alexametrics
27.4 C
Bojonegoro
Friday, August 12, 2022

CERPEN

Tokoh Cerita yang Membunuh Penulisnya

- Advertisement -

HARI sudah hampir gelap. Haidar masih berkutik dengan laptop hitam di depannya. Cerita yang ia tulis selama satu bulan sudah hampir mencapai tahap finishing. Pada kesempatan kali ini, Haidar tinggal merampungkan dua bab terakhir sebagaimana rencana yang tiba-tiba saja muncul dalam kepala. Rencananya, dua bab itu akan berisi pernikahan Haidar dengan seorang perempuan yang sangat dicintainya.

Sebelumnya, selama proses penulisan cerita berlangsung, banyak pihak ikut mendukung perjalanan Haidar sebagai penulis. Selain doa orang tua setiap malam tak henti-hentinya merayu Tuhan, ada juga sosok perempuan menjadi inspirasi Haidar dalam menulis.

Namanya Zulfa. Dia adalah perempuan kelahiran tanah Madura, rambutnya terurai panjang. Kedua matanya mampu menyihir laki-laki mana saja yang melihatnya. Termasuk Haidar. Perkenalan Haidar dan Zulfa terjadi di awal semester saat keduanya tanpa sengaja di satukan dalam sebuah kelompok diskusi.

Waktu itu, yang paling membuat Haidar tertarik pada Zulfa adalah sifat melekat pada perempuan berdarah Madura itu. Mulai dari pola pikir, gaya bicaranya, dan kebiasaan baca buku di perpustakaan di setiap jam istirahat.

Tak hanya Haidar, laki-laki lain juga menyadari keistimewaan Zulfa. Ia berbeda dari perempuan kebanyakan suka sekali shopping ke mal, suka membicarakan kejelekan orang lain, dan scroll aplikasi TikTok di sela-sela dosen menjelaskan materi di depan kelas.

- Advertisement -

Tapi, Zulfa sosok perempuan aktif dalam kelas. Sering kali argumen ia sampaikan membuat dosen dan teman-temannya kewalahan. Kadang berbentuk ketidaksetujuan pada sebuah teori, kadang berbentuk narasi panjang sulit dipahami. Pernah juga tambahan penjelasan atas apa yang telah disampaikan sebelumnya.

Zulfa tak pernah ragu-ragu mengangkat tangannya dalam kelas. Tak seperti mahasiswi lain pandai berbisik-bisik di belakang. Tapi, saat disuruh mengacungkan tangan dan menyampaikan apa yang dirasakan, mereka malah saling tunjuk dan tak berani tampil di muka umum.

Dari waktu ke waktu, benih-benih cinta yang ada dalam dada Haidar tumbuh semakin subur. Tanpa satu orang pun yang tahu. Ya, kalau masalah hati dan perasaan pada lawan jenis, Haidar tak berani untuk bercerita pada orang lain.

Sebab ia sadar, dengan wajahnya pas-pasan, postur tubuh yang kurang ideal, dan keadaan ekonomi sering kali surut, tentu tak sebanding dengan perempuan-perempuan pernah ditaksir Haidar. Termasuk Zulfa. Sang primadona kampus.

Untuk mengatasi gejolak hati sering kali tak karuan, Haidar memutuskan menulis perasaannya di berbagai media: handphone, laptop, dan kadang di buku kecil warna ungu miliknya. Dengan begitu, Haidar merasa lebih tenang dan serasa curhat ke temannya.

***

Pernah pada suatu ketika, Haidar melihat Zulfa berduaan dengan seorang laki-laki. Waktu itu, Haidar sedang membeli beberapa kebutuhan di Mal Dinoyo City sendirian. Awalnya ia mengajak teman kosnya bernama Edi, namun karena berhubung Edi ada urusan, jadi Haidar terpaksa berangkat sendirian.

Baca Juga :  Bintang Remang-Remang

Haidar awalnya kurang yakin bahwa itu adalah Zulfa, langsung mengambil posisi. Di antara keramaian lalu-lalang orang-orang, Haidar mendekat sambil mengendap-ngendap. Ia ingin memastikan bahwa yang ditangkap kedua matanya adalah Zulfa atau bukan.

Ternyata benar. Ia adalah Zulfa. Sedangkan laki-laki membersamainya, Haidar tak tahu pasti. Yang jelas, jika dilihat dan dinilai secara lebih detail, laki-laki itu lebih tampan darinya. Lebih tinggi darinya, dan postur tubuhnya lebih ideal darinya. Tapi, masalah hati, belum tentu ia lebih unggul.

Tapi, untuk apa hati yang baik? Bukankah sepertinya semua perempuan di dunia ini lebih memilih laki-laki yang good looking dibanding yang baik? Entahlah, mungkin hanya ada segelintir perempuan lebih mementingkan hati dibanding fisik.

Melihat Zulfa tertawa bersamanya, bahagia bersamanya, dan merasa nyaman dengannya, Haidar merasa dadanya ditusuk-tusuk cemburu. Rasanya seperti perih, sesak, dan mungkin sudah hancur struktur organ yang ada dalam dadanya.

Tak berselang lama Haidar langsung pergi. Tak peduli jika seandainya dirinya diketahui baru saja mengintip Zulfa sedang berduaan dengan seseorang. Buat apa? Toh jika seandainya Zulfa tahu, itu tidak akan mengubah apapun. Sepertinya, Zulfa menyukai laki-laki yang levelnya berada di atas Haidar.

***

Begitu sampai di kos, Haidar membuka laptop. Ia menumpahkan apa saja yang bergejolak dalam dada. Dengan cepat kedua tangan Haidar menari-nari di atas keyboard laptopnya tanpa perlu memperhatikan apakah susunan bahasanya sudah enak dibaca atau tidak.

Di hadapan laptopnya, Haidar menjadi pribadi bebas dan lepas dari segala beban. Ia tak pernah ragu menulis cerita berdasarkan kemampuan dan kemauannya sendiri. Tanpa harus memperhatikan etika menulis, etika antar tokoh, dan etika-etika lainnya yang menurut Haidar hanya akan membatasi makna dan gaya kepenulisan.

Biasanya, sebelum menulis di laptop, Haidar terlebih dahulu menulis apa dirasakan dan dipikirkannya di buku kecil. Sehingga, tak heran jika ke mana saja Haidar pergi, ia pasti membawa buku kecil dalam sakunya.

Buku itu berwarna ungu. Haidar sangat ingat, bahwa buku itu adalah serangkaian hadiah ulang tahun dari ibu. Entah apa alasan ibu menyelipkan buku kecil itu dalam hadiah ulang tahunnya. Mungkin, ibu sudah tahu dan melihat bakat menulis dalam diri Haidar.

Untuk menambah nuansa heroik dalam menulis, tak lupa Haidar menambahkan satu cangkir kopi dan satu toples biskuit di sampingnya. Meski tak selalu biskuit, paling tidak ada camilan yang bisa menjadi pembunuh kantuk kadang datang secara tiba-tiba.

Tapi, untuk urusan kopi, itu adalah ritual wajib yang tidak boleh diganti dengan minuman apapun. Yang boleh hanyalah mengganti variasi dari kopi itu sendiri.

Baca Juga :  Foto Keluarga

Sebenarnya, cerita ini dibangun tanpa outline dan alur yang jelas. Haidar hanya mengikuti perkembangan suasana hatinya yang kadang bahagia, dan kadang terluka. Bahagia saat Zulfa tersenyum kepadanya, mau diajak makan bersama di kantin kampus. Dan tak sengaja dikumpulkan dalam satu kelompok dalam sebuah mata kuliah.

Atau sebaliknya, terluka saat melihat Zulfa kembali mesra dengan laki-laki itu, mahasiswa dari jurusan lain. Mendengar penolakan Zulfa karena sudah ada janji dengan laki-laki itu, atau bahkan merasakan bahwa sebenarnya Zulfa hanya ingin berteman dengan Haidar. Tak lebih dari itu.

Karena mungkin sudah terlalu sering merasa sakit, akhirnya Haidar mengubah haluan cerita. Dalam dunia nyata, dirinya yang jelas tak sanggup bersaing dengan laki-laki itu. Namun hal itu berbanding terbalik dengan apa yang ada dalam cerita yang ditulis Haidar.

Di dalam cerita, Haidar berhasil merebut Zulfa dari laki-laki itu. Diawali dengan berita bohong yang Haidar sebar pada Zulfa dan seluruh penduduk kampus tentang laki-laki itu. Ditambah dengan manipulasi peristiwa isinya seolah laki-laki itu berselingkuh di belakang Zulfa, lalu ditambah aksi heroik Haidar di beberapa kesempatan akhirnya berhasil membuat Zulfa merasa aman dan nyaman. Ya, Haidar begitu pintar membolak-balikkan cerita sesuai selera.

***

Hari terus berganti. Cerita yang Haidar tulis dari awal bulan sudah hampir selesai. Bayangan tentang dekorasi nikah, gedung yang megah, dan para tamu undangan mengucapkan selamat atas pernikahannya sudah benar-benar lengkap dalam kepala. Tanpa harus peduli dan memikirkan bagaimana perasaan laki-laki itu.

Namun tak seperti biasanya, tepat saat gelap hampir menyergap, rasa kantuk tiba-tiba menyerang kedua mata Haidar. Ia seperti tak punya kekuatan lagi melanjutkan dan menyelesaikan cerita yang tinggal beberapa paragraf lagi. Akhirnya, Haidar memutuskan menutup laptop dan merebahkan tubuhnya di atas kasur ruang tengah.

Dalam tidurnya terasa singkat, ia seperti kembali terbangun dan mendapati seorang laki-laki sudah berada di depannya. Mata laki-laki itu mengobarkan amarah. Tangan kananya memegang pisau yang menyilaukan kematian.

Haidar tak bisa bergerak. Laki-laki itu terus mendekat. Ketakutan mendekap Haidar. Tak bisa dicegah lagi, akhirnya pisau itu menancap di rongga dada sebelah kiri Haidar. Menembus jantung dan menghapus seluruh harapan yang sudah direncanakan. Setelah itu, Haidar tak bisa merasakan apa-apa lagi. (*)

 

KHOLIL ROHMAN

Alumnus Pondok Pesantren Nurul Jadid dan anggota Komunitas Sastra Titik Koma. Tulisannya dimuat di berbagai media. Saat ini menjadi Murabbi Ma’had Sunan Ampel Al-Aly UIN Malang.

HARI sudah hampir gelap. Haidar masih berkutik dengan laptop hitam di depannya. Cerita yang ia tulis selama satu bulan sudah hampir mencapai tahap finishing. Pada kesempatan kali ini, Haidar tinggal merampungkan dua bab terakhir sebagaimana rencana yang tiba-tiba saja muncul dalam kepala. Rencananya, dua bab itu akan berisi pernikahan Haidar dengan seorang perempuan yang sangat dicintainya.

Sebelumnya, selama proses penulisan cerita berlangsung, banyak pihak ikut mendukung perjalanan Haidar sebagai penulis. Selain doa orang tua setiap malam tak henti-hentinya merayu Tuhan, ada juga sosok perempuan menjadi inspirasi Haidar dalam menulis.

Namanya Zulfa. Dia adalah perempuan kelahiran tanah Madura, rambutnya terurai panjang. Kedua matanya mampu menyihir laki-laki mana saja yang melihatnya. Termasuk Haidar. Perkenalan Haidar dan Zulfa terjadi di awal semester saat keduanya tanpa sengaja di satukan dalam sebuah kelompok diskusi.

Waktu itu, yang paling membuat Haidar tertarik pada Zulfa adalah sifat melekat pada perempuan berdarah Madura itu. Mulai dari pola pikir, gaya bicaranya, dan kebiasaan baca buku di perpustakaan di setiap jam istirahat.

Tak hanya Haidar, laki-laki lain juga menyadari keistimewaan Zulfa. Ia berbeda dari perempuan kebanyakan suka sekali shopping ke mal, suka membicarakan kejelekan orang lain, dan scroll aplikasi TikTok di sela-sela dosen menjelaskan materi di depan kelas.

- Advertisement -

Tapi, Zulfa sosok perempuan aktif dalam kelas. Sering kali argumen ia sampaikan membuat dosen dan teman-temannya kewalahan. Kadang berbentuk ketidaksetujuan pada sebuah teori, kadang berbentuk narasi panjang sulit dipahami. Pernah juga tambahan penjelasan atas apa yang telah disampaikan sebelumnya.

Zulfa tak pernah ragu-ragu mengangkat tangannya dalam kelas. Tak seperti mahasiswi lain pandai berbisik-bisik di belakang. Tapi, saat disuruh mengacungkan tangan dan menyampaikan apa yang dirasakan, mereka malah saling tunjuk dan tak berani tampil di muka umum.

Dari waktu ke waktu, benih-benih cinta yang ada dalam dada Haidar tumbuh semakin subur. Tanpa satu orang pun yang tahu. Ya, kalau masalah hati dan perasaan pada lawan jenis, Haidar tak berani untuk bercerita pada orang lain.

Sebab ia sadar, dengan wajahnya pas-pasan, postur tubuh yang kurang ideal, dan keadaan ekonomi sering kali surut, tentu tak sebanding dengan perempuan-perempuan pernah ditaksir Haidar. Termasuk Zulfa. Sang primadona kampus.

Untuk mengatasi gejolak hati sering kali tak karuan, Haidar memutuskan menulis perasaannya di berbagai media: handphone, laptop, dan kadang di buku kecil warna ungu miliknya. Dengan begitu, Haidar merasa lebih tenang dan serasa curhat ke temannya.

***

Pernah pada suatu ketika, Haidar melihat Zulfa berduaan dengan seorang laki-laki. Waktu itu, Haidar sedang membeli beberapa kebutuhan di Mal Dinoyo City sendirian. Awalnya ia mengajak teman kosnya bernama Edi, namun karena berhubung Edi ada urusan, jadi Haidar terpaksa berangkat sendirian.

Baca Juga :  Pencari Kroto

Haidar awalnya kurang yakin bahwa itu adalah Zulfa, langsung mengambil posisi. Di antara keramaian lalu-lalang orang-orang, Haidar mendekat sambil mengendap-ngendap. Ia ingin memastikan bahwa yang ditangkap kedua matanya adalah Zulfa atau bukan.

Ternyata benar. Ia adalah Zulfa. Sedangkan laki-laki membersamainya, Haidar tak tahu pasti. Yang jelas, jika dilihat dan dinilai secara lebih detail, laki-laki itu lebih tampan darinya. Lebih tinggi darinya, dan postur tubuhnya lebih ideal darinya. Tapi, masalah hati, belum tentu ia lebih unggul.

Tapi, untuk apa hati yang baik? Bukankah sepertinya semua perempuan di dunia ini lebih memilih laki-laki yang good looking dibanding yang baik? Entahlah, mungkin hanya ada segelintir perempuan lebih mementingkan hati dibanding fisik.

Melihat Zulfa tertawa bersamanya, bahagia bersamanya, dan merasa nyaman dengannya, Haidar merasa dadanya ditusuk-tusuk cemburu. Rasanya seperti perih, sesak, dan mungkin sudah hancur struktur organ yang ada dalam dadanya.

Tak berselang lama Haidar langsung pergi. Tak peduli jika seandainya dirinya diketahui baru saja mengintip Zulfa sedang berduaan dengan seseorang. Buat apa? Toh jika seandainya Zulfa tahu, itu tidak akan mengubah apapun. Sepertinya, Zulfa menyukai laki-laki yang levelnya berada di atas Haidar.

***

Begitu sampai di kos, Haidar membuka laptop. Ia menumpahkan apa saja yang bergejolak dalam dada. Dengan cepat kedua tangan Haidar menari-nari di atas keyboard laptopnya tanpa perlu memperhatikan apakah susunan bahasanya sudah enak dibaca atau tidak.

Di hadapan laptopnya, Haidar menjadi pribadi bebas dan lepas dari segala beban. Ia tak pernah ragu menulis cerita berdasarkan kemampuan dan kemauannya sendiri. Tanpa harus memperhatikan etika menulis, etika antar tokoh, dan etika-etika lainnya yang menurut Haidar hanya akan membatasi makna dan gaya kepenulisan.

Biasanya, sebelum menulis di laptop, Haidar terlebih dahulu menulis apa dirasakan dan dipikirkannya di buku kecil. Sehingga, tak heran jika ke mana saja Haidar pergi, ia pasti membawa buku kecil dalam sakunya.

Buku itu berwarna ungu. Haidar sangat ingat, bahwa buku itu adalah serangkaian hadiah ulang tahun dari ibu. Entah apa alasan ibu menyelipkan buku kecil itu dalam hadiah ulang tahunnya. Mungkin, ibu sudah tahu dan melihat bakat menulis dalam diri Haidar.

Untuk menambah nuansa heroik dalam menulis, tak lupa Haidar menambahkan satu cangkir kopi dan satu toples biskuit di sampingnya. Meski tak selalu biskuit, paling tidak ada camilan yang bisa menjadi pembunuh kantuk kadang datang secara tiba-tiba.

Tapi, untuk urusan kopi, itu adalah ritual wajib yang tidak boleh diganti dengan minuman apapun. Yang boleh hanyalah mengganti variasi dari kopi itu sendiri.

Baca Juga :  Adu Strategi Dua Pelatih Malang

Sebenarnya, cerita ini dibangun tanpa outline dan alur yang jelas. Haidar hanya mengikuti perkembangan suasana hatinya yang kadang bahagia, dan kadang terluka. Bahagia saat Zulfa tersenyum kepadanya, mau diajak makan bersama di kantin kampus. Dan tak sengaja dikumpulkan dalam satu kelompok dalam sebuah mata kuliah.

Atau sebaliknya, terluka saat melihat Zulfa kembali mesra dengan laki-laki itu, mahasiswa dari jurusan lain. Mendengar penolakan Zulfa karena sudah ada janji dengan laki-laki itu, atau bahkan merasakan bahwa sebenarnya Zulfa hanya ingin berteman dengan Haidar. Tak lebih dari itu.

Karena mungkin sudah terlalu sering merasa sakit, akhirnya Haidar mengubah haluan cerita. Dalam dunia nyata, dirinya yang jelas tak sanggup bersaing dengan laki-laki itu. Namun hal itu berbanding terbalik dengan apa yang ada dalam cerita yang ditulis Haidar.

Di dalam cerita, Haidar berhasil merebut Zulfa dari laki-laki itu. Diawali dengan berita bohong yang Haidar sebar pada Zulfa dan seluruh penduduk kampus tentang laki-laki itu. Ditambah dengan manipulasi peristiwa isinya seolah laki-laki itu berselingkuh di belakang Zulfa, lalu ditambah aksi heroik Haidar di beberapa kesempatan akhirnya berhasil membuat Zulfa merasa aman dan nyaman. Ya, Haidar begitu pintar membolak-balikkan cerita sesuai selera.

***

Hari terus berganti. Cerita yang Haidar tulis dari awal bulan sudah hampir selesai. Bayangan tentang dekorasi nikah, gedung yang megah, dan para tamu undangan mengucapkan selamat atas pernikahannya sudah benar-benar lengkap dalam kepala. Tanpa harus peduli dan memikirkan bagaimana perasaan laki-laki itu.

Namun tak seperti biasanya, tepat saat gelap hampir menyergap, rasa kantuk tiba-tiba menyerang kedua mata Haidar. Ia seperti tak punya kekuatan lagi melanjutkan dan menyelesaikan cerita yang tinggal beberapa paragraf lagi. Akhirnya, Haidar memutuskan menutup laptop dan merebahkan tubuhnya di atas kasur ruang tengah.

Dalam tidurnya terasa singkat, ia seperti kembali terbangun dan mendapati seorang laki-laki sudah berada di depannya. Mata laki-laki itu mengobarkan amarah. Tangan kananya memegang pisau yang menyilaukan kematian.

Haidar tak bisa bergerak. Laki-laki itu terus mendekat. Ketakutan mendekap Haidar. Tak bisa dicegah lagi, akhirnya pisau itu menancap di rongga dada sebelah kiri Haidar. Menembus jantung dan menghapus seluruh harapan yang sudah direncanakan. Setelah itu, Haidar tak bisa merasakan apa-apa lagi. (*)

 

KHOLIL ROHMAN

Alumnus Pondok Pesantren Nurul Jadid dan anggota Komunitas Sastra Titik Koma. Tulisannya dimuat di berbagai media. Saat ini menjadi Murabbi Ma’had Sunan Ampel Al-Aly UIN Malang.

Artikel Terkait

Elegi Pohon Mangga

Foto Keluarga

Tikus

Flores

Most Read

Artikel Terbaru


/