alexametrics
24 C
Bojonegoro
Friday, May 20, 2022

Bisnis Perhiasan Emas Fluktuatif di Lamongan

LAMONGAN, Radar Lamongan – Bisnis jual beli perhiasan emas masih cukup fluktuatif di tengah pandemi Covid-19 yang masih merebak. Pantauan di lapangan, lebih banyak masyarakat yang menjual perhiasan dibandingkan membeli. Meski begitu, omzet rerata pedagang emas masih relatif stabil.

 

Di Pasar Baru Lamongan misalnya, sebagian toko perhiasan emas terlihat masih ramai pengunjung. Sedangkan, toko emas lain tampak hanya satu atau dua orang. Informasi dari sejumlah pedagang emas, minat untuk membeli perhiasan salah satunya dipengaruhi musim tanam. Sebab, mayoritas pembeli berasal dari petani.

 

‘’Biasanya kalau musim panen, masyarakat lebih percaya diri untuk membeli perhiasan. Sedangkan saat musim tanam, masyarakat cenderung menjual,” terang salah satu pemilik toko emas di Pasar Baru Lamongan Yunita kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (11/3).

Baca Juga :  Dua Desa Lagi Terpapar Covid-19

 

Selain itu, minat membeli perhiasan juga dipengaruhi momen tahunan. Misalnya saat pendaftaran dan penerimaan siswa baru dan Hari Raya Idul Fitri. ‘’Periode awal masuk sekolah, pengunjung lebih banyak menjual perhiasan,” imbuh Yunita.

 

Pemilik toko emas lain Lilik mengamati adanya pengaruh gagal panen, terhadap perolehan omzet pengusaha perhiasan emas. ‘’Kalau sampai gagal panen, meskipun masuk musim panen, biasanya jarang ada pembeli perhiasan,” terangnya.

 

Karyawan toko emas lain, Nurul menuturkan, biasanya pembeli perhiasan emas ramai menjelang Idul Fitri. Namun, akibat pandemi Covid-19 sejak dua tahun lalu, minat masyarakat untuk membeli perhiasan cenderung menurun.

 

Saat minat masyarakat membeli perhiasan melandai, maka pendapatan omzet juga ikut turun. Sebab, mayoritas lebih cenderung menjual  perhiasan kepada toko.

Baca Juga :  145 Desa Belum Cairkan DD

 

‘’Kira-kira setiap satu pembeli, ada dua orang yang menjual perhiasannya,” ujar Nurul.

 

Namun, diakuinya, perolehan omzet saat ini sudah mulai stabil. ‘’Sekarang tergolong stabil, jadi perubahan harga tidak terlalu signifikan,’’ imbuh Nurul. (edo/ind)

LAMONGAN, Radar Lamongan – Bisnis jual beli perhiasan emas masih cukup fluktuatif di tengah pandemi Covid-19 yang masih merebak. Pantauan di lapangan, lebih banyak masyarakat yang menjual perhiasan dibandingkan membeli. Meski begitu, omzet rerata pedagang emas masih relatif stabil.

 

Di Pasar Baru Lamongan misalnya, sebagian toko perhiasan emas terlihat masih ramai pengunjung. Sedangkan, toko emas lain tampak hanya satu atau dua orang. Informasi dari sejumlah pedagang emas, minat untuk membeli perhiasan salah satunya dipengaruhi musim tanam. Sebab, mayoritas pembeli berasal dari petani.

 

‘’Biasanya kalau musim panen, masyarakat lebih percaya diri untuk membeli perhiasan. Sedangkan saat musim tanam, masyarakat cenderung menjual,” terang salah satu pemilik toko emas di Pasar Baru Lamongan Yunita kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (11/3).

Baca Juga :  Penasihat Hukum Klaim Korban Tidak Alami Trauma

 

Selain itu, minat membeli perhiasan juga dipengaruhi momen tahunan. Misalnya saat pendaftaran dan penerimaan siswa baru dan Hari Raya Idul Fitri. ‘’Periode awal masuk sekolah, pengunjung lebih banyak menjual perhiasan,” imbuh Yunita.

 

Pemilik toko emas lain Lilik mengamati adanya pengaruh gagal panen, terhadap perolehan omzet pengusaha perhiasan emas. ‘’Kalau sampai gagal panen, meskipun masuk musim panen, biasanya jarang ada pembeli perhiasan,” terangnya.

 

Karyawan toko emas lain, Nurul menuturkan, biasanya pembeli perhiasan emas ramai menjelang Idul Fitri. Namun, akibat pandemi Covid-19 sejak dua tahun lalu, minat masyarakat untuk membeli perhiasan cenderung menurun.

 

Saat minat masyarakat membeli perhiasan melandai, maka pendapatan omzet juga ikut turun. Sebab, mayoritas lebih cenderung menjual  perhiasan kepada toko.

Baca Juga :  500 CJH Jalani Vaksinasi Booster

 

‘’Kira-kira setiap satu pembeli, ada dua orang yang menjual perhiasannya,” ujar Nurul.

 

Namun, diakuinya, perolehan omzet saat ini sudah mulai stabil. ‘’Sekarang tergolong stabil, jadi perubahan harga tidak terlalu signifikan,’’ imbuh Nurul. (edo/ind)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/