteduh dari hujan malam itu sudah tak lagi dia temui. Kondisi sekitar terlihat tampak tak terawat. Rumput gajah hampir memenuhi kanan kiri kedai.

 

Rasa penasaran Aldin pun membuatnya mencari tahu kepada pemilik warung kopi berada di samping kedai kopi telah berubah menjadi rumah tak berpenghuni.

‘’Wonten kopi mbah. Wonten gus (sebutan untuk anak atau  orang laki-laki),’’ jawab si mbah.

 

“Kopi radi pahit, gendhise kedik mawon,” pinta Aldin dengan bahasa Jawa lugu menandakan kesopanan pada nenek tersebut.

Sembari menunggu kopi masak, ia mengambil jajanan baginya dapat menambah rasa nikmat kopi, kacang goreng bungkus kertas warna-warni. Jajanan mengigatkanya masa kecil dulu saat neneknya pulang dari pasar.

 

Secangkir kopi pun tiba. Aldin dengan seksama menuangkan kopi, dan memulai ngobrol dengan si Mbah perihal perempuan penjual kopi di kedai itu. Satu per satu si mbah memulai ceritanya.

“Sudah pindah, tiga bulan lalu Gus. Kasihan, rumahnya diminta saudara misan bapaknya. Sebenarnya jika diruntut, sama-sama tidak punya hak memiliki. Karena rumah itu dulunya adalah rumah saudara dari nenek Bapaknya.”

 

Sak niki teng pundi larene (sekarang dimana dia tinggal)? Aldin menyela cerita simbah.

 

“Hidup manusia terkadang seperti peristiwa sulit dinalar akal. Kehidupan kejam dan terjal membuatnya melupakan semuanya. Sekolah agama yang dimulai dari dasar hingga MA seperti tidak lagi berbekas,’’ tuturnya.

 

Kasihan orang tuanya, tapi juga tidak bisa disalahkan 100 persen. Peristiwa yang membuatnya direnggut kegadisannya oleh seorang pejabat bejat, membuatnya seperti ingin menumpahkan dendamnya pada semua lelaki hidung belang.

 

Baginya hidup adalah bagaimana mampu mengambil sebanyak mungkin lembaran-lembaran kertas dan mengumpulkannya untuk mendapatkan kesenangan dengan mudah meski sesaat.

Baca Juga :  Tikus

 

Apa boleh buat, stigma perempuan lacur pada dirinya telah berhembus di seluruh masyarakat dusun, seperti tidak ada sedikitpun kebaikan tersisa.

 

Ia sudah memiliki apartemen mewah di kota sebelah, mobil mewah yang ditempati bersama adiknya. Bahkan kabarnya “langganannya” para pejabat, kontraktor, dan politisi ibu kota. Harganya tidak main-main Rp 10 juta sampai Rp 50 juta sekali naik.

 

“Ha ha ha ha, saget mawon jenengan ki Mbah,” ujar Aldin tertawa geli, menanggapi cerita si Mbah.  “Astagfirullahal adim”.

 

Rasa bersalah Aldin sebagai manusia atas manusia makin memenuhi pikirannya, selepas mendengarkan cerita si Mbah pemilik warung kopi bersebelahan dengan perempuan penjual di kedai kopi, saat berteduh dari hujan enam bulan silam.

 

Keinginannya untuk menolongnya dari kubangan lumpur hitam, minimal sedikit mendapatkan jawaban, setelah tanpa sengaja bertemu dengan seorang tetangga bercerita banyak tentang perempuan yang hilang.

 

Seorang lelaki ditemuinya tidak lain tetangga dekat, yang tampaknya mengetahui persis keberadaan perempuan itu.

 

“Alhamdulillah, Pak! Tuhan mempertemukannya dengan orang baik-baik dan ingin memperlakukannya dengan baik. Ya, mungkin berkat ketulusan dan baktinya dengan ibunya.” Lelaki itu mulai membuka ceritanya.

 

“Oh ya?” Aldin sedikit penasaran, hingga tak sabar untuk mendengar lanjutan ceritanya.

 

“Saat sedang menemani seseorang untuk bernyanyi, seseorang kabarnya akan menikahinya bulan depan. Saya hanya bisa berdoa semoga semuanya lancar dan tak ada alar melintang, hingga dapat mengantarnya berikrar di depan penghulu,” sambung lelaki itu.

 

Kabar yang hampir 100 persen kebenarannya. Lelaki yang akan menikahinya adalah seorang kontraktor ibu kota, yang kebetulan sedang mengerjakan proyek besar di kabupaten ini. Tampaknya ia orang baik-baik, dan serius ingin menjadikannya orang baik.

Bahkan adiknya yang sempat lost contac, dapat ditemukan saat bersama dengan anak jalanan di kota sebelah, hari ini telah kembali melanjutkan studi.

 

‘’Iya Mas. Siapapun tak bisa melawan takdir Tuhan. Kita sering menjumpai orang baik, namun dalam kurun masa berubah menjadi tidak baik dan jahat.’’

 

‘’Banyak pula kita menjumpai orang kurang baik, kurang beruntung, namun siklus waktu memutarnya menjadi orang baik dan beruntung. Moga keberutungan perempuan itu menjadi perempuan lebih baik di masa mendatang, hingga cinta Tuhan abadi selamanya,’’ demikian harapan Aldin sekaligus membuat perasaannya  lega atas perasaan bersalahnya sebagai manusia. (*)

 

Kopi Sore Selogabus, 3 Juni 2022.

 

*Warga Bojonegoro pecinta sastra dan kebijakan publik.

KEHIDUPAN sosial memang terkadang begitu kejam. Bahkan membuat manusia terkadang lebih berharga dibanding makhluk lain. Lebih-lebih di mata lelaki hidung belang.

 

Hujan malam itu dengan takdir Tuhan memaksanya berhenti di sebuah kedai kopi terletak di perbatasan antara dua kota.

 

“Kopi Mbak!”  Pinta Aldin sambil meletakkan ranselnya sedikit basah di dekatnya.

- Advertisement -

 

Sebatang sigaret tinggal tiga batang itu diambilnya dan disulutnya dengan korek api sembari menunggu kopi masak.

 

Monggo Pak!” ucap perempuan kuning langsat dengan perawakan atletis dan rambut lurus “rebonding” sambil meletakkan cangkir kopi di depannya.

 

“Sendirian Mbak?” Aldin mencoba membuka percakapan. Meski tampak cantik, tetapi guratan-guratan wajah menyimpan kesedihan itu, tak bisa disembunyikan.

 

“Sudah lama buka kedainya Mbak?” Aldin meneruskan pertanyaan dengan sikap penuh keakraban, seperti telah kenal sebelumnya.

“Selepas tamat SMA pak!” jawab perempuan itu dengan sedikit centil plus genit.

 

“Terpaksa pak! kalau ada pekerjaan lebih baik dan menjanjikan, tentu akan saya tinggalkan. Berat pak.”

 

“Kok berat?” Aldin bertanya balik.

 

“Semenjak Bapak meninggal, ibu sakit-sakitan, keluar-masuk rumah sakit. Tentu biaya tidak sedikit. Belum lagi harus membiayai sekolah  adikku baru kelas 1 SMP. Terkadang juga terpaksa harus menemani orang untuk bernyanyi, bahkan mereka sambil meneguk minuman keras. Lumayan yang penting halal, meski rasa takut menyelimuti diri.”

 

Perempuan itupun menghentikan ucapannya, saat Aldin menuangkan kopi ke lepeknya. Mungkin suatu pernghormatan harus dilakukan sebagai seorang penjual kepada pembeli.

 

“Kok sepi ya?” tanya Aldin dengan sedikit basa-basi.

Perempuan itupun melanjutkan ceritanya dengan air mata berlinang keluar di kedua matanya.

 

“Kehawatiranku pun terjadi Pak. Seorang pejabat di sebuah kabupaten sedikit aku mengenalnya, di luar dugaanku telah memasukkan obat ke dalam minuman yang membuatku tak sadarkan diri dan begitu terbangun sudah tak selembar kainpun tersisa ditubuhku’’ ujarnya dengan kata-kata tersedu.

 

Pejabat bejat! Begitu umpatku. Melupakan kekesalanku pada meja kaca yang pecah, menancap di lambung kiriku dan hampir merenggut nyawaku. Untung saja adikku datang, berteriak histeris, hingga didengar tetangga dan membawaku ke puskesmas terdekat. Sejak itu hidupku seperti tak ada harganya lagi. Seluruh tetangga mencibir bahkan menstigmaku sebagai perempuan lacur.

 

“Belum genap setahun sepeninggal Bapak, ibu menyusul. Tuhan memanggilnya begitu cepat. Mungkin karena syok mendengar peristiwa menimpaku dan beban berat akan stigma perempuan lacur menyebar tak terbendung,” ucap perempuan penjaja kopi di kedai itu melanjutkan kisahnya.

 

Hujan sedikit reda dan sigaret pun tinggal sebatang. Perasaan iba Aldin sebagai manusia pun menyeruak dan memaksanya suatu saat dapat memberikan solusi alternatif. Baginya tidak ada manusia berkeinginan untuk menjadi jelek, jahat, dan nista atau dinistakan.

Baca Juga :  SMKN 1 Tatap Muka Senin Depan, Temayang dan Tambakrejo Masih Daring

Bukankah manusia dicipta sebagai makhluk terbaik dan cenderung melakukan kebaikan. Hanya lingkungan, waktu, serta kekuatan angin yang membuatnya keluar dari eksistensi kemanusiaannya. Begitu hati Aldin berbisik.

 

“Mbak, berapa? Kopi, tahu goreng 5, tanya Aldin sebelum meninggalkan kedai itu. “Rp 5.000. Njih, sampun kersa mampir. Ngapunten mbok bilih ngucewakne pajenengan,”  ucap perempuan itu dengan bahasa Jawa khas, sambil mengembalikan kelebihan uang kertas Aldin pecahan Rp 15.000.

 

Namun, Aldin meminta agar sisa uang tidak perlu dikembalikan. Aldin bergegas mengambil ransel dan menenteng di punggungnya untuk meninggalkan kedai itu. Semoga Tuhan segera memberimu kehidupan lebih baik suatu hari nanti, bisik hati Aldin pada Tuhannya sebelum meninggalkan kedai kopi itu.

 

Kedai kopi dan sekaligus rumah, saksi sejarah saat berteduh dari hujan malam itu sudah tak lagi dia temui. Kondisi sekitar terlihat tampak tak terawat. Rumput gajah hampir memenuhi kanan kiri kedai.

 

Rasa penasaran Aldin pun membuatnya mencari tahu kepada pemilik warung kopi berada di samping kedai kopi telah berubah menjadi rumah tak berpenghuni.

‘’Wonten kopi mbah. Wonten gus (sebutan untuk anak atau  orang laki-laki),’’ jawab si mbah.

 

“Kopi radi pahit, gendhise kedik mawon,” pinta Aldin dengan bahasa Jawa lugu menandakan kesopanan pada nenek tersebut.

Sembari menunggu kopi masak, ia mengambil jajanan baginya dapat menambah rasa nikmat kopi, kacang goreng bungkus kertas warna-warni. Jajanan mengigatkanya masa kecil dulu saat neneknya pulang dari pasar.

 

Secangkir kopi pun tiba. Aldin dengan seksama menuangkan kopi, dan memulai ngobrol dengan si Mbah perihal perempuan penjual kopi di kedai itu. Satu per satu si mbah memulai ceritanya.

“Sudah pindah, tiga bulan lalu Gus. Kasihan, rumahnya diminta saudara misan bapaknya. Sebenarnya jika diruntut, sama-sama tidak punya hak memiliki. Karena rumah itu dulunya adalah rumah saudara dari nenek Bapaknya.”

 

Sak niki teng pundi larene (sekarang dimana dia tinggal)? Aldin menyela cerita simbah.

 

“Hidup manusia terkadang seperti peristiwa sulit dinalar akal. Kehidupan kejam dan terjal membuatnya melupakan semuanya. Sekolah agama yang dimulai dari dasar hingga MA seperti tidak lagi berbekas,’’ tuturnya.

 

Kasihan orang tuanya, tapi juga tidak bisa disalahkan 100 persen. Peristiwa yang membuatnya direnggut kegadisannya oleh seorang pejabat bejat, membuatnya seperti ingin menumpahkan dendamnya pada semua lelaki hidung belang.

 

Baginya hidup adalah bagaimana mampu mengambil sebanyak mungkin lembaran-lembaran kertas dan mengumpulkannya untuk mendapatkan kesenangan dengan mudah meski sesaat.

Baca Juga :  Pencari Kroto

 

Apa boleh buat, stigma perempuan lacur pada dirinya telah berhembus di seluruh masyarakat dusun, seperti tidak ada sedikitpun kebaikan tersisa.

 

Ia sudah memiliki apartemen mewah di kota sebelah, mobil mewah yang ditempati bersama adiknya. Bahkan kabarnya “langganannya” para pejabat, kontraktor, dan politisi ibu kota. Harganya tidak main-main Rp 10 juta sampai Rp 50 juta sekali naik.

 

“Ha ha ha ha, saget mawon jenengan ki Mbah,” ujar Aldin tertawa geli, menanggapi cerita si Mbah.  “Astagfirullahal adim”.

 

Rasa bersalah Aldin sebagai manusia atas manusia makin memenuhi pikirannya, selepas mendengarkan cerita si Mbah pemilik warung kopi bersebelahan dengan perempuan penjual di kedai kopi, saat berteduh dari hujan enam bulan silam.

 

Keinginannya untuk menolongnya dari kubangan lumpur hitam, minimal sedikit mendapatkan jawaban, setelah tanpa sengaja bertemu dengan seorang tetangga bercerita banyak tentang perempuan yang hilang.

 

Seorang lelaki ditemuinya tidak lain tetangga dekat, yang tampaknya mengetahui persis keberadaan perempuan itu.

 

“Alhamdulillah, Pak! Tuhan mempertemukannya dengan orang baik-baik dan ingin memperlakukannya dengan baik. Ya, mungkin berkat ketulusan dan baktinya dengan ibunya.” Lelaki itu mulai membuka ceritanya.

 

“Oh ya?” Aldin sedikit penasaran, hingga tak sabar untuk mendengar lanjutan ceritanya.

 

“Saat sedang menemani seseorang untuk bernyanyi, seseorang kabarnya akan menikahinya bulan depan. Saya hanya bisa berdoa semoga semuanya lancar dan tak ada alar melintang, hingga dapat mengantarnya berikrar di depan penghulu,” sambung lelaki itu.

 

Kabar yang hampir 100 persen kebenarannya. Lelaki yang akan menikahinya adalah seorang kontraktor ibu kota, yang kebetulan sedang mengerjakan proyek besar di kabupaten ini. Tampaknya ia orang baik-baik, dan serius ingin menjadikannya orang baik.

Bahkan adiknya yang sempat lost contac, dapat ditemukan saat bersama dengan anak jalanan di kota sebelah, hari ini telah kembali melanjutkan studi.

 

‘’Iya Mas. Siapapun tak bisa melawan takdir Tuhan. Kita sering menjumpai orang baik, namun dalam kurun masa berubah menjadi tidak baik dan jahat.’’

 

‘’Banyak pula kita menjumpai orang kurang baik, kurang beruntung, namun siklus waktu memutarnya menjadi orang baik dan beruntung. Moga keberutungan perempuan itu menjadi perempuan lebih baik di masa mendatang, hingga cinta Tuhan abadi selamanya,’’ demikian harapan Aldin sekaligus membuat perasaannya  lega atas perasaan bersalahnya sebagai manusia. (*)

 

Kopi Sore Selogabus, 3 Juni 2022.

 

*Warga Bojonegoro pecinta sastra dan kebijakan publik.

Artikel Terkait

Jeritan Orang Tua

Elegi Pohon Mangga

Foto Keluarga

Tikus

Most Read

Permintaan CCTV Didominasi Pebisnis

Tak Ada Gugatan Dapil

Tim yang Sama untuk Gua yang Sama

Artikel Terbaru


/