alexametrics
23.5 C
Bojonegoro
Wednesday, August 10, 2022

Bapenda Optimistis Target Rp 11 Miliar Terpenuhi

Pelanggan Resto di Bojonegoro Awalnya Sambat Pajak

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Pendapatan sektor pajak restoran tahun ini ditarget bisa mencapai Rp 11,2 miliar. Jumlah itu diperkirakan bakal dinaikkan pada Perubahan (P)-APBD 2022 mendatang. Pengusaha restoran berharap ada penurunan besaran pajak yang dikenakan itu.

 

Butuh edukasi masif atas pemberian pajak resto ini. Setidaknya agar pengusaha resto terbantu menjelaskan terhadap pelanggan. Sebab, awalnya terdapat pelanggan yang menolak pajak restoran 10 persen setiap transaksi. Pajak itu dibebankan pelanggan.

 

Irwan Musyanto salah satu pengusaha restoran di Bojonegoro mengatakan, bahwa pajak dibebankan pada pelanggan itu awalnya membuat pelanggan mengeluh. Mereka keget harga makanan saat dibayar naik. ‘’Awal-awal mereka menolak saat dikenai pajak,’’ ujarnya.

Baca Juga :  2.275 Pendaftar PPPK Bersaing Memperebutkan 351 Formasi

 

Namun, pihaknya memberikan penjelasan bahwa pajak itu kewajiban harus dibayar. Saat ini, sebagian besar pelanggan sudah tidak mempermasalahkan itu. Meskipun masih ada satu atau dua pelanggan komplain terkait itu.

 

Karena itu, pihaknya berharap pajak dibebankan itu diberikan keringanan. Selama Covid-19 dulu juga tidak ada keringanan pajak. ‘’Kalau ada keringanan kan lebih enak,’’ jelasnya.

 

Saat ini pembeli di restoran sudah mulai normal. Itu seiring dicabutnya pemakaian masker di tempat umum. Sehingga, banyak orang mulai kegiatan di rumah makan.

 

Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Bojonegoro Ibnu Soeyoeti mengatakan, target pajak itu rencananya akan dinaikkan pada P-APBD mendatang. Diperkirakan targetnya berubah menjadi Rp 12,2 miliar. Ada kenaikan Rp 1 miliar dari target awal. ‘’Kami yakin bisa mencapai target itu,’’ jelasnya kemarin.

Baca Juga :  Boleh Tadarus dan Itikaf di Masjid Maksimal 50 Persen

 

Hingga kini target sudah menembus angka Rp 6,6 miliar. Sehingga, di sisa enam bulan terakhir ini target dipastikan bisa tercapai. Apalagi, momen-momen liburan dan akhir tahun transaksi di restoran bakal meningkat.

 

Pajak restoran tidak dibayar oleh pengusaha resto. Pajak itu dibebankan pada para pembeli makanan dan minuman di restoran itu. Semakin banyak pembeli, pajak dibayar semakin banyak. (zim/rij)

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Pendapatan sektor pajak restoran tahun ini ditarget bisa mencapai Rp 11,2 miliar. Jumlah itu diperkirakan bakal dinaikkan pada Perubahan (P)-APBD 2022 mendatang. Pengusaha restoran berharap ada penurunan besaran pajak yang dikenakan itu.

 

Butuh edukasi masif atas pemberian pajak resto ini. Setidaknya agar pengusaha resto terbantu menjelaskan terhadap pelanggan. Sebab, awalnya terdapat pelanggan yang menolak pajak restoran 10 persen setiap transaksi. Pajak itu dibebankan pelanggan.

 

Irwan Musyanto salah satu pengusaha restoran di Bojonegoro mengatakan, bahwa pajak dibebankan pada pelanggan itu awalnya membuat pelanggan mengeluh. Mereka keget harga makanan saat dibayar naik. ‘’Awal-awal mereka menolak saat dikenai pajak,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Tahun Ajaran Baru Dipastikan Masih Pembelajaran Jarak Jauh

 

Namun, pihaknya memberikan penjelasan bahwa pajak itu kewajiban harus dibayar. Saat ini, sebagian besar pelanggan sudah tidak mempermasalahkan itu. Meskipun masih ada satu atau dua pelanggan komplain terkait itu.

 

Karena itu, pihaknya berharap pajak dibebankan itu diberikan keringanan. Selama Covid-19 dulu juga tidak ada keringanan pajak. ‘’Kalau ada keringanan kan lebih enak,’’ jelasnya.

 

Saat ini pembeli di restoran sudah mulai normal. Itu seiring dicabutnya pemakaian masker di tempat umum. Sehingga, banyak orang mulai kegiatan di rumah makan.

 

Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Bojonegoro Ibnu Soeyoeti mengatakan, target pajak itu rencananya akan dinaikkan pada P-APBD mendatang. Diperkirakan targetnya berubah menjadi Rp 12,2 miliar. Ada kenaikan Rp 1 miliar dari target awal. ‘’Kami yakin bisa mencapai target itu,’’ jelasnya kemarin.

Baca Juga :  Sidang Tuntutan Rozi Ditunda

 

Hingga kini target sudah menembus angka Rp 6,6 miliar. Sehingga, di sisa enam bulan terakhir ini target dipastikan bisa tercapai. Apalagi, momen-momen liburan dan akhir tahun transaksi di restoran bakal meningkat.

 

Pajak restoran tidak dibayar oleh pengusaha resto. Pajak itu dibebankan pada para pembeli makanan dan minuman di restoran itu. Semakin banyak pembeli, pajak dibayar semakin banyak. (zim/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Tiang Listrik Membahayakan

FEB UMLA Gelar Sekolah BUMDes

Artikel Terbaru


/