Oleh:
Joko Sulistyo, Sp.And
Ketua Bidang Kehumasan dan Hubungan Antarlembaga IDI Cabang Bojonegoro
SELAMA ini, infertilitas (sulit mempunyai keturunan) sering kali dianggap sebagai persoalan yang hanya berkaitan dengan perempuan, padahal kenyataannya masalah ketidaksuburan dapat melibatkan pria dan perempuan.
Pandangan ini tidak hanya keliru, tetapi juga berpotensi menghambat upaya penanganan infertilitas secara menyeluruh. Sebagai informasi awal, andrologi merupakan cabang ilmu kedokteran yang mempelajari berbagai permasalahan kesehatan pada pria, termasuk gangguan fungsi seksual dan masalah kesuburan.
Ilmu ini memiliki keterkaitan erat dengan kesuburan dan seksologi pria, khususnya dalam penanganan gangguan pada sistem reproduksi pria. Andrologi meliputi penatalaksanaan kasus infertilitas, seksologi, gangguan tumbuh kembang anak (mikropenis/penis kecil), genetika, kontrasepsi pria dan andropause/anti-aging pada pria.
Diperlukan konsultasi ke dokter andrologi apabila pasangan belum berhasil mempunyai keturunan selama minimal 1 tahun atau jika ingin menambah keturunan. Banyak faktor yang mempengaruhi kesuburan pria, diantaranya genetik, obesitas (kegemukan), penyakit diabetes, hipertensi, dan lainnya.
Sebagai seorang dokter andrologi, kerap menjumpai pasangan yang datang dengan keyakinan bahwa infertilitas adalah masalah perempuan semata. Padahal, dari sudut pandang medis, gangguan kesuburan justru tidak jarang berasal dari faktor pria, sehingga penanganan infertilitas seharusnya melibatkan evaluasi kedua belah pihak sejak awal.
Faktor infertilitas pada pria sangat beragam dan tidak jarang bersifat kompleks. Gangguan kualitas sperma, baik dari segi jumlah, pergerakan, maupun bentuk, merupakan penyebab yang paling sering ditemukan.
Selain itu, kelainan hormon seperti rendahnya kadar testosteron, riwayat infeksi saluran reproduksi, varikokel, hingga gangguan genetik juga dapat mempengaruhi kesuburan pria. Faktor gaya hidup modern, seperti merokok, konsumsi alkohol berlebihan, obesitas, kurang aktivitas fisik, paparan polusi, serta stress kronis, turut berperan dalam menurunkan kualitas sperma.
Sayangnya, pembahasan mengenai kesehatan reproduksi pria masih sering dianggap tabu atau identik dengan masalah kejantanan. Banyak pria merasa enggan menjalani pemeriksaan andrologi karena takut dicap tidak subur atau merasa harga dirinya terganggu.
Padahal, infertilitas tidak ada kaitannya dengan maskulinitas. Ini adalah kondisi medis yang dapat dialami siapa saja dan, dalam banyak kasus, dapat ditangani dengan pendekatan yang tepat. Jadi, Infertilitas didefinisikan sebagai ketidakmampuan pasangan untuk hamil setelah 1 tahun melakukan hubungan seksual secara teratur dan tanpa perlindungan atau kontrasepsi KB.
Sebagai Dokter Spesialis Andrologi yang juga Ketua Bidang Kehumasan dan Hubungan Antar Lembaga IDI Cabang Bojonegoro, dr. Joko Sulistyo, Sp.And, seringkali menerima pertanyaan ‘‘Benar gak sih, kemandulan pria itu sulit disembuhkan ?’’.
Jawabannya, untuk proses program kehamilan, tentunya kemandulan itu akan ditinjau, apakah dari sisi laki-laki atau perempuan, atau keduanya yang bermasalah. Dokter Spesialis Andrologi yang juga bertugas di RSUD dr. R. Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro ini, akan melakukan pemeriksaan kepada suami untuk meliputi pemeriksaan fisik, kondisi testis (buah zakar), analisa sperma dan organ reproduksinya.
Gangguan kesuburan pada pria seringkali dikaitkan dengan masalah kualitas sperma, yang meliputi produksi sel sperma rendah (oligozoospermia) atau tidak ada sama sekali (azoospermia), kualitas sperma rendah (motilitas/pergerakan kurang, morfologi/bentuk tidak normal), varikokel (pelebaran pembuluh darah vena di area buah zakar) yang menurunkan kualitas sperma, dan gaya hidup (merokok, alkohol, obesitas, paparan panas pada testis).
Tujuan utama dari evaluasi infertilitas pada pria adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab, pengobatan untuk kondisi yang dapat dipulihkan, menentukan apakah perlu teknik reproduksi berbantu misalnya inseminasi dan bayi tabung, serta memberikan konseling untuk kondisi yang tidak dapat dipulihkan/diobati.
Edukasi mengenai kesehatan reproduksi pria perlu ditingkatkan agar pria lebih terbuka dan proaktif dalam menjaga kesuburannya. Konsultasi dengan dokter andrologi bukanlah tanda stigma kelemahan pria, melainkan langkah bertanggung jawab dalam perencanaan keluarga. Keterlibatan aktif pria dalam menjaga kesehatan reproduksi tidak hanya meningkatkan peluang memiliki keturunan, tetapi juga memperkuat kualitas hubungan dan kerja sama dalam sebuah keluarga.
Kiat menjaga kualitas kesuburan pria di antaranya berhenti nerokok dan alkohol yang mana merupakan kebiasaan yang secara langsung menurunkan produksi dan kualitas sperma, jaga berat badan ideal guna cegah obesitas atau berat badan terlalu berlebihan dan terlalu kurus, dan nutrisi seimbang dengankonsumsi makanan bergizi mendukung kesehatan hormon dan kualitas sperma. (*/tih)
Editor : Yuan Edo Ramadhana