Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Diskusi dan Bedah Buku Reset Indonesia Kupas Kondisi dan Problematika Dalam Negeri

Y
BEDAH BUKU: Salah satu penulis buku Reset Indonesia Farid Gaban menyampaikan isi buku karyanya kepada peserta diskusi.
BEDAH BUKU: Salah satu penulis buku Reset Indonesia Farid Gaban menyampaikan isi buku karyanya kepada peserta diskusi.

 


Advertisement

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Kegelisahan kondisi negeri menyelimuti kalangan aktivis lintas generasi. Dari baby boomer, generasi (gen) X, milenial atau gen Y, hingga gen Z. Mulai dari tingginya korupsi hingga bencana alam yang disebabkan kerusakan lingkungan.

Fakta persoalan bangsa terungkap dalam diskusi dan bedah buku Reset Indonesia dengan menghadirkan penulisnya langsung Yakni Farid Gaban dan Yusuf Priambodo, Selasa (23/12) malam.

Acara kolaborasi Perpustakaan Jenggala dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bojonegoro itu berhasil mendatangkan sekitar 70 masyarakat sipil, mahasiswa, wartawan, hingga dipantau aparat.

Advertisement

Berbagai kaum muda hingga dewasa yang hadir menyuarakan kegelisahan. Bagaimana kondisi Bojonegoro sebelum 2000-an hingga sekarang dan ke depan. Juga, dibuka donasi bagi korban bencana alam di Sumatera-Aceh. Terkumpul Rp 550 ribu.

Nanang, peserta diskusi Reset Indonesia menyampaikan kegelisahannya. Dia bertanya, jika ada dokumenter Dirty Vote O3 yang berdurasi empat jam untuk empat tahun ke depan maka bagaimana cara meyakinkan orang sekitar untuk memilih pemimpin ke depan. Juga, mempertanyakan bagaimana nasib bangsa selanjutnya. "Apakah akan dijual? Kalau seperti itu ya saya kerja buat mengumpulkan uang untuk pindah negara," sindirnya dengan lantang.

Ketua AJI Bojonegoro M. Suaeb menyampaikan, diskusi diselenggarakan di Kafe Mantri, Desa Wedi, Kecamatan Kapas merupakan kesempatan luar biasa. Harus digunakan sebaik-baiknya. "Dan, terima kasih pihak kepolisian sudah mengamankan. Saya yakin yang hadir di sini bukan karena instruksi tapi dengan panggilan hati, untuk membangun negara tercinta, Indonesia Raya," sindirnya.

Advertisement

Sueb melanjutkan, forum seperti itu penting. Menggairahkan membangun Indonesia, khususnya Bojonegoro. Menurutnya, buku Reset Indonesia mengurai berbagai hal hingga bagaimana Indonesia ke depan. "Apakah hari ini kita sudah merdeka atau belum, ya tergantung kita menilainya," lanjut dia.

Pemimpin Redaksi (Pemred) Jawa Pos Radar Bojonegoro itu juga menyentil sejumlah program pemerintah. Misalnya makan bergizi gratis (MBG). Bernarasi gratis padahal uang negara. Juga, satu sisi ada saudara bencana yang kelaparan. "Forum ini forum langka, karena tidak dibiayai uang negara" ujarnya.

Tim penulis buku Reset Indonesia, Yusuf Priambodo menuturkan, ekspedisi dilakukan adalah tentang bagaimana melihat Indonesia dari dekat. Tapi, bukan layaknya vlog yang menampilkan sejuta keindahan tapi persoalan. "Kalau cerita mungkin enak ya, setiap hari kita bisa makan, tahu padi, pedas, ikan, segala macam. Tapi ternyata di hal mendasar menjadi petani dan nelayan itu susah banget," ujar gen milenial itu.

Sebab, lanjut Yusuf, dua profesi itu menjadi profesi miskin di Indonesia. Tapi, tiap tahun lahan petani kian turun dan tergerus. Kalah dengan perumahan hingga koperasi desa/kelurahan merah putih (KDMP). "Salah satu yang kami soroti itu. Bagaimana pembagian tanah yang tidak merata. Juga, apakah penggunaan baterai listrik untuk pengurangan emisi karbon," tegas pria asal Tuban itu.

Tim Penulis Buku Reset Indonesia, Farid Gaban menambahkan, kerusakan alam, bencana yang terjadi di Sumatera-Aceh sudah diprediksi sejak lama. Melalui film dokumenter 17 Surat Cinta. Pengiriman belasan surat yang tak kunjung dijawab. Dia mengatakan, generasi muda saat ini peduli dengan nasib bangsa.

Jika ditanya bagaimana meyakinkan masyarakat dalam memilih pemimpin atau perubahan, lanjut dia, harus dilakukan bersama. Tidak bisa hanya sebagian kecil yang menginginkan. Tapi, ia yakin, rezim atau penguasa yang antikritik akan tumbang. "Kita juga tidak bisa membenci politik. Karena politik melahirkan kebijakan publik," tandas generasi baby boomer itu. (yna/msu)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Mulai Masuk Awal Penghujan, BPBD Blora Petakan Titik Rawan Bencana

Mulai Masuk Awal Penghujan, BPBD Blora Petakan Titik Rawan Bencana

Memasuki musim penghujan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Blora mulai memetakan titik rawan bencana. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi potensi bencana alam.

Radar History: Hujan Angin Terjang 62 Bangunan Bojonegoro

Radar History: Hujan Angin Terjang 62 Bangunan Bojonegoro

Bencana di Bojonegoro tak hanya terjadi beberapa waktu terakhir.

Puisi Radar Bojonegoro: Oleh Mahrus Ali

Puisi Radar Bojonegoro: Oleh Mahrus Ali

Engkau Kembali dan Aku Masih Disini, Menunggu Kepastian, dan Pesta di Balik Bara

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer