alexametrics
28.4 C
Bojonegoro
Thursday, May 26, 2022

Gurih Meski Hanya Dipadu Kecap

LAMONGAN, Radar Lamongan  – Hingar bingar kendaraan ramai berseliweran di Jalan Mastrip Lamongan, kemarin (21/1). Namun, di jalur kabupaten ini terdapat kuliner burung dara goreng yang cukup legendaris. Rasanya gurih meski hanya dipadukan dengan sambal kecap. 

Bangunan cokelat tersebut terlihat sepi dari luar. Saat masuk ke dalam, barulah wartawan koran ini bertemu si-empunya pembuat kuliner burung dara tersebut. Tampak Rifai sedang sibuk membersihkan burung dara, bebek, dan ayam di timba berwarna hitam besar.  

Pria berusia 69 tahun tersebut cukup cekatan dalam mengolah burung dara. Bumbu kuliner burung dara tersebut, merupakan racikannya sendiri. Sehingga, cita rasanya bisa terjaga sejak Tahun 1989 hingga sekarang. 

‘’Saya suka kuliner dan memasak saat remaja dulu sampai sakarang,’’ terang Rifai sembari tangannya tak berhenti mengolah burung dara. 

Baca Juga :  Persela Lamongan Tampung Masukan Nama Pelatih Baru

Awalnya, Rifai bekerja di salah satu bank di Surabaya. Saat itu, dia termotivas untuk membuka bisnis kuliner. Rifai akhirnya resign dari tempat kerjanya. Saat itu dia belum memiliki ide, kuliner apa yang akan dikembangkan. Sampai pada satu saat, Rifai makan di salah satu warung kuliner di Surabaya. Itu menjadi ide awal baginya membuat bisnis burung dara.Rifai menggunakan burung dara yang masih muda. Sebab, dagingnya dinilai masih guring dan tulangnya cukup renyah. 

‘’Tentunya yang diperhatikan bulu harus bersih semua. Jangan sampai ada satu pun yang tersisa,’’ imbuhnya. 

Selama 33 tahun ini, Rifai hanya berpidah lapak jualan selama dua kali. Seluruh burung dara dipasok dari Kecamatan Babat.  Dia sharing bersama istri dan bereksperimen sambal yang cocok untuk kuliner burung dara ini. Diantaranya memadukan dengan sambal uleg, tapi tak begitu cocok. Akhirnya, Rifai menemukan sambal yang cocok, yakni menggunakan sambal kecal. Dia menemukan perpaduan gurih dan manis. 

Baca Juga :  Balada Seribu Guru

‘’Setelah buka, berfikir lagi untuk menemukan resep sambal yang digunakan sampai sekarang,’’ tegas bapak dua anak ini. 

Rifai merasakan pahit getir menjalankan bisnis kuliner ini. Awal membuka, dia menjual dengan harga Rp 900 per porsi. Itupun sudah termasuk dengan nasi dengan menu lengkap yakni dua sayap, dua paha, dada, kepala dan ampela.  Kini, kuliner burung dara buatan Rifai seharga Rp 40 ribu per porsi. 

 ‘’Dalam sehari 50 ekor hingga 60 ekor burung dara. Pelanggan paling sering membawa pulang daripada makan di sini,’’ katanya.

LAMONGAN, Radar Lamongan  – Hingar bingar kendaraan ramai berseliweran di Jalan Mastrip Lamongan, kemarin (21/1). Namun, di jalur kabupaten ini terdapat kuliner burung dara goreng yang cukup legendaris. Rasanya gurih meski hanya dipadukan dengan sambal kecap. 

Bangunan cokelat tersebut terlihat sepi dari luar. Saat masuk ke dalam, barulah wartawan koran ini bertemu si-empunya pembuat kuliner burung dara tersebut. Tampak Rifai sedang sibuk membersihkan burung dara, bebek, dan ayam di timba berwarna hitam besar.  

Pria berusia 69 tahun tersebut cukup cekatan dalam mengolah burung dara. Bumbu kuliner burung dara tersebut, merupakan racikannya sendiri. Sehingga, cita rasanya bisa terjaga sejak Tahun 1989 hingga sekarang. 

‘’Saya suka kuliner dan memasak saat remaja dulu sampai sakarang,’’ terang Rifai sembari tangannya tak berhenti mengolah burung dara. 

Baca Juga :  Ditantang Uji Coba, Persela U-19 Bakal Lawan Tiga Klub Besar 

Awalnya, Rifai bekerja di salah satu bank di Surabaya. Saat itu, dia termotivas untuk membuka bisnis kuliner. Rifai akhirnya resign dari tempat kerjanya. Saat itu dia belum memiliki ide, kuliner apa yang akan dikembangkan. Sampai pada satu saat, Rifai makan di salah satu warung kuliner di Surabaya. Itu menjadi ide awal baginya membuat bisnis burung dara.Rifai menggunakan burung dara yang masih muda. Sebab, dagingnya dinilai masih guring dan tulangnya cukup renyah. 

‘’Tentunya yang diperhatikan bulu harus bersih semua. Jangan sampai ada satu pun yang tersisa,’’ imbuhnya. 

Selama 33 tahun ini, Rifai hanya berpidah lapak jualan selama dua kali. Seluruh burung dara dipasok dari Kecamatan Babat.  Dia sharing bersama istri dan bereksperimen sambal yang cocok untuk kuliner burung dara ini. Diantaranya memadukan dengan sambal uleg, tapi tak begitu cocok. Akhirnya, Rifai menemukan sambal yang cocok, yakni menggunakan sambal kecal. Dia menemukan perpaduan gurih dan manis. 

Baca Juga :  Wisuda Purna Siswa ke-65 dan Tahfidzul Qur’an ke-6 SMPN 1 Lamongan

‘’Setelah buka, berfikir lagi untuk menemukan resep sambal yang digunakan sampai sekarang,’’ tegas bapak dua anak ini. 

Rifai merasakan pahit getir menjalankan bisnis kuliner ini. Awal membuka, dia menjual dengan harga Rp 900 per porsi. Itupun sudah termasuk dengan nasi dengan menu lengkap yakni dua sayap, dua paha, dada, kepala dan ampela.  Kini, kuliner burung dara buatan Rifai seharga Rp 40 ribu per porsi. 

 ‘’Dalam sehari 50 ekor hingga 60 ekor burung dara. Pelanggan paling sering membawa pulang daripada makan di sini,’’ katanya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/