alexametrics
29.7 C
Bojonegoro
Friday, August 12, 2022

Menengok Prasasti Tumenggungan Satu dan Dua

Sebagai Filosofi Sarana Pensucian dan Pasujudan

LAMONGAN, Radar Lamongan – Prasasti Tumenggungan 1 berada di sisi selatan halaman Masjid Agung Lamongan. Bentuknya runcing persegi lima dengan lebar dan tinggi sama sisi. Ukurannya 110 cm x 88 cm setebal 9 cm. Di sebelahnya terdapat gentong. Tingginya 59 cm x 72 cm, dengan kedalam 42 cm. Sedangkan, agian bibir berdiameter 36 cm dengan tebal 6 cm. Pada bagian dasar terdapat motif dua buah garis melingkar berjarak 6 cm antar kedua garis.

Sedangkan, ketika berjalan 10 meter (m) ke utara tampak prasasti berbentuk persegi panjang dan bagian atas berupa tiga lengkungan. Pengamat budaya menyebutnya Tumenggungan II. Ukurannya 96 cm x 81 cm setebal 26 cm. Sedangkan, Gentong Tumenggungan 2 tingginya 53cm x 79 cm. Bagian bibir berdiameter 40 cm dengan tebal 7 cm. Pemerhati Budaya asal Lamongan Mohammad Nafis Abd. Rouf menuturkan, dalam cerita rakyat itu merupakan batu pasujudan.

‘’Dengan gentong yang memiliki filosofi sebagai sarana pensucian, dan batunya pasujadan untuk Salat,’’ tuturnya. Berdasarkan cerita rakyat, terang Nafis, itu berkaitan tradisi pinangan di Lamongan. Pada masa pemerintahan bupati yang ke-3 Raden Panji Puspokusuma memiliki dua anak kembar yakni Panji Laras dan Panji Liris. Makamnya berada di Kelurahan Tumenggungan.

Baca Juga :  Mayoritas SMPN di Lamongan Sulit Penuhi Pagu

‘’Di komplek Makam Mbah Sabilan ada dua batu nisan. Dugaan itu adalah Panji Laras dan Panji Liris,’’ tuturnya. Berdasarkan cerita yang berkembang, Nafis menjelaskan, Panji Laras dan Panji Liris sedang mengadu ayam di sebuah halaman daerah Wirosobo itu, salah satu daerah di Kediri.

‘’Ada dua putri namanya Andansari dan Andanwangi jatuh cinta dengan Panji Laras Dan Panji Liris dan berkeinginan untuk menikahinya,’’ ujarnya.

Selanjutnya, Andansari dan Andanwangi dikisahkan sedang sakit parah. Ketika ditanya orang tuanya, ternyata keduanya melihat sosok kegantengan Panji Laras dan Panji Liris dan ingin dinikahkan.

Utusan dari Wirosobo datang ke Lamongan. Namun, putera dari Panji Puspokusumo keberatan karena usianya masih terlalu muda untuk menikah. Sehingga, mengajukan syarat yang cukup berat.

‘’Yaitu harus membawa dua gentong dan dua batu pasujudan, yang secara langsung dibawa oleh Andanwangi dan Andansari dan harus melewati Kali Lamong,’’ ucap Nafis.

Setelah itu, terdapat momen dimana Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi mengangkat rok sedikit ke atas. Namun, hal itu membuat Panji Laras dan Panji Liris yang menunggu di seberang kali justru kaget dan lari.

‘’Bahasa anak sekarang itu ilfil. Setelah melihat bulunya Andansari dan Andanwangi kok banyak. Akhirnya pada waktu itu, mereka (Panji Laras dan Panji Liris, Red) tidak menolong malah dia lari,’’ katanya.

Baca Juga :  Banner Larangan Berpolitik di Masjid, Siapa yang Pasang? 

Akhirnya setelah pelarian itu, terang dia, terjadi sebuah konflik besar antar Lamongan dan Kediri. Adanya penolakan dan peristiwa itu terjadi bahwa tradisi pinangan di Lamongan.

‘’Golongan bangsawan itu yang laki-laki justru dilamar yang perempuan. Itu terjadi sejak masa bupati ketiga. Cerita ini berkembang sejak dahulu kala, dan beberapa wilayah di Lamongan juga masih menerapkan hal tersebut,’’ tuturnya.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Lamongan Siti Rubikah menjelaskan, penelitian mengenai prasasti ini telah dilakukan oleh Balai Arkeologi Jogjakarta dan dimuat dalam berita penelitian arkeologi pada Tahun 1996. Dalam penelitian tersebut, diketahui fakta jika bahan batunya dari kapur.

Prasasti Tumenggungan 1 berbahan dasar batu kapur berwarna coklat kekuningan dengan tekstur keras. Kondisi prasasti saat ini dalam keadaan aus dan terdapat banyak kerusakan. Namun, pada beberapa tempat terdapat goresan yang terstruktur menyerupai aksara berbentuk bulat.

‘’Kedua benda ini merupakan benda dengan pelestarian eksitu yang merupakan perpindahan dari suatu daerah di Kabupaten Lamongan,’’ tuturnya. (sip/ind)

LAMONGAN, Radar Lamongan – Prasasti Tumenggungan 1 berada di sisi selatan halaman Masjid Agung Lamongan. Bentuknya runcing persegi lima dengan lebar dan tinggi sama sisi. Ukurannya 110 cm x 88 cm setebal 9 cm. Di sebelahnya terdapat gentong. Tingginya 59 cm x 72 cm, dengan kedalam 42 cm. Sedangkan, agian bibir berdiameter 36 cm dengan tebal 6 cm. Pada bagian dasar terdapat motif dua buah garis melingkar berjarak 6 cm antar kedua garis.

Sedangkan, ketika berjalan 10 meter (m) ke utara tampak prasasti berbentuk persegi panjang dan bagian atas berupa tiga lengkungan. Pengamat budaya menyebutnya Tumenggungan II. Ukurannya 96 cm x 81 cm setebal 26 cm. Sedangkan, Gentong Tumenggungan 2 tingginya 53cm x 79 cm. Bagian bibir berdiameter 40 cm dengan tebal 7 cm. Pemerhati Budaya asal Lamongan Mohammad Nafis Abd. Rouf menuturkan, dalam cerita rakyat itu merupakan batu pasujudan.

‘’Dengan gentong yang memiliki filosofi sebagai sarana pensucian, dan batunya pasujadan untuk Salat,’’ tuturnya. Berdasarkan cerita rakyat, terang Nafis, itu berkaitan tradisi pinangan di Lamongan. Pada masa pemerintahan bupati yang ke-3 Raden Panji Puspokusuma memiliki dua anak kembar yakni Panji Laras dan Panji Liris. Makamnya berada di Kelurahan Tumenggungan.

Baca Juga :  Pengamanan Pilkades Lamongan, Siagakan Ribuan Personel

‘’Di komplek Makam Mbah Sabilan ada dua batu nisan. Dugaan itu adalah Panji Laras dan Panji Liris,’’ tuturnya. Berdasarkan cerita yang berkembang, Nafis menjelaskan, Panji Laras dan Panji Liris sedang mengadu ayam di sebuah halaman daerah Wirosobo itu, salah satu daerah di Kediri.

‘’Ada dua putri namanya Andansari dan Andanwangi jatuh cinta dengan Panji Laras Dan Panji Liris dan berkeinginan untuk menikahinya,’’ ujarnya.

Selanjutnya, Andansari dan Andanwangi dikisahkan sedang sakit parah. Ketika ditanya orang tuanya, ternyata keduanya melihat sosok kegantengan Panji Laras dan Panji Liris dan ingin dinikahkan.

Utusan dari Wirosobo datang ke Lamongan. Namun, putera dari Panji Puspokusumo keberatan karena usianya masih terlalu muda untuk menikah. Sehingga, mengajukan syarat yang cukup berat.

‘’Yaitu harus membawa dua gentong dan dua batu pasujudan, yang secara langsung dibawa oleh Andanwangi dan Andansari dan harus melewati Kali Lamong,’’ ucap Nafis.

Setelah itu, terdapat momen dimana Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi mengangkat rok sedikit ke atas. Namun, hal itu membuat Panji Laras dan Panji Liris yang menunggu di seberang kali justru kaget dan lari.

‘’Bahasa anak sekarang itu ilfil. Setelah melihat bulunya Andansari dan Andanwangi kok banyak. Akhirnya pada waktu itu, mereka (Panji Laras dan Panji Liris, Red) tidak menolong malah dia lari,’’ katanya.

Baca Juga :  Maksimalkan Program Perintis

Akhirnya setelah pelarian itu, terang dia, terjadi sebuah konflik besar antar Lamongan dan Kediri. Adanya penolakan dan peristiwa itu terjadi bahwa tradisi pinangan di Lamongan.

‘’Golongan bangsawan itu yang laki-laki justru dilamar yang perempuan. Itu terjadi sejak masa bupati ketiga. Cerita ini berkembang sejak dahulu kala, dan beberapa wilayah di Lamongan juga masih menerapkan hal tersebut,’’ tuturnya.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Lamongan Siti Rubikah menjelaskan, penelitian mengenai prasasti ini telah dilakukan oleh Balai Arkeologi Jogjakarta dan dimuat dalam berita penelitian arkeologi pada Tahun 1996. Dalam penelitian tersebut, diketahui fakta jika bahan batunya dari kapur.

Prasasti Tumenggungan 1 berbahan dasar batu kapur berwarna coklat kekuningan dengan tekstur keras. Kondisi prasasti saat ini dalam keadaan aus dan terdapat banyak kerusakan. Namun, pada beberapa tempat terdapat goresan yang terstruktur menyerupai aksara berbentuk bulat.

‘’Kedua benda ini merupakan benda dengan pelestarian eksitu yang merupakan perpindahan dari suatu daerah di Kabupaten Lamongan,’’ tuturnya. (sip/ind)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/