27.6 C
Bojonegoro
Monday, February 6, 2023

Kasus Kematian di Mobil yang Diparkir di RSUD dr Soegiri

Saksi Ahli Sebut Korban Terserang Jantung

- Advertisement -

LAMONGAN, Radar Lamongan – Dokter spesialis forensik Polri, dr Cornelius Bambang, 53, kemarin (19/1) dihadirkan secara online dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Lamongan. Dia dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rimin untuk menguak misteri kasus dugaan pembunuhan terhadap Suhartoyo, 57, asal Kelurahan Pacar Kembang, Kecamatan Tambaksari, Surabaya.

 

Korban ditemukan tak bernyawa di mobilnya yang diparkir di halaman RSUD dr Soegiri Lamongan tahun lalu. Diduga, kematian korban merupakan rencana pembunuhan yang dilakukan terdakwa  Eddy Saputra, 36, warga Kelurahan Kalijudan, Kecamatan Mulyorejo, Surabaya, yang juga memiliki alamat di  Perumahan Planet Green Tambora Desa Tambakrigadung, Kecamatan Tikung.

 

Dalam sidang itu, Cornelius mengatakan, otopsi dilakukan tahun lalu (18/8) di tempat pemakaman umum (TPU) di Desa Bendosari, Kecamatan Kras, Kediri. ‘’Melakukan pemeriksaan luar dan pemeriksaan dalam pada jenazah,’’ ucapnya.

- Advertisement -

 

Dia menjelaskan, mayat mengalami mumifikasi meskipun tidak sempurna. Hal itu memudahkan pihaknya dalam melakukan otopsi. ‘’Karena tanah pemakaman berupa pasir, sehingga yang terjadi di dalam makam itu mengering jenazahnya. Sehingga dari sisa forensik mengalami pengawetan alami,’’ jelasnya.

 

Menurut dia, pada tubuh Suhartoyo tidak ditemukan tanda kekerasan, baik benda tajam maupun tumpul. Pada jantung, ditemukan penyakit pengendapan atau penyumbatan dan pengerasan pembuluh arteri coroner jantung. ‘’Penyumbatan tersebut pada bagian tertentu mencapai 80 persen,’’ katanya.

 

Cornelius menuturkan, nyeri dada merupakan salah satu tanda khas dari penyakit jantung koroner. Ketika otot jantung tidak mendapatkan pasokan oksigen yang cukup, maka sel otot jantung akan mengalami proses kerusakan, bahkan kematian sel. Proses ini menimbulkan rasa nyeri dan sesak. ‘’Orang yang mengalami serangan jantung seperti ini harus segara mendapat pertolongan medis,’’ jelasnya.

 

Terkait lebam pada mayat di area punggung dari visum RSUD dr Soegiri Lamongan, saksi menjelaskan bahwa darah itu mengendap ke bawah bagian punggung.  ‘’Itu wajar proses dari pembusukan secara alamiah,’’ ujarnya.

 

Dalam sidang tersebut, majelis hakim juga menanyai terdakwa. Menurut Eddy, korban merasa sakit setelah makan pukul 20.00 jeda 20 menit. Korban lalu terlentang pada kursi belakang dan Eddy mengemudikan mobil. ‘’Sekitar jam 10 malam, tahu masih bergerak, setelah itu tidak tahu,’’ katanya.

 

Eddy juga mengaku saat korban merasa sakit, dirinya diberi ATM dan diberitahu pin-nya. ‘’ Saya parkir mobil sekitar jam 2 dinihari,’’ imbuhnya.

 

Sementara itu, Happi Buyung, dari keluarga korban, dalam persidangan itu menjelaskan bahwa sesuai rekaman GPS, pukul 05.16 mobil baru sampai parkiran RSUD dr Soegiri. (sip/yan)

LAMONGAN, Radar Lamongan – Dokter spesialis forensik Polri, dr Cornelius Bambang, 53, kemarin (19/1) dihadirkan secara online dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Lamongan. Dia dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rimin untuk menguak misteri kasus dugaan pembunuhan terhadap Suhartoyo, 57, asal Kelurahan Pacar Kembang, Kecamatan Tambaksari, Surabaya.

 

Korban ditemukan tak bernyawa di mobilnya yang diparkir di halaman RSUD dr Soegiri Lamongan tahun lalu. Diduga, kematian korban merupakan rencana pembunuhan yang dilakukan terdakwa  Eddy Saputra, 36, warga Kelurahan Kalijudan, Kecamatan Mulyorejo, Surabaya, yang juga memiliki alamat di  Perumahan Planet Green Tambora Desa Tambakrigadung, Kecamatan Tikung.

 

Dalam sidang itu, Cornelius mengatakan, otopsi dilakukan tahun lalu (18/8) di tempat pemakaman umum (TPU) di Desa Bendosari, Kecamatan Kras, Kediri. ‘’Melakukan pemeriksaan luar dan pemeriksaan dalam pada jenazah,’’ ucapnya.

- Advertisement -

 

Dia menjelaskan, mayat mengalami mumifikasi meskipun tidak sempurna. Hal itu memudahkan pihaknya dalam melakukan otopsi. ‘’Karena tanah pemakaman berupa pasir, sehingga yang terjadi di dalam makam itu mengering jenazahnya. Sehingga dari sisa forensik mengalami pengawetan alami,’’ jelasnya.

 

Menurut dia, pada tubuh Suhartoyo tidak ditemukan tanda kekerasan, baik benda tajam maupun tumpul. Pada jantung, ditemukan penyakit pengendapan atau penyumbatan dan pengerasan pembuluh arteri coroner jantung. ‘’Penyumbatan tersebut pada bagian tertentu mencapai 80 persen,’’ katanya.

 

Cornelius menuturkan, nyeri dada merupakan salah satu tanda khas dari penyakit jantung koroner. Ketika otot jantung tidak mendapatkan pasokan oksigen yang cukup, maka sel otot jantung akan mengalami proses kerusakan, bahkan kematian sel. Proses ini menimbulkan rasa nyeri dan sesak. ‘’Orang yang mengalami serangan jantung seperti ini harus segara mendapat pertolongan medis,’’ jelasnya.

 

Terkait lebam pada mayat di area punggung dari visum RSUD dr Soegiri Lamongan, saksi menjelaskan bahwa darah itu mengendap ke bawah bagian punggung.  ‘’Itu wajar proses dari pembusukan secara alamiah,’’ ujarnya.

 

Dalam sidang tersebut, majelis hakim juga menanyai terdakwa. Menurut Eddy, korban merasa sakit setelah makan pukul 20.00 jeda 20 menit. Korban lalu terlentang pada kursi belakang dan Eddy mengemudikan mobil. ‘’Sekitar jam 10 malam, tahu masih bergerak, setelah itu tidak tahu,’’ katanya.

 

Eddy juga mengaku saat korban merasa sakit, dirinya diberi ATM dan diberitahu pin-nya. ‘’ Saya parkir mobil sekitar jam 2 dinihari,’’ imbuhnya.

 

Sementara itu, Happi Buyung, dari keluarga korban, dalam persidangan itu menjelaskan bahwa sesuai rekaman GPS, pukul 05.16 mobil baru sampai parkiran RSUD dr Soegiri. (sip/yan)

Artikel Terkait

Most Read

NAIK DUA PERINGKAT

20 Billboard Diturunkan Paksa

Penjualan Komputer Didominasi Sekolah

Artikel Terbaru

Bentuk Istana dari Lego

Dua Kali Bobol Konter

Potensi Ekspansi Pabrik, Jadi Perhatian

Pertanyakan Nasib Seluruh Karyawan


/