Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Bupati Lamongan Janji Panggil Kepala Disparbud

Hakam Alghivari
Penulis: Hakam Alghivari❯
BANJIR SOROTAN: Kepala Disparbud Lamongan, Siti Rubikah saat tertangkap kamera sedang asyik menonton film drama Korea (drakor) di HP saat rapat paripurna, Senin (4/12).  (ANJAR DWI PRADIPTA/RDR.LMG)
BANJIR SOROTAN: Kepala Disparbud Lamongan, Siti Rubikah saat tertangkap kamera sedang asyik menonton film drama Korea (drakor) di HP saat rapat paripurna, Senin (4/12). (ANJAR DWI PRADIPTA/RDR.LMG)

LAMONGAN, Radar Lamongan - Hingga kini belum ada tindakan tegas kepada Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Lamongan, Siti Rubikah. Seperti diberitakan sebelumnya, Rubikah tertangkap kamera sedang asyik menonton film drama Korea (drakor) di HP ketika Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi memberikan sambutan saat rapat paripurna hari pertama, dalam rangka penyampaian nota penjelasan raperda usulan pemerintah daerah dan raperda inisiatif DPRD Kabupaten Lamongan tahap II Tahun 2023, Senin (4/12).


Advertisement

‘’Oh ya nanti akan kita sampaikan, dan kita cek dulu situasi pas sidang (paripurna, Red),’’ tutur Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi kepada Jawa Pos Radar Lamongan, kemarin (5/12).  

Bupati Yes, sapaan akrabnya mengatakan, terkadang saat undangan rapat paripurna terjadi kemoloran. Misalnya dijadwalkan mulai pukul 10.00 WIB, biasanya pukul 11.00 WIB baru kumpul. ‘’Makanya kita cek dulu, itu waktu menunggu atau pada saat apa dia (Kepala Disparbud, Red), ya nanti akan kita panggil,’’ janjinya.

Wartawan koran ini belum mendapatkan konfirmasi dari Rubikah. Saat dihubungi via ponsel, terdengar nada sambung. Namun, Rubikah tak mengangkat telepon. Pesan singkat yang dikirim via WhatsApp centang dua, tapi tak dibaca dan tak dibalas.

Advertisement

Direktur Pusat Studi Masyarakat Lamongan (PUSMALA), Nu’man Suhadi mengatakan, secara etika apa yang dilakukan Kepala Disparbud Lamongan di rapat paripurna kurang pas. Sebab, di saat Bupati Lamongan menyampaikan penjelasan dihadapan wakil rakyat, Kepala Disparbud Lamongan justru menonton drakor.

‘’Padahal harusnya secara profesional, Bu Kadis bisa mencatat hal penting atau hal-hal lain, yang nantinya dapat dijadikan landasan untuk berkomunikasi dengan masyarakat,’’ kata Nu’man, sapaan akrabnya.

Dia berharap, hal ini bisa menjadi catatan agar ke depan bisa menempatkan diri secara profesional. Apalagi, saat ini Bupati Yes sedang konsen dan fokus dalam membangun Lamongan.  

Advertisement

‘’Kalau alasannya karena ngantuk berat, mengingat jadwal kegiatan Bu Kadis yang padat, kan bisa dengan cara yang etis yakni dengan mencuci muka,’’ ucap Nukman.

Salah satu akademisi Lamongan, Syahrul Munir menuturkan, semua orang memiliki hak untuk mendapatkan hiburan, seperti menonton drakor dan lainnya. Namun, menurut dia, kondisinya harus lebih arif dan bijaksana untuk memilih waktu menonton. Terumasa saat rapat paripurna, seharusnya semua peserta harus menyimak dengan seksama.

‘’Maka itu kurang bijaksana, kalau terus kemudian mengalihkan dalam tanda kutip konsentrasi penyimakan Bupati, kemudian lebih memperioritaskan drakor,’’ ucapnya.

Syahrul menyayangkan tindakan Kepala Disparbud Lamongan, yang memprioritaskan urusan pribadi dibanding hal yang lebih urgen. ‘’Lebih disipilin, dan ditertibkan, itu saja,’’ pintanya. (sip/ind)

 

 

 

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Merawat Sejarah Bojonegoro, Mengenang Jasa Leluhur

Merawat Sejarah Bojonegoro, Mengenang Jasa Leluhur

Dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-349, Pemkab menggelar ziarah di tiga makam leluhur, Jumat (16/10).

Sinergi dan Gotong Royong Kunci Kemajuan Bojonegoro

Sinergi dan Gotong Royong Kunci Kemajuan Bojonegoro

Upacara Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke 349  dirangkai dengan peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur di Alun-Alun kemarin (20/10) berlangsung semarak.

 Jejak Kisah Tragedi Kelaparan di Bojonegoro Tahun 1939: Ibu Rela Tukar Bayi Demi Sepiring Nasi

Jejak Kisah Tragedi Kelaparan di Bojonegoro Tahun 1939: Ibu Rela Tukar Bayi Demi Sepiring Nasi

Tragedi kelaparan Bojonegoro di era kolonial terkuak! Arsip koran Belanda 1939 ungkap kisah pilu seorang ibu yang menukar bayinya demi sepiring nasi gara-gara kebijakan eksploitatif dan ulah Bupati yang korup. Baca selengkapnya di sini.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer