27.2 C
Bojonegoro
Tuesday, March 21, 2023

CATEGORY

Lembar Budaya

Bulan Yang Dirindukan

DI penghujung Sya’ban tampak bulan tak seperti biasanya. Langit terlihat cerah tanpa awan hitam berarak. Angin datang perlahan mengusap dedaunan. Daun-daun kering berguguran ke tanah basah, tergantikan kuncup-kuncup yang mulai bermekaran.

Menunggu

DIA sering seperti ini. Sudah hampir satu jam pesan WhatsApp-ku belum dibacanya. Aku tiduran di kasur lantai ruang tengah dan lebih sering memandangi layar smartphone. Menunggu pesanku dibalas, daripada memandangi layar TV di depanku sudah menyala dari tadi.

Merajut Mimpi di Makau

MENJELANG sore, feri yang kami tumpangi merapat di Tapia Harbor, Makau. Cuaca cerah menyambut. Angin laut berhembus kencang. Kali ini, aku ke Makau bersama Ali dan Hamim. Kami menyeberang dari Hongkong. 

Manusia Silver

LELAKI paro baya itu terlihat termenung di sudut ruang tamu rumahnya. Rumah dengan ukuran 3x4 meter itu tak layak sebagai hunian. Kayu penopang atap plafon sudah tidak mampu menahan beban yang kian berat.

BUNG!

MATAHARI belum tampak dan gelap sisa semalam masih bergelantungan di langit bumi. Saat-saat di mana embun dan bintik air menempel pada benda apa saja yang ia sukai. Daun terlihat segar sekali kala itu. Seperti orang yang baru selesai mandi dan keluar dengan gelembung air masih pada tubuh dan handuk di sekitar lehernya.

Geremengan Pakde Katno

"SANGAT merendahkan martabat, tidak mengindahkan harga diri. Bagaimana bisa seorang guru hanya diam saja dan tidak melakukan apa-apa ketika diperlakukan muridnya semacam itu?" Pakde Katno bersungut-sungut geram.

Gerakan Bawah Tanah

Suasana di  kantor siang itu berbeda dengan hari-hari biasanya. Ada semacam kabar yang tidak mengenakkan bagi karyawan seperti diriku. Menurut kabar dari seorang kepercayaan pemimpin, di perusahaan akan diberlakukan aturan baru. Aturan baru itu juga tidak jelas seperti apa.

Layang-Layang Tanpa Kepala

PULANG sekolah dengan tas masih di pundak, Alit memegangi rok ibunya dan merengek minta diizinkan ke rumah ayahnya. “Tidak usah ke sana,“ kata ibu.

Perempuan Penjual Rembulan

Matahari senja bergegas sembunyi di balik cakrawala. Pascahujan horison menyembulkan aneka warna. Lengkungan bianglala mempesona setiap tatap mata. Sayup-sayup terdengar lagu bocah-bocah menyambut pelangi senja. Di desaku era tujuh puluhan lagu yang membersamai kluwung itu sebagai mantra. Ritual yang konon mengusir pageblug sakit mata.

Takdir Kita

“Takdir terbaik adalah apa yang sedang kita jalani saat ini. Takdirku dan takdirmu telah menjadi takdir kita.”

Berita Terbaru

/