Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Mengenal Sekolah Modeling yang Kian Bermunculan: Gali Potensi Diri dan Mengenalkan Budaya Lokal

Yuan Edo Ramadhana • Selasa, 16 Juli 2024 | 18:55 WIB
KOLABORASI: Sekolah modeling milik Luthfi Yus Anisa juga berkolaborasi dengan komunitas fotografi. Para calon model diajarkan cara berjalan maupun berpose. (ADITYA PEBRIANTO/RADAR BOJONEGORO)
KOLABORASI: Sekolah modeling milik Luthfi Yus Anisa juga berkolaborasi dengan komunitas fotografi. Para calon model diajarkan cara berjalan maupun berpose. (ADITYA PEBRIANTO/RADAR BOJONEGORO)

 

Akhir-akhir ini sekolah modeling mulai bermunculan. Berbagai keunggulan lembaga ditunjukkan untuk menarik minat. Bahkan, balita empat tahun pun tertarik mengikutinya.


YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro


BERJALAN dengan percaya diri dengan badan tegak, fokus mata tertuju sesuatu di depan, dan tersenyum alami menjadi ciri khas gerakan modeling di atas catwalk atau panggung. Tak lupa ditambah gerakan kaki dalam langkah panjang dan konsisten satu kaki di depan kaki satunya.

Ini menjadi tren bagi kaum muda dan mudi yang ingin terjun di dunia entertainment, salah satunya menjadi model. Sehingga, membuat para pembaca pasar melihat sebagai ladang bisnis. Alhasil beberapa kelas modeling lahir di Bojonegoro.

Seperti perempuan domisili Kelurahan Ledok Wetan, Kecamatan Bojonegoro Kota, Luthfi Yus Anisa mendirikan sekolah modeling berskala kecil. Uniknya, Usia Luthfi terbilang cukup muda. Ia baru genap berusia 17 tahun pada 5 Juli lalu.

Namun, ia mampu membaca pasar, hingga membuka sekolah atau kelas modeling bernama Luxury Modeling sejak 2023. Dia menungkapkan, niat awalnya mendirikan kelas modeling ingin memoles secara apik budaya luar menjadi budaya lokal.

Karena, menurut Luthfi, Indonesia khususnya Bojonegoro memiliki social branding, etika, kepribadian, hingga kecantikan yang berbeda. ’’Melalui kelas modeling ini inginnya para pemuda dan pemudi bisa melatih dan meningkatkan public speaking atau kemampuan berbicara di depan umum dan mencintai dirinya sendiri,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut dia, memberi kesempatan masyarakat lokal mengeksplor dirinya sendiri untuk menemukan jati diri. Berprestasi dan membangun value atau nilai secara pribadi. Dia menjelaskan, untuk kelas modeling diberi materi dasar.

Mulai dari catwalk atau cara berjalan di atas panggung, kepercayaan diri berbicara di depan umum, etika dan kepribadian, hingga mencintai kecantikan diri sendiri.

’’Kami inginnya memajukan dan melestarikan seni Indonesia. Seperti batik, tempat wisata, kerajinan, hingga produk makanan dan minumannya melalui aksi peraga. Kami juga bekerja sama dengan Komunitas Fotografi Indonesia ini,” terangnya.

Dia menambahkan, kegiatan modeling tidak hanya jalan lenggak-lenggok layaknya kucing seperti kata dalam catwalk. Tapi, lebih dari itu. Gestur, pandangan mata, posisi kaki, serta cara mengambil nafas sesuai hentakan musik juga diperhatikan.

Luthfi mengatakan, untuk kelas modeling besutannya kini memiliki sekitar 80 hingga 100 anggota. Terdiri atas anak kecil usia balita, remaja, hingga orang dewasa. ’’Anggota kami ada yang berusia empat tahun hingga dewasa yang sedang bekerja,” bebernya.

Itu terdiri atas anggota dari dalam dan luar kota. Untuk anak usia empat tahun, kata dia, berasal dari Desa Sumodikaran, Kecamatan Dander. Kemudian, dari luar kabupaten ada dari Tuban. Dia menyampaikan, mengalami kendala saat ini.

Yakni, kegiatan atau jadwal modeling yang tertunda. Biasanya dua kali menjadi sekali dalam seminggu. ’’Karena kesibukan kami. Kebetulan ada mentor laki-kaki yang juga mengajar di luar kota,” ucap perempuan yang hobi renang itu. (/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#catwalk #Budaya #value #Bisnis #modeling #model #dander #public speaking #bojonegoro #kelas modeling #lembaga #Sekolah #Entertainment