alexametrics
32.2 C
Bojonegoro
Tuesday, August 9, 2022

Rencana Pengurangan Pupuk Subsidi

Petani di Lamongan Berharap Harga Komoditi Stabil

LAMONGANRadar Lamongan – Petani dan petambak resah adanya wacana pengurangan alokasi pupuk bersubsidi. Apalagi harga gabah dan ikan terkadang anjlok. Petani dan petambak berharap ada solusi dari pemerintah terhadap pengurangan alokasi tersebut. Terutama menyetabilkan harga komoditi di pasaran.

 

Salah satu petani sawah tambak di Kalitengah Sariani mengeluhkan kini stok pupuk subsidi kosong. Menurut dia, petani cukup keberatan jika harus membeli pupuk non subsidi, karena harganya dua kali lipat lebih mahal.

 

”Harga saja tidak stabil, bagimana mau beli pupuk non subsidi yang harganya sangat mahal,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Lamongan, kemarin (16/5).

 

Namun hingga kini, diakuinya, harga komoditi belum stabil dan pasokan pupuk subsidi terkadang telat. Sariaji berharap pemerintah bisa memberikan solusi terkait harga ikan dan gabah. Sehingga biaya operasional petani tidak sampai rugi.

 

”Saya berharap harga ikan maupun gabah bisa stabil, sehingga petani tidak sampai rugi,” pintanya.

 

Salah satu pemilik salah satu kios pupuk di Lamongan Sarjono mengatakan, untuk alokasi pupuk ini berkurang dan hanya dua pupuk yang saat ini disubsidi pemerintah. Yakni pupuk urea dan NPK.

Baca Juga :  Dituntut Adaptif dan Inovatif

 

Dia menjelaskan, harga eceran tertinggi (HET) pupuk urea dan NPK subsidi  sama yakni sekitar Rp 112.500. Serta, diakuinya, jika dikirim ada tambahan Rp 7.500. Sehingga, di kelompok petani itu harganya Rp 120 ribu. Sedangkan, harga pupu urea dan NPK non subsidi sama yakni sekitar  Rp 350 ribu.

 

”Kita kirim ke kelompok tani ini dengan HET dan biaya pengiriman. Tapi untuk kelompok tani menjual ke petani,  saya tidak tahu harganya,” imbuhnya.

 

Sekretaris Dinas Perikanan Lamongan Tri Wahyudi, pihaknya menyiasati harga ikan yang rendah dengan meningkatan nilai produk perikanan. Yakni mengupayakan pengembangan produk olahan. Sehingga, nilai jual produk tinggi.

 

”Akhirnya bisa menanggulangi itu, panen raya kan harga turun. Kemudian jika ada olahan kan nilai produknya bertambah,” ujarnya.

 

Menurut dia, data terkait pupuk juga dari perikanan dan saat ini masih tahap pendataan. Dia meminta petambak memahami jika mekanise penyaluran juga membutuhkan proses.

 

”Data dari pertanian, tapi data perlu kita olah lagi karena permintan dari KKP. Sehingga membutuhkan waktu juga. Kan formatnya petanian dan perikanan tidak sama. Kita selalu berkoordinasi ke pusat, terkait pupuk bagi petambak ini agara segera tersalurkan,” imbuhnya.

Baca Juga :  Dorong Pelaku Usaha di Lamongan Urus P-IRT

 

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Lamongan Sukriyah memastikan,  subsidi pupuk ini kebijakan dari pusat. Untuk petambak ikut di Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP). Menurut dia, muncul anggapan dari petani alokasi dikurangi. Padahal, diakuinya, itu yang dialokasikan untuk petambak.

 

Menurut dia, sebenarnya alokasi pupuk pertanian sama, hanya ada pengurangan sedikit. Sukriyah menjelaskan, saat ini di pertanian yang dikurangi yakni ZA dan SP-36. Hanya dialokasikan urea dan NPK. Kemungkinan Juli nanti sudah dimulai, tapi belum ada kepastian. Tapi, Sukriyah memprediksi hal itu akan direalisasikan tahun depan.

 

”Sebenaranya untuk alokasi pupuk pertanian tetap. Ada pengurangan, tapi tidak sebanyak yang diperkirakan. Pupuk yang belum tersalurkan itu untuk petambak,” tuturnya.

 

Menurut dia, untuk harga komoditi saat ini sangat dipengaruhi pasar. Seperti hukum ekonomi, yakni hasil berlimpah dan produksi tinggi, maka otomatis harga turun. Pemerintah sudah melakukan upaya, tapi terkadang faktor ini yang membuat pihaknya sulit untuk mengkaver.

 

”Cuma kita menaggulangi  dengan cara penahanan penjualan adanya lumbung pangan, agar disimpan di lumbung itu,” terangnya. (sip/ind)

LAMONGANRadar Lamongan – Petani dan petambak resah adanya wacana pengurangan alokasi pupuk bersubsidi. Apalagi harga gabah dan ikan terkadang anjlok. Petani dan petambak berharap ada solusi dari pemerintah terhadap pengurangan alokasi tersebut. Terutama menyetabilkan harga komoditi di pasaran.

 

Salah satu petani sawah tambak di Kalitengah Sariani mengeluhkan kini stok pupuk subsidi kosong. Menurut dia, petani cukup keberatan jika harus membeli pupuk non subsidi, karena harganya dua kali lipat lebih mahal.

 

”Harga saja tidak stabil, bagimana mau beli pupuk non subsidi yang harganya sangat mahal,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Lamongan, kemarin (16/5).

 

Namun hingga kini, diakuinya, harga komoditi belum stabil dan pasokan pupuk subsidi terkadang telat. Sariaji berharap pemerintah bisa memberikan solusi terkait harga ikan dan gabah. Sehingga biaya operasional petani tidak sampai rugi.

 

”Saya berharap harga ikan maupun gabah bisa stabil, sehingga petani tidak sampai rugi,” pintanya.

 

Salah satu pemilik salah satu kios pupuk di Lamongan Sarjono mengatakan, untuk alokasi pupuk ini berkurang dan hanya dua pupuk yang saat ini disubsidi pemerintah. Yakni pupuk urea dan NPK.

Baca Juga :  Siapkan 800 Tiket untuk Suporter Tamu

 

Dia menjelaskan, harga eceran tertinggi (HET) pupuk urea dan NPK subsidi  sama yakni sekitar Rp 112.500. Serta, diakuinya, jika dikirim ada tambahan Rp 7.500. Sehingga, di kelompok petani itu harganya Rp 120 ribu. Sedangkan, harga pupu urea dan NPK non subsidi sama yakni sekitar  Rp 350 ribu.

 

”Kita kirim ke kelompok tani ini dengan HET dan biaya pengiriman. Tapi untuk kelompok tani menjual ke petani,  saya tidak tahu harganya,” imbuhnya.

 

Sekretaris Dinas Perikanan Lamongan Tri Wahyudi, pihaknya menyiasati harga ikan yang rendah dengan meningkatan nilai produk perikanan. Yakni mengupayakan pengembangan produk olahan. Sehingga, nilai jual produk tinggi.

 

”Akhirnya bisa menanggulangi itu, panen raya kan harga turun. Kemudian jika ada olahan kan nilai produknya bertambah,” ujarnya.

 

Menurut dia, data terkait pupuk juga dari perikanan dan saat ini masih tahap pendataan. Dia meminta petambak memahami jika mekanise penyaluran juga membutuhkan proses.

 

”Data dari pertanian, tapi data perlu kita olah lagi karena permintan dari KKP. Sehingga membutuhkan waktu juga. Kan formatnya petanian dan perikanan tidak sama. Kita selalu berkoordinasi ke pusat, terkait pupuk bagi petambak ini agara segera tersalurkan,” imbuhnya.

Baca Juga :  Maksimalkan Pelayanan Publik

 

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Lamongan Sukriyah memastikan,  subsidi pupuk ini kebijakan dari pusat. Untuk petambak ikut di Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP). Menurut dia, muncul anggapan dari petani alokasi dikurangi. Padahal, diakuinya, itu yang dialokasikan untuk petambak.

 

Menurut dia, sebenarnya alokasi pupuk pertanian sama, hanya ada pengurangan sedikit. Sukriyah menjelaskan, saat ini di pertanian yang dikurangi yakni ZA dan SP-36. Hanya dialokasikan urea dan NPK. Kemungkinan Juli nanti sudah dimulai, tapi belum ada kepastian. Tapi, Sukriyah memprediksi hal itu akan direalisasikan tahun depan.

 

”Sebenaranya untuk alokasi pupuk pertanian tetap. Ada pengurangan, tapi tidak sebanyak yang diperkirakan. Pupuk yang belum tersalurkan itu untuk petambak,” tuturnya.

 

Menurut dia, untuk harga komoditi saat ini sangat dipengaruhi pasar. Seperti hukum ekonomi, yakni hasil berlimpah dan produksi tinggi, maka otomatis harga turun. Pemerintah sudah melakukan upaya, tapi terkadang faktor ini yang membuat pihaknya sulit untuk mengkaver.

 

”Cuma kita menaggulangi  dengan cara penahanan penjualan adanya lumbung pangan, agar disimpan di lumbung itu,” terangnya. (sip/ind)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/