Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Stroke: Kegawatdaruratan Neurologis dan Paradigma Masyarakat

Bhagas Dani Purwoko

dr. Muhammad Nauval Marom, Sp.N., Dokter Spesialis Neurologi
dr. Muhammad Nauval Marom, Sp.N., Dokter Spesialis Neurologi


Advertisement

 

Oleh:
dr. Muhammad Nauval Marom, Sp.N.
Dokter Spesialis Neurologi

 

STROKE hingga kini masih menjadi salah satu penyebab kematian dan kecacatan tertinggi di dunia, termasuk di Indonesia. Yang memprihatinkan, penyakit ini tidak lagi identik dengan usia lanjut.

Semakin banyak penderita stroke berasal dari kelompok usia produktif, bahkan di bawah 50 tahun, seiring meningkatnya tekanan hidup, pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, serta tingginya prevalensi hipertensi dan diabetes.

Advertisement

Di berbagai daerah, termasuk wilayah seperti Bojonegoro dan sekitarnya, stroke tidak hanya menjadi persoalan medis, tetapi juga persoalan sosial. Banyak keluarga harus menghadapi anggota yang mendadak lumpuh, kehilangan kemampuan bicara, hingga tidak lagi mandiri dalam aktivitas sehari-hari.

Dampaknya bukan hanya pada pasien, tetapi juga pada kualitas hidup seluruh keluarga. Namun, di balik tingginya angka kecacatan akibat stroke, terdapat satu persoalan mendasar yang masih kuat di masyarakat: kesalahpahaman terhadap stroke sebagai kondisi darurat.

Dalam praktik sehari-hari, masih sering dijumpai pasien stroke yang datang terlambat ke rumah sakit. Sebagian mengurus rujukan terlebih dahulu, sebagian menunggu gejala mereda, dan tidak sedikit yang justru dibawa ke praktik dokter mandiri, tenaga kesehatan non-rumah sakit, atau pengobatan alternatif. Pasien biasanya hanya diberikan obat lalu dipulangkan tanpa pemeriksaan otak dan tanpa diarahkan segera ke Instalasi Gawat Darurat.

Advertisement

Sebagai dokter saraf, saya kerap menemui pasien yang baru datang ke rumah sakit dua hingga tiga hari setelah serangan stroke akut. Umumnya mereka sudah mengalami kelumpuhan berat, gangguan bicara yang menetap, bahkan penurunan kesadaran.

Pada kondisi ini, kerusakan jaringan otak sudah luas sehingga hasil pemulihan sering kali tidak optimal meskipun terapi dan rehabilitasi dilakukan maksimal.

Mengapa Harus Langsung ke IGD Rumah Sakit?

Penanganan stroke memerlukan evaluasi cepat oleh tenaga medis, pemeriksaan CT scan otak untuk menentukan jenis stroke, terapi khusus sesuai kondisi pasien, pemantauan ketat komplikasi stroke dan semua ini hanya dapat dilakukan secara optimal di rumah sakit.

Masyarakat perlu memahami bahwa dalam kondisi darurat seperti stroke, pasien berhak langsung datang ke IGD tanpa menunggu rujukan administratif. Menunda demi urusan birokrasi justru berisiko menghilangkan kesempatan pemulihan.

Hambatan yang masih sering dijumpai di masyarakat antara lain: Menganggap stroke cukup diobati dengan obat biasa, menunggu kondisi membaik sendiri, berpindah-pindah tempat berobat sebelum ke rumah sakit, mengurus rujukan lebih dulu saat gejala sedang berlangsung, Padahal, langkah yang benar adalah segera membawa pasien ke IGD rumah sakit terdekat begitu gejala muncul.

Untuk itu, penting mengenali Tanda Awal Stroke Sejak Dini. Gejala awal stroke dapat dikenali dengan metode FAST: F (Face): wajah mencong; A (Arm): lengan tiba-tiba lemah; S (Speech): bicara pelo atau tidak jelas; T (Time): Gejala mendadak, segera ke rumah sakit.

Kesadaran masyarakat terhadap tanda ini sangat menentukan keberhasilan penanganan pasien.

Sudah saatnya masyarakat mengubah cara pandang terhadap stroke. Stroke bukan penyakit yang bisa ditunda, bukan kondisi yang cukup diobati di rumah, dan bukan urusan administrasi terlebih dahulu. Stroke adalah keadaan darurat yang memerlukan respons cepat. (*)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Kepribadian Seseorang Bisa Berubah? Ini Penjelasan dari Sisi Psikologi

Kepribadian Seseorang Bisa Berubah? Ini Penjelasan dari Sisi Psikologi

Kepribadian sering dianggap sebagai sesuatu yang melekat pada diri seseorang sejak lama. Orang yang dikenal pendiam, misalnya, kerap dianggap akan selalu menjadi pribadi yang tertutup.

Mengenal Beragam Tipe Kepribadian dan Karakter yang Dimiliki Setiap Orang

Mengenal Beragam Tipe Kepribadian dan Karakter yang Dimiliki Setiap Orang

Setiap orang memiliki kepribadian dan karakter yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat terlihat dari cara seseorang berpikir, mengambil keputusan, berkomunikasi, merespons masalah hingga berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

BPJS Ketenagakerjaan Bojonegoro Peduli Lingkungan: Gelar Employee Volunteering Tanam 60 Pohon Alpukat

BPJS Ketenagakerjaan Bojonegoro Peduli Lingkungan: Gelar Employee Volunteering Tanam 60 Pohon Alpukat

Konsep Employee Volunteering menjadi salah satu program sosial lingkungan yang dijalankan BPJS Ketenagakerjaan di berbagai daerah di Indonesia. Penanaman puluhan pohon alpukat dipilih karena memiliki manfaat ganda. 

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer