alexametrics
26 C
Bojonegoro
Saturday, May 21, 2022

Kajari: SKP-2 Masih Bisa Dicabut

Kejari Bojonegoro Sudah Terbitkan Lima Penghentian Perkara

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Teguh Wediarto tersangka penganiayaan menghirup udara bebas, kemarin (17/3). Tersangka warga Desa Kumpulrejo, Kecamatan Kapas, itu mendapat pintu maaf dari korban penganiayaan Yudi Harmoko, 40, tetangganya.

Melalui restorative justice, Kejaksaan Negeri (Kejari) Bojonegoro menerbitkan surat ketetapan penghentian penuntutan (SKP-2).

 

Hanya, SKP-2 tidak bersifat mutlak. Apabila tersangka mengulangi perbuatannya, SKP-2 bisa dicabut dan kembali ditahan.

 

Bukan kali pertama kejari menerbitkan SKP-2. Sejak 2021 hingga saat ini kejari telah menerbitkan lima SKP-2. Di antaranya tiga kasus penganiayaan, satu kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dan satu kasus pengerusakan.

 

Kepala Kejari (Kajari) Badrut Tamam mengatakan, terbitnya SKP-2 menggunakan pendekatan keadilan restoratif berdasar persetujuan Kejaksaan Agung (Kejagung) melalui Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim. Tetapi, tidak menutup kemungkinan SKP-2 dicabut apabila tersangka mengulangi perbuatannya dan dilaporkan kembali ke aparat penegak hukum (APH).

Baca Juga :  Terdakwa Ajukan Eksepsi

 

BT, sapaan akrabnya, mengatakan, tidak semua perkara bisa pendekatan keadilan restoratif. Acuannya harus sesuai Peraturan Kejaksaan Nomor 15 Tahun 2020 tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif.

 

“Syarat SKP-2 di antaranya tersangka belum pernah terlibat kasus tindak pidana. Ancaman pidana penjara kurang dari lima tahun. Serta nilai kerugian tidak lebih dari Rp 2,5 juta,” bebernya.

 

Proses terbitnya SKP-2 tentu melalui mediasi antara tersangka dan korban. Pemberian maaf dari korban kepada tersangka menjadi salah satu syarat. Juga komitmen tersangka agar tidak mengulangi perbuatannya.

 

Kemarin kejari menerbitkan SKP-2 tersangka penganiayaan dengan dakwaan pasal 351 ayat 1 KUHP bernama Teguh Wediarto. Korban penganiayaan Yudi Harmoko, 40, membukakan pintu maaf kepada tersangka. “Kedua belah pihak sepakat berdamai. Kami terbitkan SKP-2 terhadap tersangka Teguh Wediarto. Tapi kami juga minta orang tua tersangka dan kepala desa senantiasa mengawasi tersangka,” ucapnya.

Baca Juga :  Vonis Rendah, Kejari Blora Ajukan Banding

 

Penganiayaan terjadi saat malam tahun baru 2022 sekitar pukul 23.30. Saat itu tersangka mengendarai motor di Jalan Poros Desa Kumpulrejo secara zig-zag pengaruh minuman keras (miras). Dari belakang melaju mobil dikendarai korban Yudi Harmoko bersama temannya Nurul Huda.

 

Selanjutnya, tersangka mengumpat ke korban karena merasa motornya hampir diserempet mobil. Akhirnya korban berhenti dan menanyakan alasan tersangka mengumpat. Cekcok terjadi dan korban kena bogem mentah hingga hidung berdarah. (bgs/rij)

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Teguh Wediarto tersangka penganiayaan menghirup udara bebas, kemarin (17/3). Tersangka warga Desa Kumpulrejo, Kecamatan Kapas, itu mendapat pintu maaf dari korban penganiayaan Yudi Harmoko, 40, tetangganya.

Melalui restorative justice, Kejaksaan Negeri (Kejari) Bojonegoro menerbitkan surat ketetapan penghentian penuntutan (SKP-2).

 

Hanya, SKP-2 tidak bersifat mutlak. Apabila tersangka mengulangi perbuatannya, SKP-2 bisa dicabut dan kembali ditahan.

 

Bukan kali pertama kejari menerbitkan SKP-2. Sejak 2021 hingga saat ini kejari telah menerbitkan lima SKP-2. Di antaranya tiga kasus penganiayaan, satu kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dan satu kasus pengerusakan.

 

Kepala Kejari (Kajari) Badrut Tamam mengatakan, terbitnya SKP-2 menggunakan pendekatan keadilan restoratif berdasar persetujuan Kejaksaan Agung (Kejagung) melalui Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim. Tetapi, tidak menutup kemungkinan SKP-2 dicabut apabila tersangka mengulangi perbuatannya dan dilaporkan kembali ke aparat penegak hukum (APH).

Baca Juga :  Pelapor Kembali Dimintai Keterangan

 

BT, sapaan akrabnya, mengatakan, tidak semua perkara bisa pendekatan keadilan restoratif. Acuannya harus sesuai Peraturan Kejaksaan Nomor 15 Tahun 2020 tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif.

 

“Syarat SKP-2 di antaranya tersangka belum pernah terlibat kasus tindak pidana. Ancaman pidana penjara kurang dari lima tahun. Serta nilai kerugian tidak lebih dari Rp 2,5 juta,” bebernya.

 

Proses terbitnya SKP-2 tentu melalui mediasi antara tersangka dan korban. Pemberian maaf dari korban kepada tersangka menjadi salah satu syarat. Juga komitmen tersangka agar tidak mengulangi perbuatannya.

 

Kemarin kejari menerbitkan SKP-2 tersangka penganiayaan dengan dakwaan pasal 351 ayat 1 KUHP bernama Teguh Wediarto. Korban penganiayaan Yudi Harmoko, 40, membukakan pintu maaf kepada tersangka. “Kedua belah pihak sepakat berdamai. Kami terbitkan SKP-2 terhadap tersangka Teguh Wediarto. Tapi kami juga minta orang tua tersangka dan kepala desa senantiasa mengawasi tersangka,” ucapnya.

Baca Juga :  Gegara Jersey Tertukar, Persibo Bojonegoro Disanksi Kalah 0-3

 

Penganiayaan terjadi saat malam tahun baru 2022 sekitar pukul 23.30. Saat itu tersangka mengendarai motor di Jalan Poros Desa Kumpulrejo secara zig-zag pengaruh minuman keras (miras). Dari belakang melaju mobil dikendarai korban Yudi Harmoko bersama temannya Nurul Huda.

 

Selanjutnya, tersangka mengumpat ke korban karena merasa motornya hampir diserempet mobil. Akhirnya korban berhenti dan menanyakan alasan tersangka mengumpat. Cekcok terjadi dan korban kena bogem mentah hingga hidung berdarah. (bgs/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/