alexametrics
27.2 C
Bojonegoro
Tuesday, May 24, 2022

Kurangi Beban Jembatan Ngaglik 1

Jalan Lingkar Alternatifnya

LAMONGAN, Radar Lamongan – Kerusakan jembatan Ngaglik 1 di ruas jalan nasional Lamongan – Babat diduga salah satunya akibat banyaknya kendaraan bertonase berat yang melintas.

 

Dosen Fakultas Teknik Program Studi Teknis Sipil Unisla, Sugeng Dwi Hartantyo, menjelaskan, secara umum, bangunan dari beton bisa tahan 100 tahun. Sedangkan bangunan dari baja bertahan 50 tahun.

Konstruksi jembatan bakal disesuaikan dengan status jalannya. Harus ada pertimbangan beban atau tonase yang nantinya melintas.

 

Menurut Sugeng, ditutupnya jembatan timbang di berbagai kabupaten berimbas pada over dimension overloading (ODOL). Semakin banyak pelaku kendaraan niaga yang memanipulasi, memerpanjang bak truk dan menambah ketinggiannya agar muatan bisa lebih banyak lagi.

Baca Juga :  Maksimalkan Medali Porprov, Agendakan Puslatkab Kedua

 

“Banyak yang menjadi pemicu amblesnya jembatan termasuk kualitas dari jembatan tersebut yang seharusnya mendapatkan perawatan berkala,” jelasnya.

 

Sugeng mengatakan, dari segi konstruksi, jembatan sudah didesain kelas jalan nasional. Karena tidak mampu menahan beban terlalu berat, maka grider dari jembatannya ambles.

 

Dia setuju apabila ada pembangunan flyover. “Kalau ada flyover atau jalur lingkar selatan, bisa menjadi alternatif sehingga kendaraan tidak harus melalui jalur nasional,” terangnya.

 

Sugeng menyebut penanganan jembatan yang dilakukan saat ini berjangka pendek, untuk memersiapkan mudik lebaran. Konstruksi ada selisih leveling hingga 40 cm. Hal itu dinilai tidak masalah selama sudah dipertimbangkan tanjakan dan turunan untuk kendaraan yang melintas. Nantinya, harus ada kelanjutan jangka panjangnya.

Baca Juga :  Perayaan Nyepi di Lamongan Tanpa Ogoh-Ogoh

 

Dia menilai Kementrian PUPR akan memertimbangkan kemampuan dari pondasi jembatan yang dibebani dengan grider sekarang. “Kalau konstruksi bagian atas bagus, di bawah juga harus diperhatikan supaya tidak sampai ambles,” ujarnya.

 

Akibat pengalihan arus kendaraan besar, menurut Sugeng, jembatan dan jalan kabupaten terimbas. Seharusnya, standar kendaraan jalan nasional  diarahkan ke sesama jalan nasional. Tidak bisa diarahkan ke jalan kabupaten. Imbasnya kerusakan yang cukup parah. (rka/yan)

LAMONGAN, Radar Lamongan – Kerusakan jembatan Ngaglik 1 di ruas jalan nasional Lamongan – Babat diduga salah satunya akibat banyaknya kendaraan bertonase berat yang melintas.

 

Dosen Fakultas Teknik Program Studi Teknis Sipil Unisla, Sugeng Dwi Hartantyo, menjelaskan, secara umum, bangunan dari beton bisa tahan 100 tahun. Sedangkan bangunan dari baja bertahan 50 tahun.

Konstruksi jembatan bakal disesuaikan dengan status jalannya. Harus ada pertimbangan beban atau tonase yang nantinya melintas.

 

Menurut Sugeng, ditutupnya jembatan timbang di berbagai kabupaten berimbas pada over dimension overloading (ODOL). Semakin banyak pelaku kendaraan niaga yang memanipulasi, memerpanjang bak truk dan menambah ketinggiannya agar muatan bisa lebih banyak lagi.

Baca Juga :  Sinergitas Buahkan Penghargaan Pelayanan Prima

 

“Banyak yang menjadi pemicu amblesnya jembatan termasuk kualitas dari jembatan tersebut yang seharusnya mendapatkan perawatan berkala,” jelasnya.

 

Sugeng mengatakan, dari segi konstruksi, jembatan sudah didesain kelas jalan nasional. Karena tidak mampu menahan beban terlalu berat, maka grider dari jembatannya ambles.

 

Dia setuju apabila ada pembangunan flyover. “Kalau ada flyover atau jalur lingkar selatan, bisa menjadi alternatif sehingga kendaraan tidak harus melalui jalur nasional,” terangnya.

 

Sugeng menyebut penanganan jembatan yang dilakukan saat ini berjangka pendek, untuk memersiapkan mudik lebaran. Konstruksi ada selisih leveling hingga 40 cm. Hal itu dinilai tidak masalah selama sudah dipertimbangkan tanjakan dan turunan untuk kendaraan yang melintas. Nantinya, harus ada kelanjutan jangka panjangnya.

Baca Juga :  Ayo!!! Buktikan Bukan Tim Pecundang

 

Dia menilai Kementrian PUPR akan memertimbangkan kemampuan dari pondasi jembatan yang dibebani dengan grider sekarang. “Kalau konstruksi bagian atas bagus, di bawah juga harus diperhatikan supaya tidak sampai ambles,” ujarnya.

 

Akibat pengalihan arus kendaraan besar, menurut Sugeng, jembatan dan jalan kabupaten terimbas. Seharusnya, standar kendaraan jalan nasional  diarahkan ke sesama jalan nasional. Tidak bisa diarahkan ke jalan kabupaten. Imbasnya kerusakan yang cukup parah. (rka/yan)

Artikel Terkait

Most Read

Kartu Nikah Belum Terealisasi

Awal Vaksinasi, Kasus Aktif Turun

Total Jumlah CJH Diketahui Hari Ini

Artikel Terbaru


/