- Advertisement -
LAMONGAN, Radar Lamongan – Dua puluh lima persen dari total sekitar 9 ribu aparatur sipil negara (ASN) Lamongan sudah menggunakan Identitas Kependudukan Digital (IKD). Para pemilik IKD sudah terintegrasi dengan sistem pelayanan kependudukan terbaru dengan mengggunakan barcode untuk mengakses KTP.
Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Lamongan, Edwyn Anedy, menilai respons dari ASN cukup baik. ASN yang memiliki smartphone bisa mendownload aplikasi yang disediakan dan mengaksesnya. “Nanti sudah ada panduannya dan untuk kerahasiaan terjamin dari Kementrian Dalam Negeri,” jelasnya.
Menurut dia, perubahan digitalitasi harus ditanggapi positif. Edwyn mencontohkan ketika pergi dan lupa membawa KTP elektronik. Ponsel yang dibawa bisa mengakses identitas kependudukan pribadi. “Kalau sudah beralih ke digital akan lebih mudah, misal ada yang hilang langsung diarahkan ke digital, termasuk yang rusak atau lainnya,” terangnya.
- Advertisement -
Meski sudah beralih ke digital, lanjut dia, permohonan administrasi kependudukan manual tetap banyak. Lansia yang tidak memiliki smartphone tetap menggunakan cara manual. Blangko tetap disediakan untuk pelayanan masyarakat. “Sekarang blangko pengajuan sesuai kebutuhan tidak bisa mengajukan lebih,” tuturnya. (rka/yan)
LAMONGAN, Radar Lamongan – Dua puluh lima persen dari total sekitar 9 ribu aparatur sipil negara (ASN) Lamongan sudah menggunakan Identitas Kependudukan Digital (IKD). Para pemilik IKD sudah terintegrasi dengan sistem pelayanan kependudukan terbaru dengan mengggunakan barcode untuk mengakses KTP.
Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Lamongan, Edwyn Anedy, menilai respons dari ASN cukup baik. ASN yang memiliki smartphone bisa mendownload aplikasi yang disediakan dan mengaksesnya. “Nanti sudah ada panduannya dan untuk kerahasiaan terjamin dari Kementrian Dalam Negeri,” jelasnya.
Menurut dia, perubahan digitalitasi harus ditanggapi positif. Edwyn mencontohkan ketika pergi dan lupa membawa KTP elektronik. Ponsel yang dibawa bisa mengakses identitas kependudukan pribadi. “Kalau sudah beralih ke digital akan lebih mudah, misal ada yang hilang langsung diarahkan ke digital, termasuk yang rusak atau lainnya,” terangnya.
- Advertisement -
Meski sudah beralih ke digital, lanjut dia, permohonan administrasi kependudukan manual tetap banyak. Lansia yang tidak memiliki smartphone tetap menggunakan cara manual. Blangko tetap disediakan untuk pelayanan masyarakat. “Sekarang blangko pengajuan sesuai kebutuhan tidak bisa mengajukan lebih,” tuturnya. (rka/yan)