alexametrics
29.9 C
Bojonegoro
Thursday, May 19, 2022

Oleh : Nono Warnono *

Hantu

SETIAP kali rasa takutnya menghebat, dapat dipastikan Samingun harus menenggak berbagai obat. Baik pil, kapsul, dan sirup dari resep dokter dibeli di apotek. Hingga berbagai racikan jamu herbal didengarnya dari berbagai iklan radio. Produk obat rasa-rasanya manjur kata bualannya, daripada khasiat sesungguhnya.

 

Herannya penyakit yang diderita, penyebabnya bukan karena salah mengonsumsi makanan pantangan. Juga bukan tertular virus dari penderita lain. Namun, faktor takut berlebihan menjadi sebab penyakitnya semakin akut. Tak aneh jika, keluar masuk rumah sakit sudah tak terbilang banyaknya.

 

Pasangan Samingun-Markonah sisa generasi sahaja menua bersama. Hidup rajin dan tekun mengolah atau ngemonah sawah dengan menerima pasrah seberapapun hasil didapat. Di tengah lingkungan damai diliputi kejujuran, kebersamaan dan kegotongroyongan. Hingga datangnya mimpi-mimpi emas hitam menyemburkan harapan, meski akhirnya menghempaskannya keluar dari tanah kelahiran.

 

Tambang minyak, awalnya menjadikan orang-orang sahaja bereuforia karena tanah sekitar mahal harganya. Masih ditambah janji-janji pepesan kosong tentang masa depan anak-anaknya. Samingun-Markonah kini menyesal. Tanah kelahiran terjual. Anak cucunya jadi panji klanthung. Pengangguran. Hanya menonton cerobong minyak menyala siang dan malam. Kini Samingun, dulu petani tulen nan kuat kekar  kini menua dan sakit-sakitan.

 

Markonah istrinya, sering terheran menghadapi kenyataan aneh. Lama menelisik berbagai kemungkinan, namun nihil jawaban. Tak tahu apa sebab gerangan, Samingun akhir-akhir ini mengidap rasa takut berlebihan. Rasa tertekan kejiwaan disembunyikan meski acapkali ditanyakan.

 

“Kenapa tiba-tiba rasa takut itu sering menghantuimu, Pakne,” tanya Markonah suatu kesempatan.

 

“Nggak ada apa-apa kok, Nah,” bantah Samingun lirih.

 

“Sudahlah Nah, jangan dibuat masalah. Kita ini sudah tua. Jalani saja yang ada,” ujar Samingun menenangkan istrinya.

 

“Yang jadi masalah, setiap kali rasa takut itu datang sampeyan tiba-tiba terjangkit bermacam penyakit, Pakne” kejar Markonah dengan nada meninggi.

 

Mendapat serangan kalimat memojokkan, Samingun terdiam. Dasar lelaki sahaja itu tak banyak omong. Tidak berkata-kata jika tak ditanya. Tidak ngomong jika tidak terpaksa. Nek ora ditabuh ora muni, kata unen-unen jawa. Menjadikan istrinya kebingungan jika terjadi hal-hal tak diinginkan.

 

Terlebih jika rasa ketakutan itu menyerang, penyakit komplikasinya kambuh. Ada asam lambung, paru-paru, tekanan darah tinggi. Bahkan terakhir jantungnya sering bermasalah. Lagi-lagi faktor penyebab dominan rasa takut berlebihan.

 

Dulu ketika sawah tegalnya belum terjual. Lingkungan desanya gelap dikepung hutan, tanpa listrik penerang. Banyak grumbul rerimbunan, kuburan seram menakutkan. Pantas rasa takut bergelayut ketika malam.

 

Tapi kini, hutan sudah gundul karena pembalakan. Sawah pekarangan hilang digulung tambang minyak besar-besaran. Orang-orang sudah meninggalkan kampung halaman. Tanah tempat tinggal telah ditukar uang. Pilih beli lahan baru dekat perkotaan. Kenapa masih ketakutan? Malah semakin banyak terserang rasa cemas berlebihan?

 

Tempat keramat dan angker sudah tiada dan ditinggalkan hantu. Tak ada lagi pocongan, jerangkong, banaspati, sundelbolong, glundung pringis, dan ondar-andir. Semua sudah tiada. Mengapa masih juga banyak yang percaya, bangsa lelembut mengganggu ketenteraman manusia? Bukankah gedung-gedung industri pertambangan dan cerobong minyak justru jadi memedi menakutkan?

Memang dulu ketika masih muda, Samingun dan Markonah takutnya pada gendruwo dan kuntilanak. Hantu lokal sering penampakan dekat sungai dan rerimbunan pohon angker. Kini semua sudah padang jingglang. Desa-kota suasananya sudah tak berbeda siang dan malam. Lampu penerangan umum maupun kerlap-kerlip lampu hias taman.

 

Rasanya memang bukan bangsa lelembut menjadikan pemicu rasa takut. Bukan alam misteri dan kejadian horor kerap meneror. Hingga suatu waktu Markonah menyelidik pada anak menantunya bekerja di luar kota. Hanya pulang sebulan sekali. Karena setiap kali menyelidik anak perempuannya yang tinggal serumah dan kerja di pabrik rokok, juga tidak mendapatkan informasi yang sebenarnya.

Baca Juga :  Membuat Kerajinan Perabotan Rumah Tangga Berbahan Kayu secara Manual

“Mi, apa kira-kira menjadi sebab bapakmu ketakutan selama ini?” tanya Markonah pada Supadmi anaknya.

 

“Aku gak ngerti mbok. Lha tiap hari tidak di rumah, kerja di pabrik rokok,” sahut Supadmi ketus.

 

“Simbokmu ini, tiap hari jualan di pasar, Mi. Tidak tahu keadaan di rumah bagaimana!?”

 

“Ditanyakan sendiri ke bapak ta, Mbok.”

 

“Tiap saya tanya, bapakmu tak mau berterus terang. Lebih sering diam. Suka menyembunyikan yang dialami”.

 

Semakin hari Markonah resah gelisah. Setiap bertanya, tidak ada jujur mengatakan. Atau semua benar-benar tidak tahu kenyataannya. Kini tinggal seorang lagi hendak dimintai informasi, meski hatinya tak yakin. Bramantya menantunya bekerja di luar kota dan jarang di rumah selama ini. Tapi ada harapan, karena semenjak pandemi menantunya banyak menganggur di rumah.

 

“Nak Bram, apa selama ini pernah dapat keluhan dari bapak? Kok akhir-akhir ini sering diganggu rasa takut berlebihan?” ucap Markonah.

 

 

“Mboten ngertos, Bu. Selama ini bapak lebih sering diam. Ndak tahu kalau keluhannya disimpan dan tidak diceritakan,” ujar Bramantya sambil mematikan puntung rokoknya di asbak.

 

“Atau mungkin Nak Bram punya dugaan.?”

 

Bramantya terdiam. Mencoba menyegarkan ingatan. Barangkali ada kejadian penting perlu disampaikan mertuanya. “Mboten wonten, Bu. Barangkali karena bapak sudah uzur. Ada kondisi kurang nyaman. Bisa juga suasana batin menjadikan galau.”

 

Perbincangan usai. Tak ada sasmita penting dijaring. Markonah penasaran misteri dihadapi. Bak cangkriman belum menemukan batangan. Meski demikian hatinya meyakini, ada diantara anggota keluarga selama ini menyembunyikan sesuatu.

Suatu hari sepulang jualan dari pasar, Markonah  menyapu di belakang rumah. Lalu termenung sambil melihat hamparan lahan luas. Lahan persawahan masih tersisa di ujung desa kini berubah menuju perkotaan. Lamunannya membentang. Terlihat cerobong pertambangan minyak.

 

Dia teringat kembali bahwa sepetak sawah dulu jadi garapan suaminya sudah dijual. Dibelikan rumah dan tanah saat ini ditempati. Sisanya dibuat membelikan mobil menantu dan biaya mencari kerja. Meski akhirnya dia juga tidak tahu, anak menantu bekerja di bidang apa. Karena saat pandemi sudah jadi pengangguran lagi.

Jangan-jangan kondisi tersebut yang menjadikan Samingun suaminya kepikiran. Ketakutan kalau-kalau keluarganya tak bisa makan. Apesnya hingga terusir kembali dari tanah rumah kini ditempati. Apakah kenyataan itu menghantui suaminya hingga sakit-sakitan.

 

Karena belum menemukan informasi penting terkait problem dihadapinya. Markonah punya rencana tersembunyi. Ingin menyelidiki sendiri apa sebenarnya terjadi. Saat anak perempuannya saat ini belum punya momongan, berangkat ke pabrik. Markonah sengaja pura-pura pamit suami dan menantunya pergi ke pasar. Namun sengaja kembali di tengah jalan. Pulang lewat pintu belakang sejak berangkat tidak dikunci. Lalu mengendap masuk ke dalam rumah. Menyelinap masuk kamar. Mengunci pintu kamar dari dalam.

 

Hampir seminggu apa dilakukannya tidak membuahkan hasil. Tidak ada kejadian aneh dialami suami dan menantunya. Kejadian rutin, Bramantya pergi ngopi di warung sebelah. Agak siang pulang lagi. Sementara Samingun suaminya lebih banyak duduk di ruang tamu. Beranjak sebentar duduk di kursi emper rumah. Lalu kembali ke ruang tamu dengan perabot sederhana.

 

Meski demikian Markonah belum putus asa. Hari minggu hari terakhir rencananya menyelidiki. Kalau biasanya di rumah hanya suami dan menantunya, hari Ahad anak perempuannya, Supadmi juga libur kerja. Seperti biasa, dia pamit ke pasar pada anggota kekuarganya. Hari ini termasuk Supadmi dipamiti mau jualan ke pasar, tapi di tengah jalan kembali pulang. Diam-diam sembunyi di kamar tidur. Kamar  bersebelahan kamar tidur anak dan menantunya.

 

Belum lama di dalam kamar, didengarnya anak perempuannya dari luar masuk kamar. Disusul menantunya. Lalu terdengar suara percekcokan. Baru kali ini Markonah menjumpai pertengkaran. Selama ini dia tidak tahu asal-usul menantunya. Sepengetahuannya Bramantya teman kerja anaknya Supadmi. Datang tiba-tiba seperti hantu. Ketika ijab kabul pernikahan dua setengah tahun lalu, hanya diantar wakil keluarga. Misteri keberadaan menantunya saat itu tak dipermasalahkan.

Baca Juga :  Lari, Jongkok, dan Merayap di Atas Aspal Basah

 

Dia tercengang mendengarkan isi percekcokan dari balik kamar. “Mas, andaikan dulu saya terus terang pada bapak ibu. Siapa sampean sebenarnya, pasti kita tak akan pernah jadi suami istri. Aku terus melindungi dan mengalah. Tapi, tingkah sampeyan semakin mblarah?” amarah Supadmi dari balik kamar.

 

“Lalu kenapa kau ngamuk-ngamuk seperti ini?” sahut Bramantya.

 

“Tingkah sampean semakin menjadi jadi. Tidak hanya hobi mengonsumsi narkoba tapi juga mulai main perempuan,”

 

“Lho kau jangan main tuduh, Mi.!?”

 

“Aku tidak berani ngomong kalau tanpa bukti. Di HP sampeyan banyak transaksi barang haram itu dan ujaran perselingkuhan.” membuat Bramantya terdiam tak dapar berkutik.

 

“Andaikan pertengkaran ini terdengar bapak dan ibu, betapa hancurnya hati mereka,” sambung Supadmi. Lalu pecah tangisnya.

 

Selama ini Supadmi beranggapan, bapaknya yang pendengarannya  normal tidak tahu tiap kali percekcokannya. Juga ibunya tidak tahu karena saban hari di pasar. Meski yang terjadi tidak demikian.

 

Samingun pendiam punya karakter aneh. Penuh misteri. Pura-pura tuli meski semua pembicaraan didengarnya. Sehingga orang serumah dapat dikelabuhinya. Sandiwaranya menjadi orang tuli dapat dijalaninya dengan sempurna. Semenjak merasa anak menantunya aneh dan penuh misteri tersebut hidup dalam satu rumah.

Markonah kaget bak disambar geledek. Mendengar isi pertengkaran anaknya.

 

Diam-diam dia membuka pintu kamar lalu menyelinap pergi. Dengan tangis tertahan dan hati hancur, bergegas keluar lewat pintu belakang. Anak dan menantu masih di dalam kamar. Suaminya, Samingun, seperti biasa duduk terdiam di ruang tamu.

 

Setelah keluar dari pintu belakang, Markonah pura-pura baru datang dari pasar. Kali ini masuk rumah lewat pintu depan. Mendapati suaminya duduk diam di ruang tamu. Badannya masih lemah. Belum sembuh total.

 

Mendengar ibunya datang, Supadmi keluar dari kamar lalu pergi meninggalkan rumah setelah menyapa ibunya. Menuntun motor entah punya tujuan akan kemana. Tak lama Bramantya keluar rumah menaiki mobil lawas diparkir di teras depan rumah.

 

Markonah tiba-tiba menubrukkan badannya pada Samingun dengan pandangan kosong. Setelah mengetahui apa sesungguhnya terjadi. Tangis tertahan pecah seketika di hadapan suami. “Pak, maafkan aku selama ini mengabaikan apa sesungguhnya terjadi,” sesal Markonah dengan tangis.

 

“Sudahlah Nah, jangan sesali apa sudah berlalu. Aku sudah tahu semuanya. Aku bilang tuli lebih dari dua tahun ini hanya pura-pura. Ingin menyelidiki kejadian di rumah ini penuh misteri,”

 

“Jadi…?”

 

“Anak dan menantu kita itu hantu yang menakutkan. Supadmi diam-diam menggadaikan sertifikat tanah rumah ini. Saat ini sudah tak mampu menyediakan uang tebusan. Aku pikir rumah dan tanah kita tempati ini akan segera disita. Menantu kita diam-diam pecandu yang jualan pil setan dan main perempuan…”

“Astaghgirullahaladzim…” seperti tak percaya Markonah menemui kenyataan.

“Sabarkan hatimu, Nah. Tidak usah bertanya lagi mengapa aku sering ketakutan. Mengapa hidupku dihantui berbagai kejadian.”

 

Markonah diam tak kuasa menjawab. Isak tangisnya belum mereda. Tak lama kemudian tetangga sebelah tergopoh-gopoh datang beruluk salam. Mengabarkan anak dan menantunya ditangkap polisi. Diinterogasi lalu ditahan di balik terali besi.

 

Mendadak Markonah bak dikerubuti hantu menyeramkan. Penglihatannya berkunang-kunang. Bumi dipijak serasa gelap gulita. Lunglai jatuh di bawah meja. Di depan Samingun suaminya lemah tak berdaya. (*)

 

 

*)  Pegiat bahasa dan sastra di Sanggar Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB)

 

Nono Warnono

SETIAP kali rasa takutnya menghebat, dapat dipastikan Samingun harus menenggak berbagai obat. Baik pil, kapsul, dan sirup dari resep dokter dibeli di apotek. Hingga berbagai racikan jamu herbal didengarnya dari berbagai iklan radio. Produk obat rasa-rasanya manjur kata bualannya, daripada khasiat sesungguhnya.

 

Herannya penyakit yang diderita, penyebabnya bukan karena salah mengonsumsi makanan pantangan. Juga bukan tertular virus dari penderita lain. Namun, faktor takut berlebihan menjadi sebab penyakitnya semakin akut. Tak aneh jika, keluar masuk rumah sakit sudah tak terbilang banyaknya.

 

Pasangan Samingun-Markonah sisa generasi sahaja menua bersama. Hidup rajin dan tekun mengolah atau ngemonah sawah dengan menerima pasrah seberapapun hasil didapat. Di tengah lingkungan damai diliputi kejujuran, kebersamaan dan kegotongroyongan. Hingga datangnya mimpi-mimpi emas hitam menyemburkan harapan, meski akhirnya menghempaskannya keluar dari tanah kelahiran.

 

Tambang minyak, awalnya menjadikan orang-orang sahaja bereuforia karena tanah sekitar mahal harganya. Masih ditambah janji-janji pepesan kosong tentang masa depan anak-anaknya. Samingun-Markonah kini menyesal. Tanah kelahiran terjual. Anak cucunya jadi panji klanthung. Pengangguran. Hanya menonton cerobong minyak menyala siang dan malam. Kini Samingun, dulu petani tulen nan kuat kekar  kini menua dan sakit-sakitan.

 

Markonah istrinya, sering terheran menghadapi kenyataan aneh. Lama menelisik berbagai kemungkinan, namun nihil jawaban. Tak tahu apa sebab gerangan, Samingun akhir-akhir ini mengidap rasa takut berlebihan. Rasa tertekan kejiwaan disembunyikan meski acapkali ditanyakan.

 

“Kenapa tiba-tiba rasa takut itu sering menghantuimu, Pakne,” tanya Markonah suatu kesempatan.

 

“Nggak ada apa-apa kok, Nah,” bantah Samingun lirih.

 

“Sudahlah Nah, jangan dibuat masalah. Kita ini sudah tua. Jalani saja yang ada,” ujar Samingun menenangkan istrinya.

 

“Yang jadi masalah, setiap kali rasa takut itu datang sampeyan tiba-tiba terjangkit bermacam penyakit, Pakne” kejar Markonah dengan nada meninggi.

 

Mendapat serangan kalimat memojokkan, Samingun terdiam. Dasar lelaki sahaja itu tak banyak omong. Tidak berkata-kata jika tak ditanya. Tidak ngomong jika tidak terpaksa. Nek ora ditabuh ora muni, kata unen-unen jawa. Menjadikan istrinya kebingungan jika terjadi hal-hal tak diinginkan.

 

Terlebih jika rasa ketakutan itu menyerang, penyakit komplikasinya kambuh. Ada asam lambung, paru-paru, tekanan darah tinggi. Bahkan terakhir jantungnya sering bermasalah. Lagi-lagi faktor penyebab dominan rasa takut berlebihan.

 

Dulu ketika sawah tegalnya belum terjual. Lingkungan desanya gelap dikepung hutan, tanpa listrik penerang. Banyak grumbul rerimbunan, kuburan seram menakutkan. Pantas rasa takut bergelayut ketika malam.

 

Tapi kini, hutan sudah gundul karena pembalakan. Sawah pekarangan hilang digulung tambang minyak besar-besaran. Orang-orang sudah meninggalkan kampung halaman. Tanah tempat tinggal telah ditukar uang. Pilih beli lahan baru dekat perkotaan. Kenapa masih ketakutan? Malah semakin banyak terserang rasa cemas berlebihan?

 

Tempat keramat dan angker sudah tiada dan ditinggalkan hantu. Tak ada lagi pocongan, jerangkong, banaspati, sundelbolong, glundung pringis, dan ondar-andir. Semua sudah tiada. Mengapa masih juga banyak yang percaya, bangsa lelembut mengganggu ketenteraman manusia? Bukankah gedung-gedung industri pertambangan dan cerobong minyak justru jadi memedi menakutkan?

Memang dulu ketika masih muda, Samingun dan Markonah takutnya pada gendruwo dan kuntilanak. Hantu lokal sering penampakan dekat sungai dan rerimbunan pohon angker. Kini semua sudah padang jingglang. Desa-kota suasananya sudah tak berbeda siang dan malam. Lampu penerangan umum maupun kerlap-kerlip lampu hias taman.

 

Rasanya memang bukan bangsa lelembut menjadikan pemicu rasa takut. Bukan alam misteri dan kejadian horor kerap meneror. Hingga suatu waktu Markonah menyelidik pada anak menantunya bekerja di luar kota. Hanya pulang sebulan sekali. Karena setiap kali menyelidik anak perempuannya yang tinggal serumah dan kerja di pabrik rokok, juga tidak mendapatkan informasi yang sebenarnya.

Baca Juga :  Gara-Gara Tetangga Baru

“Mi, apa kira-kira menjadi sebab bapakmu ketakutan selama ini?” tanya Markonah pada Supadmi anaknya.

 

“Aku gak ngerti mbok. Lha tiap hari tidak di rumah, kerja di pabrik rokok,” sahut Supadmi ketus.

 

“Simbokmu ini, tiap hari jualan di pasar, Mi. Tidak tahu keadaan di rumah bagaimana!?”

 

“Ditanyakan sendiri ke bapak ta, Mbok.”

 

“Tiap saya tanya, bapakmu tak mau berterus terang. Lebih sering diam. Suka menyembunyikan yang dialami”.

 

Semakin hari Markonah resah gelisah. Setiap bertanya, tidak ada jujur mengatakan. Atau semua benar-benar tidak tahu kenyataannya. Kini tinggal seorang lagi hendak dimintai informasi, meski hatinya tak yakin. Bramantya menantunya bekerja di luar kota dan jarang di rumah selama ini. Tapi ada harapan, karena semenjak pandemi menantunya banyak menganggur di rumah.

 

“Nak Bram, apa selama ini pernah dapat keluhan dari bapak? Kok akhir-akhir ini sering diganggu rasa takut berlebihan?” ucap Markonah.

 

 

“Mboten ngertos, Bu. Selama ini bapak lebih sering diam. Ndak tahu kalau keluhannya disimpan dan tidak diceritakan,” ujar Bramantya sambil mematikan puntung rokoknya di asbak.

 

“Atau mungkin Nak Bram punya dugaan.?”

 

Bramantya terdiam. Mencoba menyegarkan ingatan. Barangkali ada kejadian penting perlu disampaikan mertuanya. “Mboten wonten, Bu. Barangkali karena bapak sudah uzur. Ada kondisi kurang nyaman. Bisa juga suasana batin menjadikan galau.”

 

Perbincangan usai. Tak ada sasmita penting dijaring. Markonah penasaran misteri dihadapi. Bak cangkriman belum menemukan batangan. Meski demikian hatinya meyakini, ada diantara anggota keluarga selama ini menyembunyikan sesuatu.

Suatu hari sepulang jualan dari pasar, Markonah  menyapu di belakang rumah. Lalu termenung sambil melihat hamparan lahan luas. Lahan persawahan masih tersisa di ujung desa kini berubah menuju perkotaan. Lamunannya membentang. Terlihat cerobong pertambangan minyak.

 

Dia teringat kembali bahwa sepetak sawah dulu jadi garapan suaminya sudah dijual. Dibelikan rumah dan tanah saat ini ditempati. Sisanya dibuat membelikan mobil menantu dan biaya mencari kerja. Meski akhirnya dia juga tidak tahu, anak menantu bekerja di bidang apa. Karena saat pandemi sudah jadi pengangguran lagi.

Jangan-jangan kondisi tersebut yang menjadikan Samingun suaminya kepikiran. Ketakutan kalau-kalau keluarganya tak bisa makan. Apesnya hingga terusir kembali dari tanah rumah kini ditempati. Apakah kenyataan itu menghantui suaminya hingga sakit-sakitan.

 

Karena belum menemukan informasi penting terkait problem dihadapinya. Markonah punya rencana tersembunyi. Ingin menyelidiki sendiri apa sebenarnya terjadi. Saat anak perempuannya saat ini belum punya momongan, berangkat ke pabrik. Markonah sengaja pura-pura pamit suami dan menantunya pergi ke pasar. Namun sengaja kembali di tengah jalan. Pulang lewat pintu belakang sejak berangkat tidak dikunci. Lalu mengendap masuk ke dalam rumah. Menyelinap masuk kamar. Mengunci pintu kamar dari dalam.

 

Hampir seminggu apa dilakukannya tidak membuahkan hasil. Tidak ada kejadian aneh dialami suami dan menantunya. Kejadian rutin, Bramantya pergi ngopi di warung sebelah. Agak siang pulang lagi. Sementara Samingun suaminya lebih banyak duduk di ruang tamu. Beranjak sebentar duduk di kursi emper rumah. Lalu kembali ke ruang tamu dengan perabot sederhana.

 

Meski demikian Markonah belum putus asa. Hari minggu hari terakhir rencananya menyelidiki. Kalau biasanya di rumah hanya suami dan menantunya, hari Ahad anak perempuannya, Supadmi juga libur kerja. Seperti biasa, dia pamit ke pasar pada anggota kekuarganya. Hari ini termasuk Supadmi dipamiti mau jualan ke pasar, tapi di tengah jalan kembali pulang. Diam-diam sembunyi di kamar tidur. Kamar  bersebelahan kamar tidur anak dan menantunya.

 

Belum lama di dalam kamar, didengarnya anak perempuannya dari luar masuk kamar. Disusul menantunya. Lalu terdengar suara percekcokan. Baru kali ini Markonah menjumpai pertengkaran. Selama ini dia tidak tahu asal-usul menantunya. Sepengetahuannya Bramantya teman kerja anaknya Supadmi. Datang tiba-tiba seperti hantu. Ketika ijab kabul pernikahan dua setengah tahun lalu, hanya diantar wakil keluarga. Misteri keberadaan menantunya saat itu tak dipermasalahkan.

Baca Juga :  Rawan Kekeringan dan Puting Beliung

 

Dia tercengang mendengarkan isi percekcokan dari balik kamar. “Mas, andaikan dulu saya terus terang pada bapak ibu. Siapa sampean sebenarnya, pasti kita tak akan pernah jadi suami istri. Aku terus melindungi dan mengalah. Tapi, tingkah sampeyan semakin mblarah?” amarah Supadmi dari balik kamar.

 

“Lalu kenapa kau ngamuk-ngamuk seperti ini?” sahut Bramantya.

 

“Tingkah sampean semakin menjadi jadi. Tidak hanya hobi mengonsumsi narkoba tapi juga mulai main perempuan,”

 

“Lho kau jangan main tuduh, Mi.!?”

 

“Aku tidak berani ngomong kalau tanpa bukti. Di HP sampeyan banyak transaksi barang haram itu dan ujaran perselingkuhan.” membuat Bramantya terdiam tak dapar berkutik.

 

“Andaikan pertengkaran ini terdengar bapak dan ibu, betapa hancurnya hati mereka,” sambung Supadmi. Lalu pecah tangisnya.

 

Selama ini Supadmi beranggapan, bapaknya yang pendengarannya  normal tidak tahu tiap kali percekcokannya. Juga ibunya tidak tahu karena saban hari di pasar. Meski yang terjadi tidak demikian.

 

Samingun pendiam punya karakter aneh. Penuh misteri. Pura-pura tuli meski semua pembicaraan didengarnya. Sehingga orang serumah dapat dikelabuhinya. Sandiwaranya menjadi orang tuli dapat dijalaninya dengan sempurna. Semenjak merasa anak menantunya aneh dan penuh misteri tersebut hidup dalam satu rumah.

Markonah kaget bak disambar geledek. Mendengar isi pertengkaran anaknya.

 

Diam-diam dia membuka pintu kamar lalu menyelinap pergi. Dengan tangis tertahan dan hati hancur, bergegas keluar lewat pintu belakang. Anak dan menantu masih di dalam kamar. Suaminya, Samingun, seperti biasa duduk terdiam di ruang tamu.

 

Setelah keluar dari pintu belakang, Markonah pura-pura baru datang dari pasar. Kali ini masuk rumah lewat pintu depan. Mendapati suaminya duduk diam di ruang tamu. Badannya masih lemah. Belum sembuh total.

 

Mendengar ibunya datang, Supadmi keluar dari kamar lalu pergi meninggalkan rumah setelah menyapa ibunya. Menuntun motor entah punya tujuan akan kemana. Tak lama Bramantya keluar rumah menaiki mobil lawas diparkir di teras depan rumah.

 

Markonah tiba-tiba menubrukkan badannya pada Samingun dengan pandangan kosong. Setelah mengetahui apa sesungguhnya terjadi. Tangis tertahan pecah seketika di hadapan suami. “Pak, maafkan aku selama ini mengabaikan apa sesungguhnya terjadi,” sesal Markonah dengan tangis.

 

“Sudahlah Nah, jangan sesali apa sudah berlalu. Aku sudah tahu semuanya. Aku bilang tuli lebih dari dua tahun ini hanya pura-pura. Ingin menyelidiki kejadian di rumah ini penuh misteri,”

 

“Jadi…?”

 

“Anak dan menantu kita itu hantu yang menakutkan. Supadmi diam-diam menggadaikan sertifikat tanah rumah ini. Saat ini sudah tak mampu menyediakan uang tebusan. Aku pikir rumah dan tanah kita tempati ini akan segera disita. Menantu kita diam-diam pecandu yang jualan pil setan dan main perempuan…”

“Astaghgirullahaladzim…” seperti tak percaya Markonah menemui kenyataan.

“Sabarkan hatimu, Nah. Tidak usah bertanya lagi mengapa aku sering ketakutan. Mengapa hidupku dihantui berbagai kejadian.”

 

Markonah diam tak kuasa menjawab. Isak tangisnya belum mereda. Tak lama kemudian tetangga sebelah tergopoh-gopoh datang beruluk salam. Mengabarkan anak dan menantunya ditangkap polisi. Diinterogasi lalu ditahan di balik terali besi.

 

Mendadak Markonah bak dikerubuti hantu menyeramkan. Penglihatannya berkunang-kunang. Bumi dipijak serasa gelap gulita. Lunglai jatuh di bawah meja. Di depan Samingun suaminya lemah tak berdaya. (*)

 

 

*)  Pegiat bahasa dan sastra di Sanggar Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB)

 

Nono Warnono

Artikel Terkait

Kota tanpa Perahu

Biografi Kartu Lebaran

Mbah Rembun

Gara-Gara Tetangga Baru

Mengetuk Pintu Surga

Most Read

Artikel Terbaru


/