alexametrics
24 C
Bojonegoro
Wednesday, May 25, 2022

Antrean Migor di Lamongan Masih Terjadi

LAMONGAN, Radar Lamongan – Minyak goreng (migor) harga pasaran masih sulit didapatkan di Lamongan. Antrean mengular kerap terjadi ketika ada minimarket yang menjual migor.

 

Seperti kemarin (16/3) di sebuah minimarket di Jalan Basuki Rahmat Lamongan. Warga mengantre hingga di luar pintu minimarket demi mendapatkan minyak untuk kebutuhan dapur. Mereka juga tidak boleh membawa pulang migor dalam jumlah besar. Setiap pembeli hanya diperbolehkan membeli satu kemasan minyak berisi dua liter. Harganya, Rp 28 ribu per kemasan.

 

Menurut Imam, karyawan minimarket tersebut, Selasa (15/3) stok migor  kosong. Biasanya, per hari, minimarketnya mendapatkan kiriman minimal delapan karton. “Hari ini 24 karton langsung habis,” katanya.

 

Maya, karyawan ritel di tempat lainnya, mengatakan, migor di tempatnya bekerja kosong. Biasanya, pengiriman dilakukan 2 – 3 hari sekali.

Baca Juga :  Manajemen Persela Lamongan Kurang Jeli

 

‘’Biasanya minyak dikirim (menggunakan) truk. Namun, kadang truk membawa barang lain, bukan minyak,’’ ujarnya.

 

Ira, salah satu calon pembeli di minimarket, mengaku rela ikut mengantre karena harga migor di sekitar rumahnya di Kecamatan Deket, melangit. Satu liter migor harganya mencapai Rp 21 ribu. ‘’Itu pun kalau ada barangnya,’’ tuturnya.

 

Jika membeli migor dengan harga mahal, maka keuntungan dari berjualan telur gulungnya bakal berkurang.

 

‘’Migor itu kebutuhan utama untuk pedagang seperti saya,” kata pedagang asal Desa Sidorejo, Kecamatan Deket ini.

 

Sementara itu, sejumlah ritel di Kecamatan Kalitengah, Karanggeneng, dan Lamongan kemarin  juga kehabisan migor. Stok migor yang terbatas mengakibatkan sejumlah industri kecil dan menengah terdampak. Bintang, produsen krupuk di Desa Plosobuden, Kecamatan Deket, mengatakan harus mencari ke beberapa tempat untuk mendapatkan migor agar produksi usahanya tetap berjalan. Dia mencari migor hingga ke wilayah Gresik.

Baca Juga :  Belum Ada Aturan Baru terkait Penumpang Kereta Api

 

“Saya biasanya mencari di retil besar antara Lamongan dengan Gresik,” jelasnya.

 

Dikonfirmasi terpisah, Kabid Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lamongan, Pasito, mengatakan, dinasnya selalu berupaya berkoordinasi dengan provinsi untuk melakukan operasi pasar. Pihaknya juga berkoordinasi dengan agen-agen migor. “Banyak upaya dilakukan terkait migor,” klaimnya.

 

Menurut dia, operasi migor dilaksanakan Sabtu (5/3) dan Jumat (11/3). Sasarannya, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di Lamongan, khususnya penjual gorengan.

 

Anggota Komisi B DPRD Lamongan, Anshori, berharap pemkab setempat meminta penambahan kuota migor. Selain itu, melakukan pengawasan distribusi minyak goreng di agen-agen.

 

“Insya Allah ada koordinasi lagi  menjelang puasa terkait migor dan bahan sembako,” katanya. (sip/yan)

LAMONGAN, Radar Lamongan – Minyak goreng (migor) harga pasaran masih sulit didapatkan di Lamongan. Antrean mengular kerap terjadi ketika ada minimarket yang menjual migor.

 

Seperti kemarin (16/3) di sebuah minimarket di Jalan Basuki Rahmat Lamongan. Warga mengantre hingga di luar pintu minimarket demi mendapatkan minyak untuk kebutuhan dapur. Mereka juga tidak boleh membawa pulang migor dalam jumlah besar. Setiap pembeli hanya diperbolehkan membeli satu kemasan minyak berisi dua liter. Harganya, Rp 28 ribu per kemasan.

 

Menurut Imam, karyawan minimarket tersebut, Selasa (15/3) stok migor  kosong. Biasanya, per hari, minimarketnya mendapatkan kiriman minimal delapan karton. “Hari ini 24 karton langsung habis,” katanya.

 

Maya, karyawan ritel di tempat lainnya, mengatakan, migor di tempatnya bekerja kosong. Biasanya, pengiriman dilakukan 2 – 3 hari sekali.

Baca Juga :  TPS Sumargo ditutup

 

‘’Biasanya minyak dikirim (menggunakan) truk. Namun, kadang truk membawa barang lain, bukan minyak,’’ ujarnya.

 

Ira, salah satu calon pembeli di minimarket, mengaku rela ikut mengantre karena harga migor di sekitar rumahnya di Kecamatan Deket, melangit. Satu liter migor harganya mencapai Rp 21 ribu. ‘’Itu pun kalau ada barangnya,’’ tuturnya.

 

Jika membeli migor dengan harga mahal, maka keuntungan dari berjualan telur gulungnya bakal berkurang.

 

‘’Migor itu kebutuhan utama untuk pedagang seperti saya,” kata pedagang asal Desa Sidorejo, Kecamatan Deket ini.

 

Sementara itu, sejumlah ritel di Kecamatan Kalitengah, Karanggeneng, dan Lamongan kemarin  juga kehabisan migor. Stok migor yang terbatas mengakibatkan sejumlah industri kecil dan menengah terdampak. Bintang, produsen krupuk di Desa Plosobuden, Kecamatan Deket, mengatakan harus mencari ke beberapa tempat untuk mendapatkan migor agar produksi usahanya tetap berjalan. Dia mencari migor hingga ke wilayah Gresik.

Baca Juga :  Tercatat Sebagai UKM Disperindag, Pertamini Belum Miliki Legalitas

 

“Saya biasanya mencari di retil besar antara Lamongan dengan Gresik,” jelasnya.

 

Dikonfirmasi terpisah, Kabid Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lamongan, Pasito, mengatakan, dinasnya selalu berupaya berkoordinasi dengan provinsi untuk melakukan operasi pasar. Pihaknya juga berkoordinasi dengan agen-agen migor. “Banyak upaya dilakukan terkait migor,” klaimnya.

 

Menurut dia, operasi migor dilaksanakan Sabtu (5/3) dan Jumat (11/3). Sasarannya, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di Lamongan, khususnya penjual gorengan.

 

Anggota Komisi B DPRD Lamongan, Anshori, berharap pemkab setempat meminta penambahan kuota migor. Selain itu, melakukan pengawasan distribusi minyak goreng di agen-agen.

 

“Insya Allah ada koordinasi lagi  menjelang puasa terkait migor dan bahan sembako,” katanya. (sip/yan)

Artikel Terkait

Most Read

Seminggu Sita 945 Botol Miras 

Bintang Remang-Remang

Artikel Terbaru


/