23.3 C
Bojonegoro
Saturday, June 3, 2023

Serangan Wereng Masif, Produksi Padi Turun

- Advertisement -

LAMONGAN, Radar Lamongan – Petani di sejumlah wilayah memulai panen padi. Namun, kualitas padi di sejumlah wilayah kurang memuaskan, akibat serangan hama wereng. Kepala Desa Deket Wetan Gatot mengaku, petani banyak mengeluh serangan wereng. Rerata hanya bisa panen padi sekitar 40 persen hingga 50 persen dari luasan tanam.

 

Meski sudah diobati, diakuinya, serangan tetap ada karena varietas wereng terus berkembang. Dampaknya untuk harga tidak bisa tinggi, karena dari tengkulak hanya membeli Rp 5.350 per kilogram (kg) untuk panen menggunakan combi.

 

‘’Memang tidak semua yang terdampak, tapi hampir 40 persen,’’ terang Gatot kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (31/7).

- Advertisement -

 

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Lamongan Sukriyah menuturkan, serangan hama masih ada. Namun, diakuinya, petani tidak sampai puso. Sebelumnya, sudah dilakukan antisipasi penanggulangan dan pencegahan dengan penyemprotan.

 

‘’Bahkan ada yang tidak sampai terserang, karena kita lakukan antisipasi lebih awal,’’ ujarnya.

 

Dia menjelaskan, sPerangan wereng terjadi akibat perubahan musim. Sehingga, sebagian warga diharuskan melakukan sistim pola tanam padi – padi – palawija untuk meminimalisasi serangan hama.

 

Sebab, jika lahan pertanian dibiarkan basah, secara otomatis akan memudahkan hama dalam berkembang biak. Selain itu, untuk siklus tanam juga mempertimbangkan wilayah, sebab tidak semua wilayah di Lamongan bisa menerapkan pola tanam padi – padi – palawija, karena sebagian lahan tambak.

 

‘’Saya harap petani kooperatif dengan pendamping pertanian untuk meminimalisasi hama, sehingga pola tanamnya bisa diatur,’’ pintanya. (rka/ind)

LAMONGAN, Radar Lamongan – Petani di sejumlah wilayah memulai panen padi. Namun, kualitas padi di sejumlah wilayah kurang memuaskan, akibat serangan hama wereng. Kepala Desa Deket Wetan Gatot mengaku, petani banyak mengeluh serangan wereng. Rerata hanya bisa panen padi sekitar 40 persen hingga 50 persen dari luasan tanam.

 

Meski sudah diobati, diakuinya, serangan tetap ada karena varietas wereng terus berkembang. Dampaknya untuk harga tidak bisa tinggi, karena dari tengkulak hanya membeli Rp 5.350 per kilogram (kg) untuk panen menggunakan combi.

 

‘’Memang tidak semua yang terdampak, tapi hampir 40 persen,’’ terang Gatot kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (31/7).

- Advertisement -

 

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Lamongan Sukriyah menuturkan, serangan hama masih ada. Namun, diakuinya, petani tidak sampai puso. Sebelumnya, sudah dilakukan antisipasi penanggulangan dan pencegahan dengan penyemprotan.

 

‘’Bahkan ada yang tidak sampai terserang, karena kita lakukan antisipasi lebih awal,’’ ujarnya.

 

Dia menjelaskan, sPerangan wereng terjadi akibat perubahan musim. Sehingga, sebagian warga diharuskan melakukan sistim pola tanam padi – padi – palawija untuk meminimalisasi serangan hama.

 

Sebab, jika lahan pertanian dibiarkan basah, secara otomatis akan memudahkan hama dalam berkembang biak. Selain itu, untuk siklus tanam juga mempertimbangkan wilayah, sebab tidak semua wilayah di Lamongan bisa menerapkan pola tanam padi – padi – palawija, karena sebagian lahan tambak.

 

‘’Saya harap petani kooperatif dengan pendamping pertanian untuk meminimalisasi hama, sehingga pola tanamnya bisa diatur,’’ pintanya. (rka/ind)

Artikel Terkait

Most Read

Energi Baru Pelayanan Publik

Tetap Waspadai Angin Timur

Artikel Terbaru


/