29.3 C
Bojonegoro
Wednesday, November 30, 2022

Ari Cahyo Utomo, Ahli Pembuat Taman di Lamongan

Pernah Mengerjakan Taman Kesultanan di Brunei

- Advertisement -

LAMONGAN, Radar Lamongan – Suara lalu lalang kendaraan cukup bising ketika wartawan koran ini melintas di Jalan Soekarno Hatta kemarin sore (23/9). Tampak sejumlah pedagang mulai disibukkan di Pasar Sidomulyo. Tak jauh dari pasar sore tersebut, terdapat rumah dengan taman yang cukup mempesona di Perumahan Kencana Makmur.

 

Pantas saja, pemilik rumah ini merupakan salah satu ahli pembuat taman di Kota Soto bernama Ari Cahyo Utomo. Ari, sapaan akrabnya sudah lama menggeluti bidang pertamanan. Meski bukan lulusan sarjana pertamanan, tapi pengalaman membuatnya dikenal publik hingga mancanegara.

 

Pria asal Desa Wanar, Kecamatan Pucuk ini sudah 15 tahun menggeluti bidang pertamanan. Awalnya, dia hanya belajar dari orang tua yang memiliki banyak tanaman bonsai di rumah. Kemudian, Ari belajar membuat tanaman itu menjadi lebih indah dan bernilai jual tinggi, dengan merambah pasar pertanmanan.

(ANJAR DWI PRADIPTA/RDR.LMG)
- Advertisement -

‘’Awalnya hanya kecil-kecilan, akhirnya pengalamannya tambah dan dikontrak beberapa instansi pemerintah dan swasta,” ujarnya ketika dikunjungi Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (23/9).

Baca Juga :  Nasir Buya, Bek kiri Persela Ikut Latihan Lagi

 

Menurut pria berkulit sawo matang ini, pembuatan taman tidak ada batasan waktu. Hanya menyesuaikan dengan luas dan jenis tanamannya. Bahan bakunya tidak sulit, ada yang budidaya sendiri dan sebagian kerjasama dengan pemilik kebun. Sehingga, yang dibutuhkan dalam pertamanan hanya kemauan dalam merawatnya.

 

Ari mengatakan, untuk semua jenis tanaman harus disiram dua kali sehari pada pagi dan sore hari. Sedangkan, untuk pemupukan tiga hari sekali, serta pemotongan satu bulan sekali. Perawatan ini terkesan sepele, tapi tidak sedikit pemilik taman yang mengeluh karena tanamannya mati.

 

‘’Kita memberikan garansi tiga bulan. Selanjutnya kita berikan pemahaman tentang perawatannya dan jenis pupuk yang dibutuhkan,” imbuhnya.

 

Setiap tanaman membutuhkan obat yang berbeda. Ari menjelaskan, tanaman yang kurang air tidak bagus, yang kebanyakan juga busuk. Sehingga, memiliki taman yang bagus itu berangkat dari hobi dan kesenangan. Jika tidak senang memang sulit untuk konsisten dalam perawatannya.

 

‘’Saya taman berukuran 4 meter, setiap bulannya mengeluarkan uang Rp 1,5 juta untuk perawatan lengkap,” katanya.

Baca Juga :  Direncanakan Sejak 2 Tahun Lalu, Rehab Tribun Tak Terealisasi

 

Ari menuturkan, bajet membuat taman disesuaikan jenis tanamannya. Misal bonsai, pule, atau pucuk merah. Minimal Rp 10 juta untuk bujet pembuatan taman. Sebab, untuk tanah dipilih khusus yang ada pasirnya.

 

Untuk rumput disesuaikan. Misalnya gajah mini yang sekarang paling diminati, tapi ketahanannya kurang. Rumput Jepang bisa bertahan lebih lama, tapi tidak banyak peminatnya karena terkesan biasa. Kemudian ada rumput yang paling mahal Rp 2 ribu satu ikat, jenisnya rumput kucai.

 

‘’Sebenarnya bisa di bawah Rp 10 juta. Menyesuaikan dengan jenis tanamannya, karena kalau tamannya ada bonsai, harga lebih mahal lagi,” ucapnya.

 

Ari mengaku pernah mendesain taman kesultanan di Brunei Darussalam. Dia pernah tinggal satu tahun untuk mengerjakan taman di sana. Selain itu, Ari juga pernah mengerjakan di luar Jawa, seperti NTT, Kalimantan dan sebagainya. Sedangkan, pasar terbanyak masih instansi dan swasta.

 

‘’Juga banyak bekerjasama dengan perusahaan di Surabaya,’’ pungkasnya. (rka/ind)

(ANJAR DWI PRADIPTA/RDR.LMG)

LAMONGAN, Radar Lamongan – Suara lalu lalang kendaraan cukup bising ketika wartawan koran ini melintas di Jalan Soekarno Hatta kemarin sore (23/9). Tampak sejumlah pedagang mulai disibukkan di Pasar Sidomulyo. Tak jauh dari pasar sore tersebut, terdapat rumah dengan taman yang cukup mempesona di Perumahan Kencana Makmur.

 

Pantas saja, pemilik rumah ini merupakan salah satu ahli pembuat taman di Kota Soto bernama Ari Cahyo Utomo. Ari, sapaan akrabnya sudah lama menggeluti bidang pertamanan. Meski bukan lulusan sarjana pertamanan, tapi pengalaman membuatnya dikenal publik hingga mancanegara.

 

Pria asal Desa Wanar, Kecamatan Pucuk ini sudah 15 tahun menggeluti bidang pertamanan. Awalnya, dia hanya belajar dari orang tua yang memiliki banyak tanaman bonsai di rumah. Kemudian, Ari belajar membuat tanaman itu menjadi lebih indah dan bernilai jual tinggi, dengan merambah pasar pertanmanan.

(ANJAR DWI PRADIPTA/RDR.LMG)
- Advertisement -

‘’Awalnya hanya kecil-kecilan, akhirnya pengalamannya tambah dan dikontrak beberapa instansi pemerintah dan swasta,” ujarnya ketika dikunjungi Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (23/9).

Baca Juga :  Evaluasi Atlet di Dua Kejuaraan

 

Menurut pria berkulit sawo matang ini, pembuatan taman tidak ada batasan waktu. Hanya menyesuaikan dengan luas dan jenis tanamannya. Bahan bakunya tidak sulit, ada yang budidaya sendiri dan sebagian kerjasama dengan pemilik kebun. Sehingga, yang dibutuhkan dalam pertamanan hanya kemauan dalam merawatnya.

 

Ari mengatakan, untuk semua jenis tanaman harus disiram dua kali sehari pada pagi dan sore hari. Sedangkan, untuk pemupukan tiga hari sekali, serta pemotongan satu bulan sekali. Perawatan ini terkesan sepele, tapi tidak sedikit pemilik taman yang mengeluh karena tanamannya mati.

 

‘’Kita memberikan garansi tiga bulan. Selanjutnya kita berikan pemahaman tentang perawatannya dan jenis pupuk yang dibutuhkan,” imbuhnya.

 

Setiap tanaman membutuhkan obat yang berbeda. Ari menjelaskan, tanaman yang kurang air tidak bagus, yang kebanyakan juga busuk. Sehingga, memiliki taman yang bagus itu berangkat dari hobi dan kesenangan. Jika tidak senang memang sulit untuk konsisten dalam perawatannya.

 

‘’Saya taman berukuran 4 meter, setiap bulannya mengeluarkan uang Rp 1,5 juta untuk perawatan lengkap,” katanya.

Baca Juga :  Direncanakan Sejak 2 Tahun Lalu, Rehab Tribun Tak Terealisasi

 

Ari menuturkan, bajet membuat taman disesuaikan jenis tanamannya. Misal bonsai, pule, atau pucuk merah. Minimal Rp 10 juta untuk bujet pembuatan taman. Sebab, untuk tanah dipilih khusus yang ada pasirnya.

 

Untuk rumput disesuaikan. Misalnya gajah mini yang sekarang paling diminati, tapi ketahanannya kurang. Rumput Jepang bisa bertahan lebih lama, tapi tidak banyak peminatnya karena terkesan biasa. Kemudian ada rumput yang paling mahal Rp 2 ribu satu ikat, jenisnya rumput kucai.

 

‘’Sebenarnya bisa di bawah Rp 10 juta. Menyesuaikan dengan jenis tanamannya, karena kalau tamannya ada bonsai, harga lebih mahal lagi,” ucapnya.

 

Ari mengaku pernah mendesain taman kesultanan di Brunei Darussalam. Dia pernah tinggal satu tahun untuk mengerjakan taman di sana. Selain itu, Ari juga pernah mengerjakan di luar Jawa, seperti NTT, Kalimantan dan sebagainya. Sedangkan, pasar terbanyak masih instansi dan swasta.

 

‘’Juga banyak bekerjasama dengan perusahaan di Surabaya,’’ pungkasnya. (rka/ind)

(ANJAR DWI PRADIPTA/RDR.LMG)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Dijanjikan Penerbangan Tahun Depan

Demi Cewek di Luar Negeri, Curi HP

Suka Mewarnai Spongebob

Tingkatkan Sinergi Hadapi Resesi


/