alexametrics
25.7 C
Bojonegoro
Thursday, June 30, 2022

Pencabutan Larangan Ekspor Migor

Berharap Tak Pengaruhi Stok dan Harga Minyak Goreng di Lamongan

LAMONGAN, Radar Lamongan – Presiden Joko Widodo telah mengumumkan pencabutan larangan ekspor minyak goreng (migor), yang rencananya diterapkan mulai hari ini (23/5). Masyarakat tentunya khawatir, jika kebijakan tersebut nantinya berimbas migor kembali langka dan harganya melambung tinggi lagi.

 

Pantauan wartawan koran ini di lapangan, sejumlah pedagang menilai harga migor masih cukup tinggi. Salah satu pedagang migor di pasar Sidoharjo Lamongan Mutaya  mengaku belum tau terkait larangan ekspor yang akan dicabut. Namun, menurut dia, hingga kini tidak menyetok migor dalam jumlah banyak, karena harganya masih mahal.

 

‘’Stok migor saya sedikit, karena harga migor masih mahal,” terang Mutaya kepada Jawa Pos Radar Lamongan, kemarin (22/5).

Baca Juga :  Awal Final Sesungguhnya

 

Pedagang lain di Pasar Sidoharjo Lamongan Mahfudin mengaku sudah mengetahui terkait larangan ekspor migor yang akan dicabut. Dia berharap nantinya harga migor bisa lebih murah lagi dipasaran.

 

‘’Untuk migor kemasan, kalau bisa harganya diturunkan lagi, dengan harga yang normal. Sesuai HET yang ditetapkan pemerintah. Jadi lebih terkontrol,” imbuhnya.

 

Dia mengatakan, kebijakan tersebut belum bisa dilihat dampaknya. Mahfudin memperkirakan dampaknya akan terlihat sekitar 1 minggu hingga 10 hari paska diberlakukan.

 

Dia menilai, harga migor kemasan yang masih Rp 45 ribu per dua liter, belum terjangkau oleh konsumen. Sehingga, menurut dia, banyak konsumen yang saat ini beralih ke migor curah.

Baca Juga :  PT Pegadaian Lamongan Peduli Kesehatan Masyarakat

 

‘’Pencabutan perlarangan ada bagusnya. Yang penting di tingkat bawah, harga stabil, murah, dan kebutuhan terpenuhi,” pintanya.

 

Terpisah, Kabid Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lamongan Pasito menuturkan, kebijakan penentuan seluruh izin ekspor merupakan kewenangan pusat.

 

Berdasarkan pengamatannya, harga migor seluruh daerah di Indonesia sudah stabil meski harga masih tinggi. Namun, saat ini harga migor tidak fluktuatif. ‘’Dengan dasar itulah, mungkin dibukanya kembali keran ekspor,” terang Pasito. (sip/ind)

LAMONGAN, Radar Lamongan – Presiden Joko Widodo telah mengumumkan pencabutan larangan ekspor minyak goreng (migor), yang rencananya diterapkan mulai hari ini (23/5). Masyarakat tentunya khawatir, jika kebijakan tersebut nantinya berimbas migor kembali langka dan harganya melambung tinggi lagi.

 

Pantauan wartawan koran ini di lapangan, sejumlah pedagang menilai harga migor masih cukup tinggi. Salah satu pedagang migor di pasar Sidoharjo Lamongan Mutaya  mengaku belum tau terkait larangan ekspor yang akan dicabut. Namun, menurut dia, hingga kini tidak menyetok migor dalam jumlah banyak, karena harganya masih mahal.

 

‘’Stok migor saya sedikit, karena harga migor masih mahal,” terang Mutaya kepada Jawa Pos Radar Lamongan, kemarin (22/5).

Baca Juga :  Harap Pengurangannya Berkala

 

Pedagang lain di Pasar Sidoharjo Lamongan Mahfudin mengaku sudah mengetahui terkait larangan ekspor migor yang akan dicabut. Dia berharap nantinya harga migor bisa lebih murah lagi dipasaran.

 

‘’Untuk migor kemasan, kalau bisa harganya diturunkan lagi, dengan harga yang normal. Sesuai HET yang ditetapkan pemerintah. Jadi lebih terkontrol,” imbuhnya.

 

Dia mengatakan, kebijakan tersebut belum bisa dilihat dampaknya. Mahfudin memperkirakan dampaknya akan terlihat sekitar 1 minggu hingga 10 hari paska diberlakukan.

 

Dia menilai, harga migor kemasan yang masih Rp 45 ribu per dua liter, belum terjangkau oleh konsumen. Sehingga, menurut dia, banyak konsumen yang saat ini beralih ke migor curah.

Baca Juga :  Awal Final Sesungguhnya

 

‘’Pencabutan perlarangan ada bagusnya. Yang penting di tingkat bawah, harga stabil, murah, dan kebutuhan terpenuhi,” pintanya.

 

Terpisah, Kabid Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lamongan Pasito menuturkan, kebijakan penentuan seluruh izin ekspor merupakan kewenangan pusat.

 

Berdasarkan pengamatannya, harga migor seluruh daerah di Indonesia sudah stabil meski harga masih tinggi. Namun, saat ini harga migor tidak fluktuatif. ‘’Dengan dasar itulah, mungkin dibukanya kembali keran ekspor,” terang Pasito. (sip/ind)

Artikel Terkait

Most Read

Lamidi: Yang Konvoi Bukan Jajaran PSHT

Mencoblos Tanda Dewasa

Gelar Uji Sertifikasi Kompetensi

Artikel Terbaru


/