alexametrics
23.9 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

Demam Korea, Sampai Makananpun ini Jadi Incaran

TUBAN – Demam Korea di Tuban masih booming. Setelah tren kultur pop seperti dance dan drama yang digandrungi para remaja, kini demam Negeri Ginseng itu merambah dunia kuliner. 

Sejumlah pebisnis mulai melirik makanan dari negeri di belahan Asia Timur itu. Menu makanan berat dan ringan pun mulai banyak terlihat di sejumlah rumah makan dan kafe Bumi Wali.

Makanan Korea Selatan yang mulai dilirik pebisnis yakni makanan yang sudah populer di kalangan penggemar kuliner. Seperti Kimbap, Bulgogi, Kimchi, dan Ramyeon.

Selain tampilan, rasa pun dibuat semirip mungkin dengan menu aslinya. Bahkan agar melengkapi keindahan menu, piranti yang ikut disajikan impor langsung dari Korea. Seperti piring tatakan menu, mangkok, hingga wajan pemasak Bulgogi.

Baca Juga :  Han Ji-Pyeong atau Nam Do-San? Ini Pilihan Dal-Mi...

Kamala, pemilik salah satu bisnis kuliner Korea di Tuban mengatakan, menu khusus yang disediakan tidak hanya mengincar para penggila tren Korea saja.

Melainkan untuk mengincar para pemburu makanan Asia. Umumnya, kuliner impor yang ada di Tuban sudah dimodifikasi sesuai lidah masyarakat Indonesia.

Namun Kamala menolak menunya dimodifikasi. ‘’Di kota besar, menu Korea ya rasanya dibuat semirip mungkin seperti aslinya. Saya ingin seperti itu,’’ tuturnya.

Wanita jebolan Universitas Brawijaya (UB) Malang itu mengatakan, untuk membuat menu tersebut, dia mengumpulkan berbagai referensi.

Selain dari buku dan bacaan di internet, dia juga berburu langsung ke chef rumah makan Korea yang ada di Surabaya dan Malang.

Baca Juga :  Kreatif, Ciptakan Kopi Ala luar Rasa Lokal

Sebab, di kota-kota itu, menu asing sudah biasa mengisi hotel dan restoran. ‘’Membuat menu seperti ini tidak mudah, harus belajar ke ahlinya langsung,’’ ujarnya.

Rahmatul Laili, penikmat kuliner Korea mengaku menikmati menu baru tersebut. Hanya saja, menurut dia, tidak semua lidah masyarakat cocok dengan menu asli luar negeri.

Sebab masyarakat Indonesia terbiasa dengan menu dengan rasa rempah-rempah yang terasa. Sehingga pebisnis kuliner harus lebih inovatif dengan menyajikan menu asing dengan rasa lokal agar terus diminati pasar.

‘’Kalau ada pilihan rasa original dan rasa nusantara pasti lebih mantap,’’ kata dia.

TUBAN – Demam Korea di Tuban masih booming. Setelah tren kultur pop seperti dance dan drama yang digandrungi para remaja, kini demam Negeri Ginseng itu merambah dunia kuliner. 

Sejumlah pebisnis mulai melirik makanan dari negeri di belahan Asia Timur itu. Menu makanan berat dan ringan pun mulai banyak terlihat di sejumlah rumah makan dan kafe Bumi Wali.

Makanan Korea Selatan yang mulai dilirik pebisnis yakni makanan yang sudah populer di kalangan penggemar kuliner. Seperti Kimbap, Bulgogi, Kimchi, dan Ramyeon.

Selain tampilan, rasa pun dibuat semirip mungkin dengan menu aslinya. Bahkan agar melengkapi keindahan menu, piranti yang ikut disajikan impor langsung dari Korea. Seperti piring tatakan menu, mangkok, hingga wajan pemasak Bulgogi.

Baca Juga :  Gary Evan : Dipercaya Memotret untuk Seluruh Prosesi Kahiyang-Bobby

Kamala, pemilik salah satu bisnis kuliner Korea di Tuban mengatakan, menu khusus yang disediakan tidak hanya mengincar para penggila tren Korea saja.

Melainkan untuk mengincar para pemburu makanan Asia. Umumnya, kuliner impor yang ada di Tuban sudah dimodifikasi sesuai lidah masyarakat Indonesia.

Namun Kamala menolak menunya dimodifikasi. ‘’Di kota besar, menu Korea ya rasanya dibuat semirip mungkin seperti aslinya. Saya ingin seperti itu,’’ tuturnya.

Wanita jebolan Universitas Brawijaya (UB) Malang itu mengatakan, untuk membuat menu tersebut, dia mengumpulkan berbagai referensi.

Selain dari buku dan bacaan di internet, dia juga berburu langsung ke chef rumah makan Korea yang ada di Surabaya dan Malang.

Baca Juga :  Dibalik Viral Pre Wedding Kahiyang-Bobby, Ternyata Ada Cah Jonegoro

Sebab, di kota-kota itu, menu asing sudah biasa mengisi hotel dan restoran. ‘’Membuat menu seperti ini tidak mudah, harus belajar ke ahlinya langsung,’’ ujarnya.

Rahmatul Laili, penikmat kuliner Korea mengaku menikmati menu baru tersebut. Hanya saja, menurut dia, tidak semua lidah masyarakat cocok dengan menu asli luar negeri.

Sebab masyarakat Indonesia terbiasa dengan menu dengan rasa rempah-rempah yang terasa. Sehingga pebisnis kuliner harus lebih inovatif dengan menyajikan menu asing dengan rasa lokal agar terus diminati pasar.

‘’Kalau ada pilihan rasa original dan rasa nusantara pasti lebih mantap,’’ kata dia.

Artikel Terkait

Most Read

Klaim Dapat Izin Perhutani

Terbitkan SE Wajib Vaksin

Artikel Terbaru


/