RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kondisi mantan Presiden RI ke-7, Joko Widodo sempat membuat netizen Indonesia geger. Pasalnya penampilan fisik pria yang akrab disapa Jokowi tersebut banyak berubah, dengan banyak ruam di kulitnya.
Perubahan tersebut pertama diketahui pada awal bulan Juni (5/6) usai kembali dari kunjungan di Vatikan. Diduga Jokwi menderita Sindrom Stevens-Johnson (SJS), penyakit kulit langka yang dapat menyebabkan pengelupasan kulit.
Namun baik Jokowi sendiri maupun ajudannya, Kompol Syarif Fitriansyah membantah isu tersebut. Menurut mereka berdua, ayah dari Wapres Gibran Rakabuming Raka tersebut hanya menderita alergi kulit biasa.
“Tidak benar itu, bapak (Jokowi) saat ini sedang pemulihan dari alergi kulit usai pulang dari Vatikan," ujar Kompol Syarif pada saat itu kepada awak media, sebagaimana dilansir dari Jawa Pos Radar Solo.
Menurut Kompol Syarif, alrgi tersebut kemungkinan disebabkan oleh perbedaan cuaca antara Indonesia dan Vatikan, yang terletak sebagai enklaf kecil di Italia. “Jadi penyesuaian, lalu pulang ke Indonesia, beberapa hari setelah itu baru muncul,” ujarnya.
Selain itu Jokowi sendiri mengaku masih dapat berkegiatan secara normal. "Badan masih fit, nggak ada masalah, hanya alergi biasa," ujarnya.
Namun saat Jokowi merayakan ulang tahun ke-64 dan mengadakan syukuran di kediamannya pada Sabtu (21/6), kondisinya masih belum kunjung pulih dan masih banyak ruam. Sehingga dugaan penyakit SJS menyerang Jokowi pun muncul kembali.
Jadi Apa Itu Sindrom Stevens-Johnson?
Menurut jurnal JAMA Dermatology, SJS pertama kali ditemukan oleh dua dokter anak asal Amerika Serikat, Albert Mason Stevens dan Frank Johnson, yang menangani kasus penyakit kulit pada dua anak yang berbeda pada 1922. Awalnya Stevens dan Johnson menduga kedua anak laki-laki tersebut menderita campak, namun melalui pemeriksaan lebih lanjut, kedua dokter menyadari gejala dan kondisi kulit yang timbul jauh berbeda dari campak biasa.
Meskipun pertama kali ditemukan pada kasus penyakit anak, SJS juga dapat menyerang orang dewasa. Temuan Cleveland Clinic, SJS umumnya diderita oleh anak-anak, orang dewasa muda di bawah usia 30 tahun, dan lansia. Selain itu, SJS lebih sering menjangkiti perempuan ketimbang laki-laki.
Menurut Dinas Kesehatan Inggris (NHS) dan Alodokter, pada kasus yang terjadi pada orang dewasa, SJS dapat terjadi sebagai efek samping penggunaan obat-obatan tertentu. Umumnya obat untuk asam urat, pereda nyeri, antibiotik, antivirus dan antikejang dapat memicu SJS.
Selain itu infeksi bakteri dan virus dapat memicu SJS, terutama pada anak-anak. Virus influenza, HIV, gondongan, hepatitis dan demam kelenjar berpotensi memunculkan SJS.
Karena sifatnya yang menyerang imunitas tubuh, SJS juga diperkirakan sebagai penyakit menurun. Tentu, memiliki daya tahan tubuh lemah juga berpotensi lebih mudah memicu SJS.
Apa Saja Gejala Sindrom Stevens-Johnson?
Gejala awal SJS umumnya mirip flu, namun seiring waktu lebih parah, diantaranya:
- Batuk
- Demam tinggi, hingga 38 derajat Celsius
- Perih di mulut dan tenggorokan
- Mata terasa panas
- Nyeri sendi
- Sakit kepala
- Mudah lelah
Seiring waktu, gejala yang ditimbulkan juga bertambah dan lebih jelas, diantaranya:
- Kulit melepuh di hidung, mata, mulut dan alat kelamin
- Kulit terasa perih
- Ruam kemerahan yang menyebar cepat.
- Setelah kulit melepuh, kulit dapat mengelupas beberapa hari kemudian
Apakah Sindrom Stevens-Johnson Dapat Disembuhkan?
Ya, namun hanya pada gejala saja, dan wajib melalui perawatan di rumah sakit. Selain itu waktu yang dibutuhkan cukup lama, yakni antara dua minggu hingga sebulan.
Karena SJS dapat dipicu melalui obat-obatan tertenu, jika penderita SJS mengkonsumsi obat yang menjadi pemicu, tentu konsumsi obat harus dihentikan sementara. Sebagai gantinya, idealnya dokter atau perawat memberikan antibiotik serta obat luka, obat kulit dan obat anti radang.
Jika diperlukan, pasien penderita SJS juga perlu mengkonsumsi makanan berkalori tinggi dan di-infus untuk membantu proses pemulihan. Jika tidak diobati, SJS dapat memperparah penyakit kulit, serta berpotensi menyebabkan penyakit organ dalam. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana