alexametrics
27.6 C
Bojonegoro
Tuesday, May 24, 2022

Pasar Hewan Ditutup Dua Minggu

PMK Mewabah di Lamongan, Skrining Masih Rendah

LAMONGANRadar Lamongan – Skrining keluar – masuk hewan ternak di Lamongan masih rendah. Padahal kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak di Kota Soto cukup tinggi. Dari skrining yang dilakukan petugas hingga kemarin (9/5) di sejumlah peternak di Lamongan, terdeteksi 151 laporan hewan ternak sapi yang sakit (suspek) PMK. Untuk hewan populasi sama dalam satu kandang dengan yang sakit totalnya 226 ekor, yang kini dipisahkan dan dalam pemantauan.

 

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lamongan Wahyudi menjelaskan, skrining masih terus dilakukan. Namun, tidak ada pemeriksaan secara khusus keluar masuknya hewan. Hanya check point antar provinsi. Sehingga, untuk memutus penularan PMK, maka dikeluarkan instruksi penutupan sementara pasar hewan di Lamongan dan Babat.

 

Wahyudi mengatakan, status Lamongan masuk dalam kategori outbreak (wabah). Petugas harus terus melakukan pelacakan, agar kasusnya tidak membludak. ”Sekarang kasusnya ditemukan di-13 desa pada lima kecamatan di Lamongan, karena pemeriksaan terus dilakukan untuk meminimalisasi penularannya,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Lamongan.

 

Baca Juga :  204 Berkas PPDB Dinyatakan Salah

Wahyudi menuturkan, penularan PMK sangat mudah. Hanya melalui angin, karbon, dan lendir. Sementara, potensi penularannya sangat cepat dari deteksi awal pada Kamis (5/5) lalu.

 

Menurut dia,  gejala yang muncul relatif ringan. Seperti hipersalivasi, nafsu makan turun, suhu tubuh demam, dan beberapa gejala ringan lain. Sehingga, pihaknya berusaha memberikan arahan ke peternak untuk segera memisahkan hewan ternak yang bergejala.  Tujuannya agar hewan ternak lainnya tidak tertular.

 

Dari pemeriksaan sementara, lanjut dia, sebanyak 151 hewan ternak suspek tersebut sudah dipisahkan dengan ternak lainnya. Hewan tersebut menyebar di 36 peternak yang berlokasi di Desa Balungwangi, Desa Soko, Desa Jotosanur, Desa Tambakrigadung, dan Desa Kelorarum di Kecamatan Tikung. Serta dua desa di Kecamatan Sarirejo yakni Desa Sumberejo dan Desa Dermolemahbang.

 

Baca Juga :  Akhirnya Pilih Charis Yulianto

Selain itu, lima desa di Kecamatan Kembangbahu. Meliputi Desa Lopang, Desa Moronyamplung, dan Desa Doyomulyo. Serta Desa/ Kecamatan Turi, dan dua desa di Kecamatan Mantup yakni Desa Sukosari dan Sidomulyo.

 

Untuk memutus penularannya, petugas masih melakukan pengecekan di seluruh desa di Lamongan. Kemungkinan untuk tambahan jumlah kasusnya masih ada. Namun, semua hewan ternak nantinya direncanakan mendapatkan vaksin.

 

”Yang sudah sakit kita lakukan pengobatan intensif. Tapi untuk keluar masuk hewan sekarang diperketat dan pasar hewan tutup dua minggu ke depan,” terangnya.

 

Direktur Perumda Pasar Lamongan Suhartono membenarkan, untuk memutus penularan PMK di Lamongan dilakukan penutupan pasar hewan hingga dua minggu ke depan. Kemudian untuk suplai daging dipastikan masih aman, yakni bekerjasama dengan rumah potong hewan (RPH). Sehingga untuk ternak yang produktif atau sedang sakit tidak dilakukan penyembelihan.

 

”Kita berusaha memutus penularannya sehingga ditutup sementara,” terangnya. (rka/ind)

LAMONGANRadar Lamongan – Skrining keluar – masuk hewan ternak di Lamongan masih rendah. Padahal kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak di Kota Soto cukup tinggi. Dari skrining yang dilakukan petugas hingga kemarin (9/5) di sejumlah peternak di Lamongan, terdeteksi 151 laporan hewan ternak sapi yang sakit (suspek) PMK. Untuk hewan populasi sama dalam satu kandang dengan yang sakit totalnya 226 ekor, yang kini dipisahkan dan dalam pemantauan.

 

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lamongan Wahyudi menjelaskan, skrining masih terus dilakukan. Namun, tidak ada pemeriksaan secara khusus keluar masuknya hewan. Hanya check point antar provinsi. Sehingga, untuk memutus penularan PMK, maka dikeluarkan instruksi penutupan sementara pasar hewan di Lamongan dan Babat.

 

Wahyudi mengatakan, status Lamongan masuk dalam kategori outbreak (wabah). Petugas harus terus melakukan pelacakan, agar kasusnya tidak membludak. ”Sekarang kasusnya ditemukan di-13 desa pada lima kecamatan di Lamongan, karena pemeriksaan terus dilakukan untuk meminimalisasi penularannya,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Lamongan.

 

Baca Juga :  Tidak Perlu Antre, Bisa Atur Waktu Kunjungan

Wahyudi menuturkan, penularan PMK sangat mudah. Hanya melalui angin, karbon, dan lendir. Sementara, potensi penularannya sangat cepat dari deteksi awal pada Kamis (5/5) lalu.

 

Menurut dia,  gejala yang muncul relatif ringan. Seperti hipersalivasi, nafsu makan turun, suhu tubuh demam, dan beberapa gejala ringan lain. Sehingga, pihaknya berusaha memberikan arahan ke peternak untuk segera memisahkan hewan ternak yang bergejala.  Tujuannya agar hewan ternak lainnya tidak tertular.

 

Dari pemeriksaan sementara, lanjut dia, sebanyak 151 hewan ternak suspek tersebut sudah dipisahkan dengan ternak lainnya. Hewan tersebut menyebar di 36 peternak yang berlokasi di Desa Balungwangi, Desa Soko, Desa Jotosanur, Desa Tambakrigadung, dan Desa Kelorarum di Kecamatan Tikung. Serta dua desa di Kecamatan Sarirejo yakni Desa Sumberejo dan Desa Dermolemahbang.

 

Baca Juga :  Belajar Dulu ke Surabaya

Selain itu, lima desa di Kecamatan Kembangbahu. Meliputi Desa Lopang, Desa Moronyamplung, dan Desa Doyomulyo. Serta Desa/ Kecamatan Turi, dan dua desa di Kecamatan Mantup yakni Desa Sukosari dan Sidomulyo.

 

Untuk memutus penularannya, petugas masih melakukan pengecekan di seluruh desa di Lamongan. Kemungkinan untuk tambahan jumlah kasusnya masih ada. Namun, semua hewan ternak nantinya direncanakan mendapatkan vaksin.

 

”Yang sudah sakit kita lakukan pengobatan intensif. Tapi untuk keluar masuk hewan sekarang diperketat dan pasar hewan tutup dua minggu ke depan,” terangnya.

 

Direktur Perumda Pasar Lamongan Suhartono membenarkan, untuk memutus penularan PMK di Lamongan dilakukan penutupan pasar hewan hingga dua minggu ke depan. Kemudian untuk suplai daging dipastikan masih aman, yakni bekerjasama dengan rumah potong hewan (RPH). Sehingga untuk ternak yang produktif atau sedang sakit tidak dilakukan penyembelihan.

 

”Kita berusaha memutus penularannya sehingga ditutup sementara,” terangnya. (rka/ind)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/