alexametrics
27.7 C
Bojonegoro
Tuesday, August 9, 2022

Menengok Budidaya Anggrek di Desa Tambakrigadung

Jenis Hibrida, Bunga Tahan Hingga Sebulan

LAMONGAN, Radar Lamongan – Di halaman depan rumah Anik Robayanah di Dusun Tambakboyo, Desa Tambakrigadung, Kecamatan Tikung tertata rapi bunga anggrek di sejumlah pot gerabah. Beberapa anggrek juga ditempel memenuhi batang pohon di depan rumahnya. 

 

Tak hanya itu, perempuan yang akrab disapa Anik itu juga menunjukkan bermacam-macam jenis anggrek di belakang rumahnya. Tampak anggrek belum seluruhnya berbunga. Anik membudidaya anggrek dan menitipkannya di sejumlah penjual bunga di Lamongan. 

 

Menjadi pembudidaya anggrek, tak hanya dari hobi tapi juga rasa penasarannya. Dia mampu menepis persepsi kebanyakan orang, jika anggrek hanya bisa dikembangbiakkan di dataran tinggi dengan suhu dingin. 

 

‘’Saya hobi koleksi anggrek. Namun karena anggrek harganya mahal, jadi saya siasati dengan bisnis anggrek, biar hobi tetap jalan,’’ tutur Anik.

 

Bidan di Puskesmas Tikung itu pernah diprotes suami, karena setiap jalan-jalan keluar kota pasti memburu anggrek. Merawat anggrek dilakukan ketika Anik sedang libur kerja. Dia menemukan kesan tersendiri saat merawat anggrek. Terutama mampu menghilangkan penat seharian bekerja. 

 

‘’Setelah pulang kerja, atau santai dirumah, lihat anggrek rasanya itu seneng dan tenang, tidak tau kenapa. Senangnya itu tidak bisa diutarakan dengan kata-kata,’’ ujarnya. ‘’Saya paling suka anggrek cattleya, karena bunganya besar dan bagus, harganya juga mahal,’’ imbuhnya.

 

Dia kini membudidaya dua jenis anggrek yakni anggrek spesies atau alami dan anggrek hibrida. Anggrek spesies merupakan anggrek yang bisa hidup tanpa perawatan khusus. Artinya biasanya tumbuh di alam atau hutan. Dan perawatannya cenderung lebih gampang.

Baca Juga :  Lamongan Jadi Buah Bibir Nasional: Barometer Agribisnis Jagung

 

Sedangkan, terang dia, anggrek hibrida merupakan anggrek yang ada campur tangan manusia. Perlu perawatan khusus, dengan memberikan nutrisi atau pupuk yang mengandung NPK setiap seminggu sekali. Selain itu, anggrek hibrida juga harus rutin mendapatkan asupan vitamin B1.

 

‘’Untuk pemberian pupuk dan vitamin B1 bisa bergantian. Untuk vitamin B1 biasanya saya beri satu bulan sekali,’’ katanya.

 

Tipe anggrek juga memengaruhi masa bunganya. Untuk anggrek spesies biasanya bunganya 1 hari sudah rontok. Berbeda dengan anggrek hibrida,  yang tahan satu bulan tidak rontok.

 

‘’Nanti setelah rontok, enam bulan bakal bunga lagi. Namun terkadang untuk jenis spesies anggrek itu musiman. Misalnya Maret, anggrek tertentu bakal berbunga,’’ tukasnya.

 

Selain pemupukan, Anik juga melakukan penyemprotan rutin setiap satu minggu sekali. Basanya dia melakukan penyemprotan insektisida untuk mencegah hama. Kemudian dilakukan penyemprotan fungisida, untuk menghindari serangan jamur pada anggrek.

 

‘’Kalau batang sudah busuk seperti ini, langsung saya potong mas. Kemudian saya beri betadine,’’ ucap Anik sambil menunjukan tanaman yang batangnya busuk.

 

Penyiraman anggrek harus rutin sehari sekali. Kadar air dan kelembapan juga perlu dijaga. Sebab, jika kelebihan air maka menyebabkan tanaman membusuk. Air yang digunakan harus air bersih. Dia memiliki pengalaman menggunakan air kotor untuk menyiram, yang justru membuat anggrek busuk dan rusak. 

Baca Juga :  Antisipasi Balap Liar di Jalan raya Lamongan - Tuban

 

‘’Lebih baik di siram secukupnya, kalau hujan tidak perlu disiram lagi,’’ ucapnya.

Anik selalu update hal yang berkaitan dengan anggrek. Sebenarnya, budidaya anggrek harus terdapat tempat khusus yang ditutup plastik UV dan ditutup paranet. Namun, keterbatasan modal, membuat Anik masih membudidaya seadanya. 

 

‘’Insyaallah nanti saya bakal membuat seperti itu. Saat ini belum, soalnya perlu mempersiapkan biaya,’’ katanya.

 

Anik memperbanyak anggrek dengan memotong anakan batang yang tumbuh akarnya. Tujuannya agar nantinya pertumbuhannya  bisa lebih cepat.  

 

‘’Alat potongnya ini harus steril. Jadi setelah saya potong, nanti batangnya dikasih betadine. Kemudian tanaman itu langsung saya tanam di media kokopit, diberi vitamin B agar pertumbuhan akarnya cepat,’’ jelasnya. ‘’Saya lebih suka ditempel di pohon, karena juga dapat nutrisi dari pohon yang ditempeli,’’ katanya.

 

Harga anggrek yang dia miliki berkisar antara Rp 30 ribu hingga Rp 300 ribu per teanaman. Sedangkan, jenis anggrek dendrodium harganya berkisar Rp 30 ribu hingga Rp 60 ribu. Anik menyarankan pehobi pemula merawat anggrek jenis dendrodium. 

 

‘’Anggrek dendrodium perawatanya lebih mudah dibandingkan anggrek cattliya dan anggrek vanda,’’ terangnya. (sip/ind)

LAMONGAN, Radar Lamongan – Di halaman depan rumah Anik Robayanah di Dusun Tambakboyo, Desa Tambakrigadung, Kecamatan Tikung tertata rapi bunga anggrek di sejumlah pot gerabah. Beberapa anggrek juga ditempel memenuhi batang pohon di depan rumahnya. 

 

Tak hanya itu, perempuan yang akrab disapa Anik itu juga menunjukkan bermacam-macam jenis anggrek di belakang rumahnya. Tampak anggrek belum seluruhnya berbunga. Anik membudidaya anggrek dan menitipkannya di sejumlah penjual bunga di Lamongan. 

 

Menjadi pembudidaya anggrek, tak hanya dari hobi tapi juga rasa penasarannya. Dia mampu menepis persepsi kebanyakan orang, jika anggrek hanya bisa dikembangbiakkan di dataran tinggi dengan suhu dingin. 

 

‘’Saya hobi koleksi anggrek. Namun karena anggrek harganya mahal, jadi saya siasati dengan bisnis anggrek, biar hobi tetap jalan,’’ tutur Anik.

 

Bidan di Puskesmas Tikung itu pernah diprotes suami, karena setiap jalan-jalan keluar kota pasti memburu anggrek. Merawat anggrek dilakukan ketika Anik sedang libur kerja. Dia menemukan kesan tersendiri saat merawat anggrek. Terutama mampu menghilangkan penat seharian bekerja. 

 

‘’Setelah pulang kerja, atau santai dirumah, lihat anggrek rasanya itu seneng dan tenang, tidak tau kenapa. Senangnya itu tidak bisa diutarakan dengan kata-kata,’’ ujarnya. ‘’Saya paling suka anggrek cattleya, karena bunganya besar dan bagus, harganya juga mahal,’’ imbuhnya.

 

Dia kini membudidaya dua jenis anggrek yakni anggrek spesies atau alami dan anggrek hibrida. Anggrek spesies merupakan anggrek yang bisa hidup tanpa perawatan khusus. Artinya biasanya tumbuh di alam atau hutan. Dan perawatannya cenderung lebih gampang.

Baca Juga :  Menjaga Semangat Pemain Persela Lamongan dalam Situasi Berat

 

Sedangkan, terang dia, anggrek hibrida merupakan anggrek yang ada campur tangan manusia. Perlu perawatan khusus, dengan memberikan nutrisi atau pupuk yang mengandung NPK setiap seminggu sekali. Selain itu, anggrek hibrida juga harus rutin mendapatkan asupan vitamin B1.

 

‘’Untuk pemberian pupuk dan vitamin B1 bisa bergantian. Untuk vitamin B1 biasanya saya beri satu bulan sekali,’’ katanya.

 

Tipe anggrek juga memengaruhi masa bunganya. Untuk anggrek spesies biasanya bunganya 1 hari sudah rontok. Berbeda dengan anggrek hibrida,  yang tahan satu bulan tidak rontok.

 

‘’Nanti setelah rontok, enam bulan bakal bunga lagi. Namun terkadang untuk jenis spesies anggrek itu musiman. Misalnya Maret, anggrek tertentu bakal berbunga,’’ tukasnya.

 

Selain pemupukan, Anik juga melakukan penyemprotan rutin setiap satu minggu sekali. Basanya dia melakukan penyemprotan insektisida untuk mencegah hama. Kemudian dilakukan penyemprotan fungisida, untuk menghindari serangan jamur pada anggrek.

 

‘’Kalau batang sudah busuk seperti ini, langsung saya potong mas. Kemudian saya beri betadine,’’ ucap Anik sambil menunjukan tanaman yang batangnya busuk.

 

Penyiraman anggrek harus rutin sehari sekali. Kadar air dan kelembapan juga perlu dijaga. Sebab, jika kelebihan air maka menyebabkan tanaman membusuk. Air yang digunakan harus air bersih. Dia memiliki pengalaman menggunakan air kotor untuk menyiram, yang justru membuat anggrek busuk dan rusak. 

Baca Juga :  Antisipasi Balap Liar di Jalan raya Lamongan - Tuban

 

‘’Lebih baik di siram secukupnya, kalau hujan tidak perlu disiram lagi,’’ ucapnya.

Anik selalu update hal yang berkaitan dengan anggrek. Sebenarnya, budidaya anggrek harus terdapat tempat khusus yang ditutup plastik UV dan ditutup paranet. Namun, keterbatasan modal, membuat Anik masih membudidaya seadanya. 

 

‘’Insyaallah nanti saya bakal membuat seperti itu. Saat ini belum, soalnya perlu mempersiapkan biaya,’’ katanya.

 

Anik memperbanyak anggrek dengan memotong anakan batang yang tumbuh akarnya. Tujuannya agar nantinya pertumbuhannya  bisa lebih cepat.  

 

‘’Alat potongnya ini harus steril. Jadi setelah saya potong, nanti batangnya dikasih betadine. Kemudian tanaman itu langsung saya tanam di media kokopit, diberi vitamin B agar pertumbuhan akarnya cepat,’’ jelasnya. ‘’Saya lebih suka ditempel di pohon, karena juga dapat nutrisi dari pohon yang ditempeli,’’ katanya.

 

Harga anggrek yang dia miliki berkisar antara Rp 30 ribu hingga Rp 300 ribu per teanaman. Sedangkan, jenis anggrek dendrodium harganya berkisar Rp 30 ribu hingga Rp 60 ribu. Anik menyarankan pehobi pemula merawat anggrek jenis dendrodium. 

 

‘’Anggrek dendrodium perawatanya lebih mudah dibandingkan anggrek cattliya dan anggrek vanda,’’ terangnya. (sip/ind)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/