alexametrics
23.8 C
Bojonegoro
Friday, August 12, 2022

Miris, Masih Adakah Ruang Aman bagi Anak dan Perempuan? di Bojonegoro

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Miris dan ironis melihat rentetan empat kekerasan seksual terhadap anak maupun perempuan terjadi di Bojonegoro yang ditangani kepolisian. Apalagi pelaku atau predator seksual ini lebih banyak orang terdekat korban. Bahkan, di dalam rumah atau kamar tidurnya sendiri tidak menjamin seorang anak dan perempuan mendapatkan rasa aman.

 

“Jadi sebenarnya masih adakah ruang aman bagi anak dan perempuan? Mengingat kasus-kasus kekerasan seksual itu pelakunya ayah kandung, ayah tiri, saudara, teman, atau tetangga sendiri. Lokasinya bahkan di rumahnya sendiri,” kata aktivis Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Bojonegoro Nafidatul Himah kemarin (16/6).

 

Karena itu, Himah ingin rentetan kasus kekerasan seksual menjadi atensi khusus. Demi masa depan anak-anak dan perempuan di masa mendatang. Perlu adanya kekompakan seluruh lini maupun kalangan masyarakat menyikapi kasus kekerasan seksual secara serius. Bukan sekadar formalitas saja, tapi benar-benar melakukan upaya preventif secara maksimal.

Baca Juga :  Korban Penganiayaan Dirawat di RSUD dr Soegiri Lamongan

 

Jangan hanya bertindak ketika sudah ada kasus. “Sudah seharusnya lebih mengoptimalkan upaya pencegahan serta penyadaran kepada seluruh masyarakat bahwa kekerasan seksual di sekitar kita ini merupakan tanggung jawab bersama,” tegasnya. Padahal, menurut Himah, Bojonegoro menyandang predikat kabupaten layak atau ramah anak.

 

Himah menepis, bahwa kasus-kasus kekerasan seksual yang muncul di permukaan hanya contoh kecil layaknya puncak gunung es. Sedangkan secara riil masih banyak masyarakat yang rendah kesadarannya terhadap kekerasan seksual. Apalagi kalau pelakunya orang terdekat, sehingga enggan lapor karena takut kelak jadi aib keluarga.

 

Selain penyadaran sekaligus sosialisasi seputar wawasan tentang kekerasan seksual, peran ribuan Satuan Tugas (Satgas) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) harus semakin dimaksimalkan. “Personel Satgas PPA sebanyak itu seharusnya dievaluasi. Apakah sudah sesuai harapan? Seharusnya tidak perlu terlalu banyak, yang terpenting perannya optimal, yakni tidak menunggu bola, harus jemput bola. Selain itu dari sisi insentif yang diberikan kepada satgas seharusnya layak agar mampu bekerja maksimal,” bebernya.

Baca Juga :  Bukti Aset Tiga Tersangka Belum Dilampirkan

 

Sementara itu, Himah berharap layanan pengaduan kekerasan seksual secara online perlu disosialisasikan lebih masif. Sehingga benar-benar mampu diakses seluruh kalangan masyarakat dan layanan pengaduan itu harus bukan 24 jam. Karena kekerasan terhadap anak maupun perempuan tidak mengenal waktu. (bgs/rij)

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Miris dan ironis melihat rentetan empat kekerasan seksual terhadap anak maupun perempuan terjadi di Bojonegoro yang ditangani kepolisian. Apalagi pelaku atau predator seksual ini lebih banyak orang terdekat korban. Bahkan, di dalam rumah atau kamar tidurnya sendiri tidak menjamin seorang anak dan perempuan mendapatkan rasa aman.

 

“Jadi sebenarnya masih adakah ruang aman bagi anak dan perempuan? Mengingat kasus-kasus kekerasan seksual itu pelakunya ayah kandung, ayah tiri, saudara, teman, atau tetangga sendiri. Lokasinya bahkan di rumahnya sendiri,” kata aktivis Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Bojonegoro Nafidatul Himah kemarin (16/6).

 

Karena itu, Himah ingin rentetan kasus kekerasan seksual menjadi atensi khusus. Demi masa depan anak-anak dan perempuan di masa mendatang. Perlu adanya kekompakan seluruh lini maupun kalangan masyarakat menyikapi kasus kekerasan seksual secara serius. Bukan sekadar formalitas saja, tapi benar-benar melakukan upaya preventif secara maksimal.

Baca Juga :  Dewan Pendidikan Desak Semua Aspek Dievaluasi

 

Jangan hanya bertindak ketika sudah ada kasus. “Sudah seharusnya lebih mengoptimalkan upaya pencegahan serta penyadaran kepada seluruh masyarakat bahwa kekerasan seksual di sekitar kita ini merupakan tanggung jawab bersama,” tegasnya. Padahal, menurut Himah, Bojonegoro menyandang predikat kabupaten layak atau ramah anak.

 

Himah menepis, bahwa kasus-kasus kekerasan seksual yang muncul di permukaan hanya contoh kecil layaknya puncak gunung es. Sedangkan secara riil masih banyak masyarakat yang rendah kesadarannya terhadap kekerasan seksual. Apalagi kalau pelakunya orang terdekat, sehingga enggan lapor karena takut kelak jadi aib keluarga.

 

Selain penyadaran sekaligus sosialisasi seputar wawasan tentang kekerasan seksual, peran ribuan Satuan Tugas (Satgas) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) harus semakin dimaksimalkan. “Personel Satgas PPA sebanyak itu seharusnya dievaluasi. Apakah sudah sesuai harapan? Seharusnya tidak perlu terlalu banyak, yang terpenting perannya optimal, yakni tidak menunggu bola, harus jemput bola. Selain itu dari sisi insentif yang diberikan kepada satgas seharusnya layak agar mampu bekerja maksimal,” bebernya.

Baca Juga :  Penahanan Kades Kapas Jadi Peringatan Aparatur Desa

 

Sementara itu, Himah berharap layanan pengaduan kekerasan seksual secara online perlu disosialisasikan lebih masif. Sehingga benar-benar mampu diakses seluruh kalangan masyarakat dan layanan pengaduan itu harus bukan 24 jam. Karena kekerasan terhadap anak maupun perempuan tidak mengenal waktu. (bgs/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/