alexametrics
30.9 C
Bojonegoro
Sunday, May 29, 2022

Sidang Tipikor Proyek Urugan Tahun 2017

Terdakwa Ajukan Eksepsi

LAMONGAN, Radar Lamongan – Eks Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura, dan Perkebunan (TPHP) Lamongan Rujito dan kotraktor Mohammad Zaenuri menjalani sidang perdananya di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, kemarin (21/2).

Atas pasal-pasal yang didakwakan, Rujito dan Zaenuri terancam pidana penjara minimal empat tahun serta maksimal 20 tahun. Kerugian negara dari proyek urugan yang dilakukan oleh Rujito pada 2017 ditaksir mencapai Rp 564 Juta.

Terdakwa mengikuti persidangan secara virtual dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Lamongan. Sedangkan, jaksa penuntut umum (JPU) dan penasihat hukum (PH) berada di PN Surabaya. Beberapa anggota keluarga terdakwa juga tampak hadir di pengadilan untuk menyaksikan jalannya persidangan.

Baca Juga :  SMP Favorit di Lamongan Masih Jadi Rebutan

Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Negeri (Kejari) Lamongan Anton Wahyudi menerangkan, sidang untuk terdakwa Rujito dan kontraktor Mohammad Zaenuri berlangsung mulai pukul 13.30 hingga 17.15.

Agenda sidang terhadap keduanya pembacaan dakwaan. Jaksa mendakwa Rujito dan Zaenuri dengan pasal berlapis. Yakni Yakni Pasal 2 dan Pasal 3 UU nomor 20 Tahun 2001, tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

‘’Atas dakwaan tersebut, terdakwa Rujito diwakili PH-nya mengajukan eksepsi. Sedangkan terdakwa Zaenuri tidak keberatan atas dakwaan dari jaksa,’’ tuturnya kepada Jawa Pos Radar Lamongan.

Pihak Rujito keberatan dengan dakwaan yang dibacakan oleh jaksa. Sebab, dakwaan tersebut dinilai kabur dan tidak jelas. Selain itu, yang berhak menghitung kerugian negara dalam proyek urugan ini adalah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Baca Juga :  Pleno Penetapan Hasil Pileg Belum Jelas

‘’Saat itu juga eksepsinya disampaikan. Sehingga, persidangan harus ditunda hingga dua pekan ke depan, dengan agenda pembacaan tanggapan atau replik dari jaksa,’’ kata Anton.

Sementara itu, untuk terdakwa Zaenuri seharusnya persidangan bisa dilanjutkan dengan agenda pemeriksaan saksi. Anton menuturkan, majelis hakim memutuskan untuk menunda sidang hingga dua pekan ke depan pula.

‘’Karena saksi-saksi yang akan dihadirkan nanti juga akan saling terkait dengan saksi untuk terdakwa Rujito,’’ terangnya. (din/ind)

LAMONGAN, Radar Lamongan – Eks Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura, dan Perkebunan (TPHP) Lamongan Rujito dan kotraktor Mohammad Zaenuri menjalani sidang perdananya di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, kemarin (21/2).

Atas pasal-pasal yang didakwakan, Rujito dan Zaenuri terancam pidana penjara minimal empat tahun serta maksimal 20 tahun. Kerugian negara dari proyek urugan yang dilakukan oleh Rujito pada 2017 ditaksir mencapai Rp 564 Juta.

Terdakwa mengikuti persidangan secara virtual dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Lamongan. Sedangkan, jaksa penuntut umum (JPU) dan penasihat hukum (PH) berada di PN Surabaya. Beberapa anggota keluarga terdakwa juga tampak hadir di pengadilan untuk menyaksikan jalannya persidangan.

Baca Juga :  PDIP Memimpin

Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Negeri (Kejari) Lamongan Anton Wahyudi menerangkan, sidang untuk terdakwa Rujito dan kontraktor Mohammad Zaenuri berlangsung mulai pukul 13.30 hingga 17.15.

Agenda sidang terhadap keduanya pembacaan dakwaan. Jaksa mendakwa Rujito dan Zaenuri dengan pasal berlapis. Yakni Yakni Pasal 2 dan Pasal 3 UU nomor 20 Tahun 2001, tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

‘’Atas dakwaan tersebut, terdakwa Rujito diwakili PH-nya mengajukan eksepsi. Sedangkan terdakwa Zaenuri tidak keberatan atas dakwaan dari jaksa,’’ tuturnya kepada Jawa Pos Radar Lamongan.

Pihak Rujito keberatan dengan dakwaan yang dibacakan oleh jaksa. Sebab, dakwaan tersebut dinilai kabur dan tidak jelas. Selain itu, yang berhak menghitung kerugian negara dalam proyek urugan ini adalah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Baca Juga :  Kejari Lamongan Pekan Depan Hadirkan Saksi Lagi

‘’Saat itu juga eksepsinya disampaikan. Sehingga, persidangan harus ditunda hingga dua pekan ke depan, dengan agenda pembacaan tanggapan atau replik dari jaksa,’’ kata Anton.

Sementara itu, untuk terdakwa Zaenuri seharusnya persidangan bisa dilanjutkan dengan agenda pemeriksaan saksi. Anton menuturkan, majelis hakim memutuskan untuk menunda sidang hingga dua pekan ke depan pula.

‘’Karena saksi-saksi yang akan dihadirkan nanti juga akan saling terkait dengan saksi untuk terdakwa Rujito,’’ terangnya. (din/ind)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/