Pada Februari 2004 harga gabah kering sawah (GKS) jeblok hingga menyentuh Rp 850 hingga Rp 900 per kg. Padahal tahun sebelumnya, atau 2003 harga GKS mencapai Rp 1.000 per kg.
Kondisi di 2004 tersebut membuat petani kelimpungan. Terlebih harga pupuk kala itu mengalami kenaikan. Dari sebelumnya Rp 55 ribu menjadi 69 ribu per sak isi 50 kg.
Suwoto petani di Desa Wotan, Kecamatan Sumberrejo mengatakan, harga gabah hanya Rp 900 per kg untuk GKS di areal persawahan tepi jalan beraspal. Sedangkan harga di jalur makadam jauh lebih buruk, hanya Rp 850 per kg.
‘’Kalau di jalan makadam, butuh biaya transportasi lebih banyak,” ujarnya kala itu.
Suwoto mengaku harga GKS di 2004 lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2003 di bulan yang sama harga GKS masih mencapai Rp 1.000 per kg. Padahal harga pupuk urea naik dari Rp 55 ribu menjadi Rp 69 ribu per sak.
Sementara itu, harga dasar penetapan pemerintah kala itu untuk GKS Rp 1.230 per kg. Sedangkan gabah kering giling (GKG) Rp 1.725 per kg. Sehingga terdapat selisih harga cukup jauh dengan di lapangan.
Wakijan warga Kecamatan Kepohbaru mengatakan harga GKS di daerahnya beberapa pekan sebelumnya mancapai Rp 1.000 per kg. Namun tetiba turun drastis menjadi Rp 900 per kg.
‘’Harga tersebut tidak sebanding dengan biaya produksi yang dikeluarkan petani,” ujarnya kala itu.
Menurut Wakijan dengan harga tersebut, uang hasil penjualan gabah baru diterima petani pada lima hingga enam hari kemudian. Terlebih gabah itu harus ditimbun terlebih dulu hingga dibeli Bulog. (irv/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana