alexametrics
30.7 C
Bojonegoro
Monday, May 16, 2022

Oleh: Ichwan Arifin *

Mengetuk Pintu Surga

Awalnya, aku tidak serius menanggapi ajakan Dimas pergi umrah. Aku merasa belum sampai titik akhir pencarian jalan spiritual. “Kayaknya belum siap saat ini,” tolakku halus. Dimas tak menyerah. ”Bro, kamu kan udah sering pergi ke luar negeri. Nah, anggap aja ini perjalanan yang sama,” ujarnya. Tidak mau berdebat lebih lanjut, akhirnya aku bilang, “Iya deh, aku pikirin dulu.”

 

DIMAS Ario Imanullah, sahabat sejak SMA. Selepas kuliah, kami berbisnis bersama. Aku kenal dekat keluarganya. Orang tuanya memperlakukanku seperti anaknya sendiri. Makan, minum, dan numpang tidur di rumahnya sudah biasa.

 

Aku dekat dengan Ayunda Felicia, adiknya semata wayang. Sebagai bungsu, kasih sayang orang tua dan kakaknya tercurah padanya. Kasih sayang itu semakin menggumpal saat mengetahui adiknya sakit berkepanjangan. Secara fisik tidak terlihat kekurangan apapun. Tubuhnya sempurna. Kulit putih bersih. Cantik dengan mata bening. Namun, kondisi badannya rapuh, mudah lelah, sering sakit. Tidak diketahui penyakit dan penyebabnya.

 

Mereka keluarga muslim taat. Ayahnya tokoh terpandang intelektual muslim. Aku berbeda pandangan dalam memaknai spiritualitas dan agama. Namun, mereka tidak pernah mencampuri, menggurui atau menghakimi pandangan dan sikapku.

 

Mereka paham, ada hal membuatku seperti itu. Meninggalnya ayahku sebagai momen mengguncangkan hidup. Selain itu, aku merasa dalam pencarian keimanan. “Bro, bagiku, keimanan itu bukan warisan, tapi hasil pencarian diri sendiri. Spiritualitas itu suatu ruang batin sekaligus sebuah perjalanan. Bukan pemberhentian, bukan pula tempat akan dituju. Jadi sangat dinamis,” kataku.

 

Dimas cuma tersenyum. Ia setuju, spiritualitas itu tidak hanya memberikan pengalaman rohani dan hubungan paling dekat antara manusia dan penciptaNya, tapi juga konteks manusia dan kehidupan sosialnya.

 

Hiruk-pikuk dan kegaduhan kehidupan keberagamaan membuatku skeptis terhadap agama. Saat ngobrol dengan Ayunda aku bertanya, “Kenapa sih orang-orang mengaku kaum beragama itu mudah baperan? Sedikit-dikit tersinggung. Mudah mengkafirkan orang, melabeli penista agama bahkan terhadap orang seagama hanya karena berbeda pandangan. Bukankah itu justru merefleksikan rasa kebencian bertolak belakang dengan konsep rakhmat bagi seluruh umat?,” kataku.

 

“Yap, itu betul Mas Dewa. Menurutku, agama memiliki dua sisi. Pertama, eksoteris, terefleksikan ritual normatif. Kedua, esoteris memuat makna dibalik ritual tersebut. Misalnya, ritual kurban dimaknai simbol ketakwaan melalui penyerahan sesuatu kita miliki untuk kemaslahatan orang banyak. Sekaligus mendekatkan spiritualitas dengan Tuhan. Bukan sekadar memperingati kisah Ismail atau momen pesta dengan makan daging kurban. Namun, kadang kita lebih sibuk ngurusin sisi eksoteris aja, kayak celana cingkrang, jilbab dan sebagainya dari pada kesejatian iman. Nah, imbas keberagamaan hanya fokus sisi eksoteris, bikin pola keagamaan menjadi kering. Mudah baperan dan emosional,” jelasnya.

 

Aku setuju dengan pemikirannya. Apalagi, Ayunda menjelaskan dengan sangat menarik. Nadanya lembut dan tidak terkesan menceramahi. “Ih, diajak ngomong malah ngelamun. Jelek ah!” Ia merajuk sambil mencubit lenganku. Meruntuhkan tatapan mataku pada perempuan sedang beranjak dewasa itu.

Baca Juga :  Pion-Pion yang Menggerakkan

 

Sekian tahun silam, aku mengenalnya sebagai gadis kecil lucu. Saat ini, menjelma menjadi perempuan dewasa cantik, menarik, dan cerdas. Perasaan sayang, tanpa sadar tumbuh. Namun, aku tidak melangkah lebih lanjut. Khawatir merusak hubungan sudah baik dengan Dimas dan orang tuanya.

 

**

 

Akhirnya, kuputuskan menerima ajakan umrah. Sekalian “take a break” urusan kerja. Selain mereka berdua, orang tuanya dan sebagian keluarga besarnya juga berangkat. Mereka mengurus semua persiapan teknisnya, termasuk memilih biro perjalanan yang bagus.

 

Agendanya tidak hanya umrah, namun dirangkai ke Istanbul dan beberapa kota lainnya di Turki. Menikmati keindahan tempat-tempat menarik, seperti Hagia Sophia, Kota Tua Istanbul, Grand Bazaar, Masjid Biru, dan sebagainya. Mungkin dengan “itinerary” seperti itu, mereka ingin membuatku merasa nyaman. Adaptasi batiniah sebelum umrah.

 

Aku menyukai sejarah, jadi sangat menikmati perjalanan itu. Di Hagia Sophia, aku menunjukkan pada Ayunda Felicia, satu bukti bagaimana sebuah tempat menjadi ajang perebutan dan klaim atas nama yang suci. Arsitektur bangunan itu sangat indah. Mulai dibangun sekitar 537 Masehi sebagai Katedral Ortodoks. Dinamai Hagia Sophia, Sancta Sapientia atau Kebijaksanaan Yang Suci. Tempat kedudukan Patriark Ekumenis Konstantinopel.

 

Pada masa Perang Salib, berubah menjadi Katedral Katolik Roma. Setelah kekuasaan jatuh ke tangan Kesultanan Utsmani, bangunan itu diubah menjadi masjid. Dijadikan museum setelah Dinasti Utsmani tumbang dan Turki menjadi republik di bawah Mustafa Kemal Pasha. Di kemudian hari, saat Tayyib Erdogan berkuasa, Hagia Sophia diubah lagi menjadi masjid.

 

“Kecuali rejim Mustafa Kemal, semua penguasa Turki hendak menempatkan bangunan itu sebagai tempat suci, pemujaan kepada Tuhan sesuai keyakinannya. Seolah menegasikan keyakinan yang lain.” Kataku sambil menunjuk langit-langit dan sebagian dinding Hagia Sophia masih dihiasi kaligrafi Alquran dan lukisan beberapa momen suci dalam keyakinan Kristiani.

 

“Ah, dasar sekuler, tetap aja sudut pandangnya gak berubah,” tukas Ayunda merajuk. Dimas hanya tersenyum melihat adiknya terus berdebat denganku.

 

***

 

Sekitar satu minggu di Turki, kami melanjutkan ke Arab Saudi melalui Madinah. Sampai di kota ini, suasana berubah. Semua orang dalam rombongan ini fokus ibadah. Hari-hari banyak dihabiskan di Masjid Nabawi yang dibangun Nabi Muhammad SAW.

 

Sejalan perkembangan zaman, masjid ini banyak direnovasi. Arsitekturnya begitu indah. Bangunannya megah, nyaman, begitu besar hingga mampu menampung ribuan orang. Halamannya dilengkapi payung raksasa bisa dibuka tutup. Meski sangat luas, namun tetap terasa penuh. Apalagi di area masjid disebut dengan “Raudlah” atau Taman Surga. Tidak begitu luas, namun diyakini sebagai tempat paling afdal berdoa. Kulihat sebagian jemaah saling berebutan masuk. Ada juga berlama-lama di dalamnya, meskipun tahu, masih banyak jemaah lain ingin berdoa di tempat itu juga.

Baca Juga :  Lamban, Verifikasi PBI-JKN secara Manual

 

Banyak orang beribadah hanya menggapai kenikmatan sendiri. Cenderung egois, seperti ingin memonopoli surga. Fenomena sama juga kulihat di Makkah. Saat tawaf, ritual mengelilingi Kakbah. Sebagian jemaah berebut mencium Hajar Aswad tanpa peduli dengan yang lain.

 

“Egoisme spiritual itu menyamakan kebahagiaan dengan kenikmatan, dan menempatkannya sebagai tujuan hidup. Laku ibadah seperti itu, dapat terjebak jadi hedonisme spiritual,” ujar Ayunda.

 

Aku setuju dengan pendapatnya. Karena itu, aku tidak memaksakan diri mencium Hajar Aswad jika harus menyingkirkan paksa jemaah lainnya.

 

Saat kali pertama melihat Kakbah, aku merasakan getaran emosional. Cerita keagamaan saat kecil, membentuk pemahaman tentang Kakbah, Makkah dan tempat-tempat suci itu seperti nun jauh di sana. Hanya terjangkau dalam dongeng. Saat bisa menyentuhnya secara langsung, tanpa kusadari, air mata menetes.

 

Perasaan campur aduk. Merasakan kebesaran Tuhan luar biasa. Momen itu sangat istimewa. Dari lubuk hati, aku berterima kasih pada Dimas, Ayunda dan keluarganya.

 

Hari-hari terakhir di Makkah, kesehatan gadis itu menurun drastis. Namun ia tetap semangat melakukan semua proses umrah, yang menguras energi. Selepas melakukan sa’i dari Safa ke Marwa, staminanya anjlok dan akhirnya tumbang. Suhu badannya panas, lemas dan hanya bisa tergolek di ranjang. Dalam kepanikan dan kesedihan, kulihat semua keluarga besarnya melantunkan doa.

 

Aku duduk terpekur di sudut balkon kamar. Tiba-tiba pundakku disentuh Om Indra, ayahnya. ”Dewa, Ayunda ingin bicara ma kamu,” ujarnya.

 

Aku kaget, cemas sembari berdiri dan mengikuti langkahnya. Gadis itu terbaring lemah di ranjang. Dikelilingi keluarga besarnya. Kulihat mamanya, Tante Pandanwangi, bersimpuh mendaraskan Alquran dengan tangis terisak.

 

Melihatku masuk ruangan, semua menyingkir. Memberi kesempatan pada kami berdua. Kupegang jemari tangannya dengan lembut, ”Tetap kuat Ayunda… Cepat sembuh ya.. Besok kita pulang,” kataku terbata-bata.

 

Ayunda memberi isyarat memintaku mendekat. Ia berusaha keras untuk bicara: ”Mas, aku bahagia melihat kamu bisa umrah. Itulah yang aku inginkan selama ini. Maafkan aku yang suka jail sama Mas… Doakan ya.. aku pulang sekarang….,” bisiknya di telingaku dengan terpatah-patah.

 

Hatiku remuk redam. Kucoba tetap tegar. Kukecup keningnya dan kemudian kubisikkan doa. Ayunda mengikuti dalam nada lirih. Wajahnya semakin memucat namun senyumnya mengembang. Perlahan seluruh badannya menjadi dingin dan kaku.  “Innalillahi wa inna ilayhi raji’un,” ucapku lirih.

 

Dalam perasaanku hancur kulihat cahaya terpancar cerah dalam wajahnya yang teduh dan damai. Semoga Tuhan membuka pintu surgaNya. (*)

 

 

*Makkah, dalam satu masa. Kemiripan nama dan lokasi cerita kebetulan semata.

 

 

 

Ichwan Arifin. Alumnus Pascasarjana Universitas Diponegoro. Intens menulis di sela-sela kesibukan bekerja di satu perusahaan migas. Beragam tulisan fiksi dan nonfiksi telah dimuat di berbagai media massa.

Awalnya, aku tidak serius menanggapi ajakan Dimas pergi umrah. Aku merasa belum sampai titik akhir pencarian jalan spiritual. “Kayaknya belum siap saat ini,” tolakku halus. Dimas tak menyerah. ”Bro, kamu kan udah sering pergi ke luar negeri. Nah, anggap aja ini perjalanan yang sama,” ujarnya. Tidak mau berdebat lebih lanjut, akhirnya aku bilang, “Iya deh, aku pikirin dulu.”

 

DIMAS Ario Imanullah, sahabat sejak SMA. Selepas kuliah, kami berbisnis bersama. Aku kenal dekat keluarganya. Orang tuanya memperlakukanku seperti anaknya sendiri. Makan, minum, dan numpang tidur di rumahnya sudah biasa.

 

Aku dekat dengan Ayunda Felicia, adiknya semata wayang. Sebagai bungsu, kasih sayang orang tua dan kakaknya tercurah padanya. Kasih sayang itu semakin menggumpal saat mengetahui adiknya sakit berkepanjangan. Secara fisik tidak terlihat kekurangan apapun. Tubuhnya sempurna. Kulit putih bersih. Cantik dengan mata bening. Namun, kondisi badannya rapuh, mudah lelah, sering sakit. Tidak diketahui penyakit dan penyebabnya.

 

Mereka keluarga muslim taat. Ayahnya tokoh terpandang intelektual muslim. Aku berbeda pandangan dalam memaknai spiritualitas dan agama. Namun, mereka tidak pernah mencampuri, menggurui atau menghakimi pandangan dan sikapku.

 

Mereka paham, ada hal membuatku seperti itu. Meninggalnya ayahku sebagai momen mengguncangkan hidup. Selain itu, aku merasa dalam pencarian keimanan. “Bro, bagiku, keimanan itu bukan warisan, tapi hasil pencarian diri sendiri. Spiritualitas itu suatu ruang batin sekaligus sebuah perjalanan. Bukan pemberhentian, bukan pula tempat akan dituju. Jadi sangat dinamis,” kataku.

 

Dimas cuma tersenyum. Ia setuju, spiritualitas itu tidak hanya memberikan pengalaman rohani dan hubungan paling dekat antara manusia dan penciptaNya, tapi juga konteks manusia dan kehidupan sosialnya.

 

Hiruk-pikuk dan kegaduhan kehidupan keberagamaan membuatku skeptis terhadap agama. Saat ngobrol dengan Ayunda aku bertanya, “Kenapa sih orang-orang mengaku kaum beragama itu mudah baperan? Sedikit-dikit tersinggung. Mudah mengkafirkan orang, melabeli penista agama bahkan terhadap orang seagama hanya karena berbeda pandangan. Bukankah itu justru merefleksikan rasa kebencian bertolak belakang dengan konsep rakhmat bagi seluruh umat?,” kataku.

 

“Yap, itu betul Mas Dewa. Menurutku, agama memiliki dua sisi. Pertama, eksoteris, terefleksikan ritual normatif. Kedua, esoteris memuat makna dibalik ritual tersebut. Misalnya, ritual kurban dimaknai simbol ketakwaan melalui penyerahan sesuatu kita miliki untuk kemaslahatan orang banyak. Sekaligus mendekatkan spiritualitas dengan Tuhan. Bukan sekadar memperingati kisah Ismail atau momen pesta dengan makan daging kurban. Namun, kadang kita lebih sibuk ngurusin sisi eksoteris aja, kayak celana cingkrang, jilbab dan sebagainya dari pada kesejatian iman. Nah, imbas keberagamaan hanya fokus sisi eksoteris, bikin pola keagamaan menjadi kering. Mudah baperan dan emosional,” jelasnya.

 

Aku setuju dengan pemikirannya. Apalagi, Ayunda menjelaskan dengan sangat menarik. Nadanya lembut dan tidak terkesan menceramahi. “Ih, diajak ngomong malah ngelamun. Jelek ah!” Ia merajuk sambil mencubit lenganku. Meruntuhkan tatapan mataku pada perempuan sedang beranjak dewasa itu.

Baca Juga :  Sumpah Sarmini

 

Sekian tahun silam, aku mengenalnya sebagai gadis kecil lucu. Saat ini, menjelma menjadi perempuan dewasa cantik, menarik, dan cerdas. Perasaan sayang, tanpa sadar tumbuh. Namun, aku tidak melangkah lebih lanjut. Khawatir merusak hubungan sudah baik dengan Dimas dan orang tuanya.

 

**

 

Akhirnya, kuputuskan menerima ajakan umrah. Sekalian “take a break” urusan kerja. Selain mereka berdua, orang tuanya dan sebagian keluarga besarnya juga berangkat. Mereka mengurus semua persiapan teknisnya, termasuk memilih biro perjalanan yang bagus.

 

Agendanya tidak hanya umrah, namun dirangkai ke Istanbul dan beberapa kota lainnya di Turki. Menikmati keindahan tempat-tempat menarik, seperti Hagia Sophia, Kota Tua Istanbul, Grand Bazaar, Masjid Biru, dan sebagainya. Mungkin dengan “itinerary” seperti itu, mereka ingin membuatku merasa nyaman. Adaptasi batiniah sebelum umrah.

 

Aku menyukai sejarah, jadi sangat menikmati perjalanan itu. Di Hagia Sophia, aku menunjukkan pada Ayunda Felicia, satu bukti bagaimana sebuah tempat menjadi ajang perebutan dan klaim atas nama yang suci. Arsitektur bangunan itu sangat indah. Mulai dibangun sekitar 537 Masehi sebagai Katedral Ortodoks. Dinamai Hagia Sophia, Sancta Sapientia atau Kebijaksanaan Yang Suci. Tempat kedudukan Patriark Ekumenis Konstantinopel.

 

Pada masa Perang Salib, berubah menjadi Katedral Katolik Roma. Setelah kekuasaan jatuh ke tangan Kesultanan Utsmani, bangunan itu diubah menjadi masjid. Dijadikan museum setelah Dinasti Utsmani tumbang dan Turki menjadi republik di bawah Mustafa Kemal Pasha. Di kemudian hari, saat Tayyib Erdogan berkuasa, Hagia Sophia diubah lagi menjadi masjid.

 

“Kecuali rejim Mustafa Kemal, semua penguasa Turki hendak menempatkan bangunan itu sebagai tempat suci, pemujaan kepada Tuhan sesuai keyakinannya. Seolah menegasikan keyakinan yang lain.” Kataku sambil menunjuk langit-langit dan sebagian dinding Hagia Sophia masih dihiasi kaligrafi Alquran dan lukisan beberapa momen suci dalam keyakinan Kristiani.

 

“Ah, dasar sekuler, tetap aja sudut pandangnya gak berubah,” tukas Ayunda merajuk. Dimas hanya tersenyum melihat adiknya terus berdebat denganku.

 

***

 

Sekitar satu minggu di Turki, kami melanjutkan ke Arab Saudi melalui Madinah. Sampai di kota ini, suasana berubah. Semua orang dalam rombongan ini fokus ibadah. Hari-hari banyak dihabiskan di Masjid Nabawi yang dibangun Nabi Muhammad SAW.

 

Sejalan perkembangan zaman, masjid ini banyak direnovasi. Arsitekturnya begitu indah. Bangunannya megah, nyaman, begitu besar hingga mampu menampung ribuan orang. Halamannya dilengkapi payung raksasa bisa dibuka tutup. Meski sangat luas, namun tetap terasa penuh. Apalagi di area masjid disebut dengan “Raudlah” atau Taman Surga. Tidak begitu luas, namun diyakini sebagai tempat paling afdal berdoa. Kulihat sebagian jemaah saling berebutan masuk. Ada juga berlama-lama di dalamnya, meskipun tahu, masih banyak jemaah lain ingin berdoa di tempat itu juga.

Baca Juga :  Semburat Merah di Langit Temayang

 

Banyak orang beribadah hanya menggapai kenikmatan sendiri. Cenderung egois, seperti ingin memonopoli surga. Fenomena sama juga kulihat di Makkah. Saat tawaf, ritual mengelilingi Kakbah. Sebagian jemaah berebut mencium Hajar Aswad tanpa peduli dengan yang lain.

 

“Egoisme spiritual itu menyamakan kebahagiaan dengan kenikmatan, dan menempatkannya sebagai tujuan hidup. Laku ibadah seperti itu, dapat terjebak jadi hedonisme spiritual,” ujar Ayunda.

 

Aku setuju dengan pendapatnya. Karena itu, aku tidak memaksakan diri mencium Hajar Aswad jika harus menyingkirkan paksa jemaah lainnya.

 

Saat kali pertama melihat Kakbah, aku merasakan getaran emosional. Cerita keagamaan saat kecil, membentuk pemahaman tentang Kakbah, Makkah dan tempat-tempat suci itu seperti nun jauh di sana. Hanya terjangkau dalam dongeng. Saat bisa menyentuhnya secara langsung, tanpa kusadari, air mata menetes.

 

Perasaan campur aduk. Merasakan kebesaran Tuhan luar biasa. Momen itu sangat istimewa. Dari lubuk hati, aku berterima kasih pada Dimas, Ayunda dan keluarganya.

 

Hari-hari terakhir di Makkah, kesehatan gadis itu menurun drastis. Namun ia tetap semangat melakukan semua proses umrah, yang menguras energi. Selepas melakukan sa’i dari Safa ke Marwa, staminanya anjlok dan akhirnya tumbang. Suhu badannya panas, lemas dan hanya bisa tergolek di ranjang. Dalam kepanikan dan kesedihan, kulihat semua keluarga besarnya melantunkan doa.

 

Aku duduk terpekur di sudut balkon kamar. Tiba-tiba pundakku disentuh Om Indra, ayahnya. ”Dewa, Ayunda ingin bicara ma kamu,” ujarnya.

 

Aku kaget, cemas sembari berdiri dan mengikuti langkahnya. Gadis itu terbaring lemah di ranjang. Dikelilingi keluarga besarnya. Kulihat mamanya, Tante Pandanwangi, bersimpuh mendaraskan Alquran dengan tangis terisak.

 

Melihatku masuk ruangan, semua menyingkir. Memberi kesempatan pada kami berdua. Kupegang jemari tangannya dengan lembut, ”Tetap kuat Ayunda… Cepat sembuh ya.. Besok kita pulang,” kataku terbata-bata.

 

Ayunda memberi isyarat memintaku mendekat. Ia berusaha keras untuk bicara: ”Mas, aku bahagia melihat kamu bisa umrah. Itulah yang aku inginkan selama ini. Maafkan aku yang suka jail sama Mas… Doakan ya.. aku pulang sekarang….,” bisiknya di telingaku dengan terpatah-patah.

 

Hatiku remuk redam. Kucoba tetap tegar. Kukecup keningnya dan kemudian kubisikkan doa. Ayunda mengikuti dalam nada lirih. Wajahnya semakin memucat namun senyumnya mengembang. Perlahan seluruh badannya menjadi dingin dan kaku.  “Innalillahi wa inna ilayhi raji’un,” ucapku lirih.

 

Dalam perasaanku hancur kulihat cahaya terpancar cerah dalam wajahnya yang teduh dan damai. Semoga Tuhan membuka pintu surgaNya. (*)

 

 

*Makkah, dalam satu masa. Kemiripan nama dan lokasi cerita kebetulan semata.

 

 

 

Ichwan Arifin. Alumnus Pascasarjana Universitas Diponegoro. Intens menulis di sela-sela kesibukan bekerja di satu perusahaan migas. Beragam tulisan fiksi dan nonfiksi telah dimuat di berbagai media massa.

Artikel Terkait

Kota tanpa Perahu

Biografi Kartu Lebaran

Mbah Rembun

Gara-Gara Tetangga Baru

Hantu

Most Read

Artikel Terbaru

/