alexametrics
27.4 C
Bojonegoro
Friday, July 1, 2022

Seminggu Nelayan di Wilayah Pantura Lamongan Berhenti Melaut

BRONDONG, Radar Lamongan – Sebagian besar nelayan di wilayah pantura Lamongan memutuskan berhenti melaut selama satu minggu ini. Penyebabnya, angin kencang.

 

Nur Wakhid, ketua Nelayan Blimbing, mengatakan, cuaca di laut cukup ekstrim. Angin kencang membahayakan nelayan yang ingin mencari ikan. Apalagi, beberapa hari lalu satu kapal nelayan terguling saat mencari ikan.

 

‘’Semua nelayan berhenti total tidak melaut kurang lebih seminggu lamanya,’’ ucapnya.

 

Menurut dia, nelayan sudah mendapatkan peringatan dari petugas BMKG dan Polairud Polres Lamongan. Dampak buruknya cuaca dapat dilihat dari adanya banjir rob di sejumlah wilayah.

 

Wakhid menambahkan, jika setelah seminggu cuaca masih menburuk, maka nelayan bakal memerpanjang masa tidak melautnya. Dia memerkirakan ketinggian ombak saat ini hingga 2 meter.

Baca Juga :  Realisasi Vaksinasi Belum Optimal

 

Sebagian nelayan yang tidak melaut, memanfaatkan waktunya untuk membenahi alat tangkap jaring yang rusak. Juga, mengecek kondisi perahu.

 

Seperti diberitakan, kapal tanpa nama yang dinakhodai Saiful Arip, 39, warga Desa Banjarwati, Kecamatan Paciran dengan dua ABK, Matakim, 50, warga Desa Kemantren dan Anzis, 40, warga Desa Weru, Kecamatan Paciran, terguling.  Jaraknya sekitar dua mil dari daratan.

 

Kapal hilang ditelan ombak. Nakhoda dan dua ABK tercebur di laut. Nelayan Cumpleng, Desa Brengkok, Kecamatan Brondong yang melintas, menemukan Saiful Arip. Anzis juga dilaporkan selamat setelah ditemukan anggota rukun nelayan Blimbing.

 

Sedangkan Matakim ditemukan di perairan Tuban (26/5) dalam kondisi tidak bernyawa. Jasad dia mengapung di perairan sejarak sekitar 1 mil. (mal/yan

Baca Juga :  Pastikan Daging di Lamongan Aman Dikonsumsi

BRONDONG, Radar Lamongan – Sebagian besar nelayan di wilayah pantura Lamongan memutuskan berhenti melaut selama satu minggu ini. Penyebabnya, angin kencang.

 

Nur Wakhid, ketua Nelayan Blimbing, mengatakan, cuaca di laut cukup ekstrim. Angin kencang membahayakan nelayan yang ingin mencari ikan. Apalagi, beberapa hari lalu satu kapal nelayan terguling saat mencari ikan.

 

‘’Semua nelayan berhenti total tidak melaut kurang lebih seminggu lamanya,’’ ucapnya.

 

Menurut dia, nelayan sudah mendapatkan peringatan dari petugas BMKG dan Polairud Polres Lamongan. Dampak buruknya cuaca dapat dilihat dari adanya banjir rob di sejumlah wilayah.

 

Wakhid menambahkan, jika setelah seminggu cuaca masih menburuk, maka nelayan bakal memerpanjang masa tidak melautnya. Dia memerkirakan ketinggian ombak saat ini hingga 2 meter.

Baca Juga :  Berharap Tak Pengaruhi Stok dan Harga Minyak Goreng di Lamongan

 

Sebagian nelayan yang tidak melaut, memanfaatkan waktunya untuk membenahi alat tangkap jaring yang rusak. Juga, mengecek kondisi perahu.

 

Seperti diberitakan, kapal tanpa nama yang dinakhodai Saiful Arip, 39, warga Desa Banjarwati, Kecamatan Paciran dengan dua ABK, Matakim, 50, warga Desa Kemantren dan Anzis, 40, warga Desa Weru, Kecamatan Paciran, terguling.  Jaraknya sekitar dua mil dari daratan.

 

Kapal hilang ditelan ombak. Nakhoda dan dua ABK tercebur di laut. Nelayan Cumpleng, Desa Brengkok, Kecamatan Brondong yang melintas, menemukan Saiful Arip. Anzis juga dilaporkan selamat setelah ditemukan anggota rukun nelayan Blimbing.

 

Sedangkan Matakim ditemukan di perairan Tuban (26/5) dalam kondisi tidak bernyawa. Jasad dia mengapung di perairan sejarak sekitar 1 mil. (mal/yan

Baca Juga :  Cakades Incumbent Dominasi Kemenangan

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/