alexametrics
27.7 C
Bojonegoro
Tuesday, August 9, 2022

Mencicipi Legitnya Tiwul dan Bir Pletok

Berbahan Alami dengan Balutan Daun Pisang

LAMONGAN, Radar Lamongan – Lamongan tempo doeloe menjadi cara yang efektif, guna memperkenalkan kultur kepada generasi milenial. Mulai dari alat musik, alat transportasi, pakaian, hingga kuliner.

 

Meja di salah satu stan menarik perhatian mata. Tiwul, gembrung, gethuk, dan camilan tradisional lainnya lengkap beserta parutan kelapa, yang ditata rapi di atas tampah dengan alas daun pisang.

 

Dua buah gerabah gentong menemani suguhan camilan tradisional. Penjajanya pun berpakaian adat. Legitnya camilan tradisional dipadu dengan beragam minuman tradisional seperti bunga telang, ronde, dan bir pletok.

NUANSA TEMPO DULU: Penyajian tiwul dan sejumlah camilan tradisional lainnya dijajakan dengan bungkus daun pisang. (M. GAMAL AYATULLAH/RDR.LMG)

‘’Bir pletok ini yang paling laris,’’ ucap stan Dinkes Lamongan Zizi kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (5/8).

Baca Juga :  Truk Oleng, lalu Hantam Pohon

 

Mayoritas camilan tradisional terbuat dari ubi-ubian dan bahan alami. Minuman tradisional rerata berbahan dasar rempah-rempah. Seperti kayu manis, serai, kapulaga, pala, cengkeh, jahe. Menyantap tiwul dengan ditemani bir pletok

 

‘’Minuman ini kebanyakan diminum oleh masyarakat Lamongan wilayah selatan,’’ ujarnya.

 

Minuman tradisional rempah-rempah mampu menghangatkan tubuh. Cukup cocok dikonsumsi saat pergantian musim seperti sekarang. Bagi warga pedesaan, camilan dengan minuman tradisional, menjadi suguhan makanan ringan di pagi hari.

 

‘’Dulu kalau nongkrong, minuman ini dipadukan gembrung  dan tiwul, sangat cocok,’’ katanya. (mal/ind)

LAMONGAN, Radar Lamongan – Lamongan tempo doeloe menjadi cara yang efektif, guna memperkenalkan kultur kepada generasi milenial. Mulai dari alat musik, alat transportasi, pakaian, hingga kuliner.

 

Meja di salah satu stan menarik perhatian mata. Tiwul, gembrung, gethuk, dan camilan tradisional lainnya lengkap beserta parutan kelapa, yang ditata rapi di atas tampah dengan alas daun pisang.

 

Dua buah gerabah gentong menemani suguhan camilan tradisional. Penjajanya pun berpakaian adat. Legitnya camilan tradisional dipadu dengan beragam minuman tradisional seperti bunga telang, ronde, dan bir pletok.

NUANSA TEMPO DULU: Penyajian tiwul dan sejumlah camilan tradisional lainnya dijajakan dengan bungkus daun pisang. (M. GAMAL AYATULLAH/RDR.LMG)

‘’Bir pletok ini yang paling laris,’’ ucap stan Dinkes Lamongan Zizi kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (5/8).

Baca Juga :  Titik Rawan Dijaga Hingga H+1

 

Mayoritas camilan tradisional terbuat dari ubi-ubian dan bahan alami. Minuman tradisional rerata berbahan dasar rempah-rempah. Seperti kayu manis, serai, kapulaga, pala, cengkeh, jahe. Menyantap tiwul dengan ditemani bir pletok

 

‘’Minuman ini kebanyakan diminum oleh masyarakat Lamongan wilayah selatan,’’ ujarnya.

 

Minuman tradisional rempah-rempah mampu menghangatkan tubuh. Cukup cocok dikonsumsi saat pergantian musim seperti sekarang. Bagi warga pedesaan, camilan dengan minuman tradisional, menjadi suguhan makanan ringan di pagi hari.

 

‘’Dulu kalau nongkrong, minuman ini dipadukan gembrung  dan tiwul, sangat cocok,’’ katanya. (mal/ind)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/