alexametrics
23.7 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

Menyantap Legitnya Nasi Letok Bu Layem

Generasi Ketiga, Pertahankan Cita Rasa

LAMONGAN, Radar Lamongan – Nasi Letok Bu Layem menjadi kuliner yang cukup legendaris. Warungnya sederhana hanya menggunakan tiang kayu dan dicat berwarna biru muda. Selain itu, lokasinya di jalan desa di Dusun Karang Tapen, Desa Karanglangit, Kecamatan/ Kabupaten Lamongan.

Meski begitu, kuliner yang sudah puluhan tahun ada itu tak pernah sepi pengunjung. Ketika memasuki dapur sederhana, tercium aroma khas bumbu rempah-rempah. Di kompor dua tungku terlihat wajan dengan kuah berwarna kuning. Disampingnya tampak panci berukuran sedang berisi bumbu letok berwarna cokelat. Dengan cekatan, Layem mempersiapkan satu porsi nasi letok. Sekilas ketika disajikan, nasi letok seperti tampilan nasi pecel. Namun, sebenarnya bumbu dan cara memasaknya berbeda.

‘’Kalau ke sini habis Subuh sampai jam 7 mas. Kalau agak siang, biasanya nasi letok sudah habis. Untuk menu lain seperti pecel, soto, dan rawon hingga sore masih ada,’’ tutur Layem sembari menghidangkan satu porsi nasi letok untuk pelanggannya.

Baca Juga :  Darurat Covid! Dua Pekan, Enam Warga Desa Sidodowo Meninggal

Layem menceritakan, nasi letok ini sudah ada sejak lama. Dia mengaku menjadi generasi ketiga dikeluarganya, yakni menggantikan ibunya yang dulunya berjualan nasi letok. Resep nasi letok ini sudah turun temurun. Dulu, terang Layem, neneknya hanya menjual nasi letok dengan lauk gimbal. Namun, kini dirinya menambahi peyek dan tahu.

‘’Saya gantikan ibu saya ini sekitar Tahun 2002. Nanti juga anak saya yang bakal meneruskan,” ucap perempuan sepuh yang wajahnya penuh kerutan tersebut. ‘’Nasi letok tetap jadi andalan dan kesukaan pelanggan kami. Bahkan saat pelanggan datang dan diberitahu gimbalnya habis, kadang ada yang langsung pulang tanpa mampir dulu,” imbuhnya.

Layem tak segan menunjukkan bumbu rahasia turun-temurun tersebut. Meliputi ketumbar, kemiri, daun jeruk, daun salam, bawang, dan cabe atau istilah orang Jawa yakni bumbu jangkep (lengkap). Awalnya, dia mengupah sejumlah rempah-rempah. Setelah dihaluskan dengan blender, bumbu tersebut dimasak sambil diaduk di dalam panci atau di-gongso sekitar 30 menit. Tujuannya agar bumbunya tidak cepat basi Dalam sehari, Layem mengaku membuat sekitar 1,5 kilogram(kg) hingga 2 kg bumbu letok.

Baca Juga :  Ribuan Siswa Ikuti Tryout, Bukti Totalitas SMP Hadapi UNBK

Menariknya, bumbu letok yang baru selesai dimasak tak langsung dihidangkan dihari itu. Namun, bumbu diendapkan sehari terlebih dulu, agar bumbu bisa menjadi lebih sedap.

‘’Bumbu letok itu perlu nginap dulu. Rahasianya di sana, agar bumbunya merasuk dan enak. Jadi bumbu dimasak sekarang kemudian disajikan besok, nanti sore dimasak lagi,” tukasnya.

Sedangkan untuk gimbal dan nasi baru disiapkan saat Shubuh. Sehingga, bakda Subuh masih fresh. Sehari-hari, Layem dibantu anaknya. Dalam sehari, Layem membuat sekitar 200 biji gimbal.

Layem menuturkan, neneknya dulu membuat gimbal dari singkong. Namun, dia bereksperimen dengan mengubah menjadi bahan tepung. Selain itu, dulunya nasi letok disajikan menggunakan daun jati. Namun, Layem kini beralih menggunakan kertas minyak.

‘’Pelanggan terkadang rombongan dari luar desa,” terangnya. (sip/ind)

LAMONGAN, Radar Lamongan – Nasi Letok Bu Layem menjadi kuliner yang cukup legendaris. Warungnya sederhana hanya menggunakan tiang kayu dan dicat berwarna biru muda. Selain itu, lokasinya di jalan desa di Dusun Karang Tapen, Desa Karanglangit, Kecamatan/ Kabupaten Lamongan.

Meski begitu, kuliner yang sudah puluhan tahun ada itu tak pernah sepi pengunjung. Ketika memasuki dapur sederhana, tercium aroma khas bumbu rempah-rempah. Di kompor dua tungku terlihat wajan dengan kuah berwarna kuning. Disampingnya tampak panci berukuran sedang berisi bumbu letok berwarna cokelat. Dengan cekatan, Layem mempersiapkan satu porsi nasi letok. Sekilas ketika disajikan, nasi letok seperti tampilan nasi pecel. Namun, sebenarnya bumbu dan cara memasaknya berbeda.

‘’Kalau ke sini habis Subuh sampai jam 7 mas. Kalau agak siang, biasanya nasi letok sudah habis. Untuk menu lain seperti pecel, soto, dan rawon hingga sore masih ada,’’ tutur Layem sembari menghidangkan satu porsi nasi letok untuk pelanggannya.

Baca Juga :  Tawarkan Uang Baru di Pinggir Jalan

Layem menceritakan, nasi letok ini sudah ada sejak lama. Dia mengaku menjadi generasi ketiga dikeluarganya, yakni menggantikan ibunya yang dulunya berjualan nasi letok. Resep nasi letok ini sudah turun temurun. Dulu, terang Layem, neneknya hanya menjual nasi letok dengan lauk gimbal. Namun, kini dirinya menambahi peyek dan tahu.

‘’Saya gantikan ibu saya ini sekitar Tahun 2002. Nanti juga anak saya yang bakal meneruskan,” ucap perempuan sepuh yang wajahnya penuh kerutan tersebut. ‘’Nasi letok tetap jadi andalan dan kesukaan pelanggan kami. Bahkan saat pelanggan datang dan diberitahu gimbalnya habis, kadang ada yang langsung pulang tanpa mampir dulu,” imbuhnya.

Layem tak segan menunjukkan bumbu rahasia turun-temurun tersebut. Meliputi ketumbar, kemiri, daun jeruk, daun salam, bawang, dan cabe atau istilah orang Jawa yakni bumbu jangkep (lengkap). Awalnya, dia mengupah sejumlah rempah-rempah. Setelah dihaluskan dengan blender, bumbu tersebut dimasak sambil diaduk di dalam panci atau di-gongso sekitar 30 menit. Tujuannya agar bumbunya tidak cepat basi Dalam sehari, Layem mengaku membuat sekitar 1,5 kilogram(kg) hingga 2 kg bumbu letok.

Baca Juga :  Bantah Hutan Gundul Picu Banjir

Menariknya, bumbu letok yang baru selesai dimasak tak langsung dihidangkan dihari itu. Namun, bumbu diendapkan sehari terlebih dulu, agar bumbu bisa menjadi lebih sedap.

‘’Bumbu letok itu perlu nginap dulu. Rahasianya di sana, agar bumbunya merasuk dan enak. Jadi bumbu dimasak sekarang kemudian disajikan besok, nanti sore dimasak lagi,” tukasnya.

Sedangkan untuk gimbal dan nasi baru disiapkan saat Shubuh. Sehingga, bakda Subuh masih fresh. Sehari-hari, Layem dibantu anaknya. Dalam sehari, Layem membuat sekitar 200 biji gimbal.

Layem menuturkan, neneknya dulu membuat gimbal dari singkong. Namun, dia bereksperimen dengan mengubah menjadi bahan tepung. Selain itu, dulunya nasi letok disajikan menggunakan daun jati. Namun, Layem kini beralih menggunakan kertas minyak.

‘’Pelanggan terkadang rombongan dari luar desa,” terangnya. (sip/ind)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/