alexametrics
24.4 C
Bojonegoro
Thursday, June 30, 2022

Harga Bahan Baku Naik, Kurangi Produksi Kipas

LAMONGAN, Radar Lamongan – Harga bahan pembuatan kipas anyaman bambu semakin naik. Perajin memilih mengurangi produksi sambil menunggu respons pasar.

 

Menurut Rianto,  perajin dan pedagang kipas bambu asal Desa Sukolilo, Kecamatan Sukodadi, harga kipas tidak mengalami kenaikan. Namun, harga bahan bakunya   naik.

 

‘’Harga plastik dan ganggang bambunya saat ini naik terus. Jadi keuntungannya menipis,” keluhnya.

 

Harga plastik yang sebelumnya Rp 110 ribu per rol, kini sudah Rp 185 ribu. ‘’Waktu covid, penjualan tidak pengaruh,” tuturnya.

 

Saat ini, dia memroduksi 10 ribu kipas selama sebulan. Sebelumnya, Rianto memroduksi dua kali lipatnya.

 

Rudi Santoso, perajin dan pedagang kipas lainnya di desa setempat, mengatakan, keuntungan yang didapat hanya sedikit. “Saya biasanya stok banyak Mas, sekarang saya kurangi. Karena keuntungannya dikit, tidak sebanding dengan biaya produksi dan tenaganya,” katanya.

Baca Juga :  12 Kecamatan di Lamongan Masih Zona Kuning

 

Menurut dia, setiap pedagang memiliki pangsa oasar sendiri. Rudi biasanya mengirimkan hasil kerajinannya ke Ponorogo, Semarang, dan Cilacap. “Biasanya sebulan sekali kirim ke satu tempat, dan langsung banyak biar tidak rugi di kendaraan,” jelasnya. (sip/yan)

LAMONGAN, Radar Lamongan – Harga bahan pembuatan kipas anyaman bambu semakin naik. Perajin memilih mengurangi produksi sambil menunggu respons pasar.

 

Menurut Rianto,  perajin dan pedagang kipas bambu asal Desa Sukolilo, Kecamatan Sukodadi, harga kipas tidak mengalami kenaikan. Namun, harga bahan bakunya   naik.

 

‘’Harga plastik dan ganggang bambunya saat ini naik terus. Jadi keuntungannya menipis,” keluhnya.

 

Harga plastik yang sebelumnya Rp 110 ribu per rol, kini sudah Rp 185 ribu. ‘’Waktu covid, penjualan tidak pengaruh,” tuturnya.

 

Saat ini, dia memroduksi 10 ribu kipas selama sebulan. Sebelumnya, Rianto memroduksi dua kali lipatnya.

 

Rudi Santoso, perajin dan pedagang kipas lainnya di desa setempat, mengatakan, keuntungan yang didapat hanya sedikit. “Saya biasanya stok banyak Mas, sekarang saya kurangi. Karena keuntungannya dikit, tidak sebanding dengan biaya produksi dan tenaganya,” katanya.

Baca Juga :  Persela Tahan Imbang Barito Putra

 

Menurut dia, setiap pedagang memiliki pangsa oasar sendiri. Rudi biasanya mengirimkan hasil kerajinannya ke Ponorogo, Semarang, dan Cilacap. “Biasanya sebulan sekali kirim ke satu tempat, dan langsung banyak biar tidak rugi di kendaraan,” jelasnya. (sip/yan)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/