alexametrics
25.7 C
Bojonegoro
Thursday, June 30, 2022

Empat Saksi Dihadirkan di Persidangan PN Lamongan

Awalnya Tak Tahu Anaknya Meninggal Dikeroyok

LAMONGAN, Radar Lamongan – Di bawah pengaruh minuman keras, sembilan orang menyerang Luqman H dan tiga orang warga Desa Kranji, Paciran pada akhir tahun lalu. Akibatnya, seorang rekan Luqman bernama Yasifun meregang nyawa, dan tiga dari sembilan orang dalam kelompok tersebut kini diadili di Pengadilan Negeri (PN) Lamongan kemarin (22/6).

 

Ketiga anggota kelompok yang tertangkap adalah Wan Adi Yusuf, Rifqi Al Fani, dan Mohammad Agus, ketiganya warga Desa Kranji, Paciran. Wan Adi, Rifqi, dan seorang rekan lain yang masih DPO, Fathul A, didakwa melakukan pemukulan terhadap Luqman. Agus menghajar kepala Yasifun dengan batu paving. Sedangkan sisanya, yakni Hanan S, Khuluq, Muhammad NA, dan Saif (semua masih DPO), memukul rekan Luqman yang lain, Hendik I.

Baca Juga :  Hasil Usulan Remisi Dua Napiter di Lamongan Belum Turun

 

Sidang kemarin menghadirkan Luqman dan Hendik sebagai saksi korban, serta Adi Kurniawan juga merupakan saksi yang juga ikut diserang, serta Idris merupakan Ayah Yasifun.

 

Dalam persidangan terkuak Ayah dari korban yang meninggal, awalnya tak mengetahui jika anaknya meninggal karena dikeroyok.

Ayah korban meninggal Idris mengatakan, dirinya tidak tahu bahwa Yasifun menjadi korban pemukulan. “Saya hanya diberitahu kalau anak saya masuk rumah sakit sekitar 6.30 sore. Anak saya dibawa ke Rumah Sakit Muhammadiyah, kemudian meninggal di rumah sakit,” kata Idris.

 

Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada perkara tersebut Rimin mengungkapkan, ketidaktahuan Idris tentang penyerangan terhadap anaknya disebabkan oleh ketakutan Hendik untuk melaporkan penyerangan tersebut. “Hendik takut untuk bilang ke Idris bahwa Yasifun diserang, sehingga dia berbohong kalau Yasifun mengalami kecelakaan. Idris baru tahu bahwa anaknya diserang melalui pengakuan terdakwa,” ungkap Rimin.

Baca Juga :  Desak Satpol PP Bertindak

 

Di hadapan Hakim Ketua Erven Langgeng Kaseh, Luqman menjelaskan, dirinya dan rekan-rekannya sempat diajak minum tuak bersama oleh rombongan terdakwa.

“HP saya hilang, sehingga saya mencari kembali ke warung bersama Hendik, Adi, dan Yasifun. Tiba-tiba terdakwa dan teman-temannya datang dan memukuli kami,” lanjutnya.

 

Baik Luqman, Hendik, maupun Adi mengaku tidak mengenal terdakwa maupun kawan-kawannya sebelum penyerangan terjadi. “Kami dipukuli oleh sembilan orang. Kami tidak kenal dengan orang-orang tersebut,” kata Luqman. (edo/ind)

LAMONGAN, Radar Lamongan – Di bawah pengaruh minuman keras, sembilan orang menyerang Luqman H dan tiga orang warga Desa Kranji, Paciran pada akhir tahun lalu. Akibatnya, seorang rekan Luqman bernama Yasifun meregang nyawa, dan tiga dari sembilan orang dalam kelompok tersebut kini diadili di Pengadilan Negeri (PN) Lamongan kemarin (22/6).

 

Ketiga anggota kelompok yang tertangkap adalah Wan Adi Yusuf, Rifqi Al Fani, dan Mohammad Agus, ketiganya warga Desa Kranji, Paciran. Wan Adi, Rifqi, dan seorang rekan lain yang masih DPO, Fathul A, didakwa melakukan pemukulan terhadap Luqman. Agus menghajar kepala Yasifun dengan batu paving. Sedangkan sisanya, yakni Hanan S, Khuluq, Muhammad NA, dan Saif (semua masih DPO), memukul rekan Luqman yang lain, Hendik I.

Baca Juga :  Diparkir, Motor Dibawa Lari Pengunjung Apotek

 

Sidang kemarin menghadirkan Luqman dan Hendik sebagai saksi korban, serta Adi Kurniawan juga merupakan saksi yang juga ikut diserang, serta Idris merupakan Ayah Yasifun.

 

Dalam persidangan terkuak Ayah dari korban yang meninggal, awalnya tak mengetahui jika anaknya meninggal karena dikeroyok.

Ayah korban meninggal Idris mengatakan, dirinya tidak tahu bahwa Yasifun menjadi korban pemukulan. “Saya hanya diberitahu kalau anak saya masuk rumah sakit sekitar 6.30 sore. Anak saya dibawa ke Rumah Sakit Muhammadiyah, kemudian meninggal di rumah sakit,” kata Idris.

 

Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada perkara tersebut Rimin mengungkapkan, ketidaktahuan Idris tentang penyerangan terhadap anaknya disebabkan oleh ketakutan Hendik untuk melaporkan penyerangan tersebut. “Hendik takut untuk bilang ke Idris bahwa Yasifun diserang, sehingga dia berbohong kalau Yasifun mengalami kecelakaan. Idris baru tahu bahwa anaknya diserang melalui pengakuan terdakwa,” ungkap Rimin.

Baca Juga :  Ekonomi Kreatif Untuk Sejahterakan Masyarakat

 

Di hadapan Hakim Ketua Erven Langgeng Kaseh, Luqman menjelaskan, dirinya dan rekan-rekannya sempat diajak minum tuak bersama oleh rombongan terdakwa.

“HP saya hilang, sehingga saya mencari kembali ke warung bersama Hendik, Adi, dan Yasifun. Tiba-tiba terdakwa dan teman-temannya datang dan memukuli kami,” lanjutnya.

 

Baik Luqman, Hendik, maupun Adi mengaku tidak mengenal terdakwa maupun kawan-kawannya sebelum penyerangan terjadi. “Kami dipukuli oleh sembilan orang. Kami tidak kenal dengan orang-orang tersebut,” kata Luqman. (edo/ind)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/