alexametrics
23.7 C
Bojonegoro
Thursday, August 18, 2022

Tak Mau Lepas Kaus, Anggota PS Dikeroyok

- Advertisement -

LAMONGAN, Radar Lamongan – Gara – gara tak mau lepas kaus, seorang anggota perguruan silat (PS) dipukuli.  Kejadian di pinggir jalan raya Mantup, masuk Jotosanur, Kecamatan Tikung (30/4) itu kemarin (18/7) disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Lamongan.

 

Terdakwanya, Hd, 18, remaja asal Kecamatan Sukodadi. Sidang dengan hakim ketua R Muhammad Syakrani didampingi anggota Olyviarin Rosalinda Taopan dan Nunik Sri Wahyuni itu menghadirkan  dua saksi dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dwi Dara Agustina.

 

Saksi pertama, korban Mq, 17, yang datang didampingi pamannya. Dia mengaku tidak mengenal orang yang mengeroyoknya. Sekitar pukul 00.30, dia berhenti di jalan raya  masuk Desa Jotosanur.

- Advertisement -

 

‘’Saya habis mengantar teman ke rumahnya di Jotosanur. Setelahnya, saya santai di pinggir jalan sendiri, kemudian ada tiga orang itu,’’ ujarnya.

 

Mq mengatakan, dirinya diminta melepas kaus yang dipakainya. ‘’Saya pakai atribut silat, saya tidak mau lepas, dan saya dikeroyok,’’ ujarnya ke majelis hakim yang menanyakan terkait kausnya.

Baca Juga :  Kades Sumberejo Tak Ajukan Banding

 

Mq  dipukul dan ditendang di bagian wajah, punggung, dan kepala. ‘’Semua ikut mukul, kemudian saya dibawa ke puskesmas dan dibayari Pak Polisi,’’ ujarnya.

 

Setelah kejadian itu, menurut Mq, orang tua dari tiga pelaku pengeroyokan datang ke rumahnya untuk meminta maaf. ‘’Sudah saya maafkan majelis hakim,’’ ujarnya.

 

Saksi kedua, anggota Polsek Tikung, Aan Taufany. Saksi mengatakan, dia mendapatkan laporan adanya kecelakaan saat berhenti di Masjid Namira. Jaraknya sekitar 200 meter dari masjid.

 

‘’Saya ke sana ada rame-rame, ternyata korban dipukuli,’’ tuturnya.

 

Saat tiga pelaku lari, dia mengejar bersama warga.  Seorang akhirnya tertangkap, sementara dua orang lainnya melarikan diri  ke sawah – sawah. Hingga kini, kedua pelaku masih DPO. ‘’Kondisi korban matanya memar,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Pasutri Oknum Polisi Sisakan Sidang Tuntutan

 

Hakim sempat menanyakan apakah sering terjadi kejadian serupa di jalan itu. ‘’Biasanya terjadi antarperguruan, karena di situ ada basis-basis perguruan silat,’’ jawab saksi.

 

Karena takut dihakimi massa, Hd diamankan. ‘’Saya seret tersangka ke mobil dan saya bawa ke Kapolsek,’’ ujarnya.

 

Terdakwa saat ditanya majelis hakim mengaku memukul satu kali pakai tangan kosong. ‘’Teman saya yang bawa double stick itu,’’ ujarnya.

 

 

Dia mengatakan, ide memukul berasal dari temannya. Terdakwa memastikan tidak habis minum – minuman keras. Faktornya hanya melihat ada atribut perguran lain yang dikenakan korban di jalan.  ‘’Atas kejadian ini menyesal Yang Mulai, tidak mau mengulanginya lagi,’’ sesalnya. (sip/yan)

LAMONGAN, Radar Lamongan – Gara – gara tak mau lepas kaus, seorang anggota perguruan silat (PS) dipukuli.  Kejadian di pinggir jalan raya Mantup, masuk Jotosanur, Kecamatan Tikung (30/4) itu kemarin (18/7) disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Lamongan.

 

Terdakwanya, Hd, 18, remaja asal Kecamatan Sukodadi. Sidang dengan hakim ketua R Muhammad Syakrani didampingi anggota Olyviarin Rosalinda Taopan dan Nunik Sri Wahyuni itu menghadirkan  dua saksi dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dwi Dara Agustina.

 

Saksi pertama, korban Mq, 17, yang datang didampingi pamannya. Dia mengaku tidak mengenal orang yang mengeroyoknya. Sekitar pukul 00.30, dia berhenti di jalan raya  masuk Desa Jotosanur.

- Advertisement -

 

‘’Saya habis mengantar teman ke rumahnya di Jotosanur. Setelahnya, saya santai di pinggir jalan sendiri, kemudian ada tiga orang itu,’’ ujarnya.

 

Mq mengatakan, dirinya diminta melepas kaus yang dipakainya. ‘’Saya pakai atribut silat, saya tidak mau lepas, dan saya dikeroyok,’’ ujarnya ke majelis hakim yang menanyakan terkait kausnya.

Baca Juga :  Butuh Peran Masyarakat Ungkap Tipikor

 

Mq  dipukul dan ditendang di bagian wajah, punggung, dan kepala. ‘’Semua ikut mukul, kemudian saya dibawa ke puskesmas dan dibayari Pak Polisi,’’ ujarnya.

 

Setelah kejadian itu, menurut Mq, orang tua dari tiga pelaku pengeroyokan datang ke rumahnya untuk meminta maaf. ‘’Sudah saya maafkan majelis hakim,’’ ujarnya.

 

Saksi kedua, anggota Polsek Tikung, Aan Taufany. Saksi mengatakan, dia mendapatkan laporan adanya kecelakaan saat berhenti di Masjid Namira. Jaraknya sekitar 200 meter dari masjid.

 

‘’Saya ke sana ada rame-rame, ternyata korban dipukuli,’’ tuturnya.

 

Saat tiga pelaku lari, dia mengejar bersama warga.  Seorang akhirnya tertangkap, sementara dua orang lainnya melarikan diri  ke sawah – sawah. Hingga kini, kedua pelaku masih DPO. ‘’Kondisi korban matanya memar,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Jaksa Hadirkan Tujuh Saksi Anggota Satlantas

 

Hakim sempat menanyakan apakah sering terjadi kejadian serupa di jalan itu. ‘’Biasanya terjadi antarperguruan, karena di situ ada basis-basis perguruan silat,’’ jawab saksi.

 

Karena takut dihakimi massa, Hd diamankan. ‘’Saya seret tersangka ke mobil dan saya bawa ke Kapolsek,’’ ujarnya.

 

Terdakwa saat ditanya majelis hakim mengaku memukul satu kali pakai tangan kosong. ‘’Teman saya yang bawa double stick itu,’’ ujarnya.

 

 

Dia mengatakan, ide memukul berasal dari temannya. Terdakwa memastikan tidak habis minum – minuman keras. Faktornya hanya melihat ada atribut perguran lain yang dikenakan korban di jalan.  ‘’Atas kejadian ini menyesal Yang Mulai, tidak mau mengulanginya lagi,’’ sesalnya. (sip/yan)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/