BUNTUT kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), harga premium (bensin) mencapai Rp 6.000 per liter. Jauh dari harga resmi pemerintah saat itu, September 2005.
Dalam arsip Jawa Pos Radar Bojonegoro menyebut, harga eceran resmi pemerintah di angka Rp 2.400 per liter. Hal ini terjadi di wilayah barat Bojonegoro, seperti Kecamatan Padangan.
Beberapa penjual bensin eceran mengaku terpaksa menjual harga segitu karena sangat kesulitan mendapatkan bensin di SPBU (stasiun pengisian bahan bakar umum). Salah seorang penjual bensin eceran di daerah tersebut mengungkapkan, untuk mendapat barang harus rela antre hingga beberapa jam.
Anggota DPRD Bojonegoro Tri Yuli Setyowati membenarkan adanya penjualan bensin eceran dengan harga Rp 6.000 per liter. ‘’Mau nggak mau ya harus beli (bensin eceran dengan harga Rp 6.000 per liter). Kalau tidak malah mobil saya kehabisan bensin,” kata Etik, sapaan akrabnya.
Namun, harga bensin di wilayah Kecamatan Kota relatif lebih murah. Sejumlah penjual menjual bensin ecerannya di harga Rp 4.000 per liter. Mereka mengaku harus menjual di angka tersebut menyesuaikan dengan kesulitan mendapatkan bensin. Sedangkan, di wilayah timur Bojonegoro lain lagi.
Beberapa pengecer bensin di Kecamatan Baureno, Sumberrejo, dan Kanor menjual di harga Rp 5.000 per liter. Alasan relatif sama karena kesulitan mendapat bensin di SPBU. Selain harus antre, tak jarang harus mendapat barang jauh dari tempat tinggalnya.
Kelangkaan ini berlangsung sekian hari. Tak sedikit SPBU kehabisan stok BBM. Tercatat saat tertentu hanya di SPBU Jetak yang masih menyisakan stok. Karena itu, untuk mendapat bensin harus melalui antrean panjang. Bahkan, akibat antrean panjang kendaraan yang hendak mengisi bensin dan solar di SPBU yang terletak di Jalan MT Haryono itu, arus lalu lintas (lalin) hingga terminal lama Bojonegoro di Jalan Rajekwesi itu macet.
Akibat kondisi seperti ini, di Bundaran Jetak kendaraan tidak lahi mematuhi peraturan lalin. Banyak pengendara menyelonong alias tak memutar sesuai jalur semestinya sehingga kawasan tersebut macet total. (yna/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana