29.3 C
Bojonegoro
Wednesday, November 30, 2022

Kasus BEF Tertinggi di Lamongan

- Advertisement -

LAMONGAN, Radar Lamongan – Temuan penyakit Bovine Ephemeral Fever (BEF) masih tinggi. Berdasarkan data Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkan) Lamongan, tahun lalu ada 2.190 kasus. Tahun ini, 2.130 kasus per November.

 

Kepala Disnakkan Lamongan, Wahyudi, menjelaskan, BEF menduduki peringkat pertama kasus terbanyak pada ternak di Lamongan. Penyakit ini biasa menyerang ternak sapi. Penularannya melalui vektor nyamuk.

 

Menurut dia, BEF sangat dipengaruhi perubahan iklim dan lingkungannya. Penyakit tersebut akan berkembang pesat pada saat terjadinya kenaikan suhu lingkungan.

- Advertisement -

 

Wahyudi menjelaskan, gejala BEF di antaranya hipersalivasi, anoreksia, dan demam. Jika terserang lebih dari tiga hari, maka biasanya langsung tumbang. ‘’Tingkat keparahannya biasanya diketahui 3-5 hari. Kalau sudah dilakukan penanganan, bisa langsung sembuh,” jelasnya.

Baca Juga :  Titik Rawan Dijaga Hingga H+1

 

Wahyudi mengatakan, penyakit ini disebabkan virus RNA beruntai tunggal. Virus ini biasa berkembang pada musim penghujan serta dapat dikenali dengan kehilangan nafsu makan dan minum, pembengkakan sendi yang bisa menyebabkan pincang.

 

Virus ini berisiko pada sapi bunting karena bisa mengakibatkan keguguran. Saat menyerang sapi perah, maka bisa menurunkan produksi susu. Menurut dia, virus ini bisa dicegah dengan peningkatan imunitas, vaksinasi, dan menjaga sanitasi lingkungan.

 

“Tingkat kesembuhannya lebih tinggi jika langsung tertangani, sehingga harus langsung dilaporkan,” ujarnya.

 

Selain BEF, jenis penyakit yang banyak ditemukan pada ternak di Lamongan adalah scabies. (rka/yan)

LAMONGAN, Radar Lamongan – Temuan penyakit Bovine Ephemeral Fever (BEF) masih tinggi. Berdasarkan data Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkan) Lamongan, tahun lalu ada 2.190 kasus. Tahun ini, 2.130 kasus per November.

 

Kepala Disnakkan Lamongan, Wahyudi, menjelaskan, BEF menduduki peringkat pertama kasus terbanyak pada ternak di Lamongan. Penyakit ini biasa menyerang ternak sapi. Penularannya melalui vektor nyamuk.

 

Menurut dia, BEF sangat dipengaruhi perubahan iklim dan lingkungannya. Penyakit tersebut akan berkembang pesat pada saat terjadinya kenaikan suhu lingkungan.

- Advertisement -

 

Wahyudi menjelaskan, gejala BEF di antaranya hipersalivasi, anoreksia, dan demam. Jika terserang lebih dari tiga hari, maka biasanya langsung tumbang. ‘’Tingkat keparahannya biasanya diketahui 3-5 hari. Kalau sudah dilakukan penanganan, bisa langsung sembuh,” jelasnya.

Baca Juga :  Titik Rawan Dijaga Hingga H+1

 

Wahyudi mengatakan, penyakit ini disebabkan virus RNA beruntai tunggal. Virus ini biasa berkembang pada musim penghujan serta dapat dikenali dengan kehilangan nafsu makan dan minum, pembengkakan sendi yang bisa menyebabkan pincang.

 

Virus ini berisiko pada sapi bunting karena bisa mengakibatkan keguguran. Saat menyerang sapi perah, maka bisa menurunkan produksi susu. Menurut dia, virus ini bisa dicegah dengan peningkatan imunitas, vaksinasi, dan menjaga sanitasi lingkungan.

 

“Tingkat kesembuhannya lebih tinggi jika langsung tertangani, sehingga harus langsung dilaporkan,” ujarnya.

 

Selain BEF, jenis penyakit yang banyak ditemukan pada ternak di Lamongan adalah scabies. (rka/yan)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Demi Cewek di Luar Negeri, Curi HP

Suka Mewarnai Spongebob

Tingkatkan Sinergi Hadapi Resesi

Volume Waduk 50 Persen


/