alexametrics
32.2 C
Bojonegoro
Tuesday, August 9, 2022

Menengok Produksi Sambal Ikan Kemasan di Lamongan

Hilangkan Residu, Ikan Direndam Air Kelapa

LAMONGAN, Radar Lamongan – Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sambal ikan kemasan terhimpit. Bahan utama cabai rawit, bawang merah, dan sejumlah bahan kebutuhan lain harganya terus melambung.

Selain itu, hingga kini harga minyak goreng (migor) kemasan tak kunjung turun. Padahal, migor juga menjadi bahan utama pembuatan sambal kemasan. Produsen sambal kemasan di Lamongan pun dituntut memutar otak, agar bisnisnya tetap berjalan.

Salah satu produsen sambal ikan kemasan di Desa Jotosanur, Kecamatan Tikung Titin menyiasati agar tetap bisa bertahan dan mendapatkan keuntungan. Jika biasanya Titin hanya menggunakan cabai rawit. Kini dirinya mencampurkan cabai keriting besar yang memiliki harga lebih murah.  Perbandingannya tiga dibanding satu. Misalnya cabai rawit sebanyak 3 kilogram (kg) cabai rawit, maka cabai besar keriting hanya 1 kg.

‘’Dulu saya pernah coba menggunakan cabai dikeringkan, ternyata rasanya berbeda dengan cabai segar. Jadi saya utamakan kualitas rasa terlebih dulu,” tutur perempuan 36 tahun tersebut.

Selain itu, Titin mengaku juga menyiasati dengan menghitung harga pokok produksi (HPP) yang paling tinggi untuk menentukan harga produknya. Sehingga, ketika salah satu bahan mengalami kenaikan harga, maka bisa dikaver dengan bahan yang lebih murah.

‘’Jadi harga produk sambal saya tetap dan tidak berubah, karena harga naik turun. Kalau harga mahal tidak apa-apa untung sedikit, yang penting bisa tetap produksi,” ujar Titin.

Baca Juga :  Yes Bro Siap Menjadi Pemimpin Amanah

Titin memproduksi tujuh varian sambal kemasan yang seluruhnya memiliki bahan dari ikan. Yakni sambal klotok, sambal tongkol, sambal lapis teri, sambal belut, sambal cumi, sambal ikan asap, dan sambal kepiting.

‘’Kita tahu ikan banyak vitaminnya, tapi banyak yang kurang suka makan ikan. Sehingga kita olah dengan sambal, untuk meningkatkan gemar makan ikan,” ujar ibu dua anak tersebut.

Bahan yang dibutuhkan yakni cabai rawit, bawang merah, bawang putih, garam, gula, terasi, daun jeruk, dan daun serai. Titin tidak menggunakan bahan msg, tapi diganti dengan kaldu jamur. Bumbu masak dikupas, dibersihkan, dan ditiriskan. Selanjutnya diblender dengan migor. ‘’Bahan harus netral dari air, sehingga sambal bisa tahan lama,” katanya.

Selanjutnya, Titin menyiapkan ikan yang disesuaikan dengan varian. Perbandingannya yakni ikan 1 kg dan bawang merah 1 kg. Titin menggunakan perlakuan khusus saat mengolah ikan klotok. Dikhawatirkan ikan mengandung zat kimia atau residu. Sehingga, Titin merendam ikan klotok dengan air kelapa.

‘’Kami sudah mencoba tiga cara menghilangkan zat kimia atau residu. Pertama merendam air hangat dan merendam dengan air hujan. Namun yang paling efesien menggunakan air kelapa,” ucapnya.

Baca Juga :  Gustavo Memutuskan Keluar dari Persela Lamongan

Dia cukup yakin cara tersebut efektif menghilangkan zat kimia. Sebab sambal olahannya pernah dites secara langsung saat pameran. Hasilnya terbukti tidak terdapat zat kimia dalam ikan pada sambal olahannya.

‘’Alhamdulillah dites tiga kali, produk saya aman,” imbuhnya.

Setelah bahan sambal dan ikan siap, kemudian digoreng atau disangrai sekitar dua jam dengan api kecil. Setelah sambal dan minyak terpisah lalu didiamkan. Nah, saat mendinginkan tidak boleh menggunakan kipas angin. Sebab, ditakutkan ada bahan dari luar yang masuk ke sambal. Proses akhirnya sambal olahan dikemas dengan takaran 150 gram.

‘’Ketahanan jangka waktunya juga dipengaruhi oleh lamanya menyangrai sambal,” katanya.

Titin mendapatkan pesanan dari sekitar Lamongan, Banyuwangi, Jakarta, hingga Kalimantan. Sambal klotok yang paling banyak dipesan. Namun, sambal produksinya tidak hanya digemari pasar sekitar dan lokal. Sebaliknya, Titin mengaku pernah mendapatkan pesanan dari Jepang dan Hongkong melalui tenaga kerja Indonesia (TKI). Untuk pengirimannya, Titin menggunakan jasa ekspedisi.

‘’Sebulan bisa kirim 2 kali ke Hongkong. Terakhir kirim 100 botol sambal,” terangnya.

Selain itu, Titin juga mendapatkan pesanan dari pejabat sekitar. ‘’Yang Paling favorit Bapak Bupati yakni sambal klotok. Biasanya beli langsung 6 botol hingga 10 botol,” terangnya. (sip/ind)

LAMONGAN, Radar Lamongan – Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sambal ikan kemasan terhimpit. Bahan utama cabai rawit, bawang merah, dan sejumlah bahan kebutuhan lain harganya terus melambung.

Selain itu, hingga kini harga minyak goreng (migor) kemasan tak kunjung turun. Padahal, migor juga menjadi bahan utama pembuatan sambal kemasan. Produsen sambal kemasan di Lamongan pun dituntut memutar otak, agar bisnisnya tetap berjalan.

Salah satu produsen sambal ikan kemasan di Desa Jotosanur, Kecamatan Tikung Titin menyiasati agar tetap bisa bertahan dan mendapatkan keuntungan. Jika biasanya Titin hanya menggunakan cabai rawit. Kini dirinya mencampurkan cabai keriting besar yang memiliki harga lebih murah.  Perbandingannya tiga dibanding satu. Misalnya cabai rawit sebanyak 3 kilogram (kg) cabai rawit, maka cabai besar keriting hanya 1 kg.

‘’Dulu saya pernah coba menggunakan cabai dikeringkan, ternyata rasanya berbeda dengan cabai segar. Jadi saya utamakan kualitas rasa terlebih dulu,” tutur perempuan 36 tahun tersebut.

Selain itu, Titin mengaku juga menyiasati dengan menghitung harga pokok produksi (HPP) yang paling tinggi untuk menentukan harga produknya. Sehingga, ketika salah satu bahan mengalami kenaikan harga, maka bisa dikaver dengan bahan yang lebih murah.

‘’Jadi harga produk sambal saya tetap dan tidak berubah, karena harga naik turun. Kalau harga mahal tidak apa-apa untung sedikit, yang penting bisa tetap produksi,” ujar Titin.

Baca Juga :  Suka Film Horor karena Seru

Titin memproduksi tujuh varian sambal kemasan yang seluruhnya memiliki bahan dari ikan. Yakni sambal klotok, sambal tongkol, sambal lapis teri, sambal belut, sambal cumi, sambal ikan asap, dan sambal kepiting.

‘’Kita tahu ikan banyak vitaminnya, tapi banyak yang kurang suka makan ikan. Sehingga kita olah dengan sambal, untuk meningkatkan gemar makan ikan,” ujar ibu dua anak tersebut.

Bahan yang dibutuhkan yakni cabai rawit, bawang merah, bawang putih, garam, gula, terasi, daun jeruk, dan daun serai. Titin tidak menggunakan bahan msg, tapi diganti dengan kaldu jamur. Bumbu masak dikupas, dibersihkan, dan ditiriskan. Selanjutnya diblender dengan migor. ‘’Bahan harus netral dari air, sehingga sambal bisa tahan lama,” katanya.

Selanjutnya, Titin menyiapkan ikan yang disesuaikan dengan varian. Perbandingannya yakni ikan 1 kg dan bawang merah 1 kg. Titin menggunakan perlakuan khusus saat mengolah ikan klotok. Dikhawatirkan ikan mengandung zat kimia atau residu. Sehingga, Titin merendam ikan klotok dengan air kelapa.

‘’Kami sudah mencoba tiga cara menghilangkan zat kimia atau residu. Pertama merendam air hangat dan merendam dengan air hujan. Namun yang paling efesien menggunakan air kelapa,” ucapnya.

Baca Juga :  Lamongan Jadi Buah Bibir Nasional: Barometer Agribisnis Jagung

Dia cukup yakin cara tersebut efektif menghilangkan zat kimia. Sebab sambal olahannya pernah dites secara langsung saat pameran. Hasilnya terbukti tidak terdapat zat kimia dalam ikan pada sambal olahannya.

‘’Alhamdulillah dites tiga kali, produk saya aman,” imbuhnya.

Setelah bahan sambal dan ikan siap, kemudian digoreng atau disangrai sekitar dua jam dengan api kecil. Setelah sambal dan minyak terpisah lalu didiamkan. Nah, saat mendinginkan tidak boleh menggunakan kipas angin. Sebab, ditakutkan ada bahan dari luar yang masuk ke sambal. Proses akhirnya sambal olahan dikemas dengan takaran 150 gram.

‘’Ketahanan jangka waktunya juga dipengaruhi oleh lamanya menyangrai sambal,” katanya.

Titin mendapatkan pesanan dari sekitar Lamongan, Banyuwangi, Jakarta, hingga Kalimantan. Sambal klotok yang paling banyak dipesan. Namun, sambal produksinya tidak hanya digemari pasar sekitar dan lokal. Sebaliknya, Titin mengaku pernah mendapatkan pesanan dari Jepang dan Hongkong melalui tenaga kerja Indonesia (TKI). Untuk pengirimannya, Titin menggunakan jasa ekspedisi.

‘’Sebulan bisa kirim 2 kali ke Hongkong. Terakhir kirim 100 botol sambal,” terangnya.

Selain itu, Titin juga mendapatkan pesanan dari pejabat sekitar. ‘’Yang Paling favorit Bapak Bupati yakni sambal klotok. Biasanya beli langsung 6 botol hingga 10 botol,” terangnya. (sip/ind)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/