alexametrics
23.5 C
Bojonegoro
Sunday, May 22, 2022

Polres Tuban Menyisakan 143 Kasus Belum Tuntas

Radar Tuban – Dalam pers rilis anev akhir tahun kemarin (30/12), Satreskrim Polres Tuban melaporkan telah mendapat laporan 366 kasus pidana sepanjang 2020. Dari laporan tersebut, sebanyak 223 kasus telah terselesaikan. Sisanya 143 kasus belum tuntas atau masih dalam proses penyidikan.

Mayoritas kasus yang masih dalam lidik didominasi penipuan, pencurian, dan pengeroyokan. Kapolres Tuban AKBP Ruruh Wicaksono dalam siaran pers menjelaskan urutan terbanyak pelaporan kasus tersebut adalah penipuan, dari 66 laporan yang masuk hanya terselesaikan 12 kasus. Selanjutnya pencurian dengan pemberatan dari 46 laporan yang masuk, sudah 40 kasus selesai.

Peringkat ketiga diduduki pencurian sepeda motor (curanmor) dari 32 laporan hanya 25 yang selesai. ‘’Kasus tertinggi penipuan,’’ jelas dia. Belum tuntasnya sejumlah kasus tersebut disebabkan beberapa faktor. Salah satunya, pelaku teridentifikasi orang luar pulau Jawa.

Modus penipuan online yang sudah muncul sejak belasan tahun lalu ternyata masih efektif menjerat para korbannya. Mayoritas korbannya tergiur iming-iming hadiah undian tak jelas. Sebagian lagi tertipu modus pe nipuan baru. ‘’Setelah kami lidik, mayoritas pelaku penipuan bermukim di Sumatera dan Sulawesi,’’ ungkapnya.

Selain modus lama menawarkan undian berhadiah, ada beberapa modus baru yang dijalankan. Perwira kelahiran Ngawi ini menjelaskan modus baru tersebut yakni membajak pesan WhatsApp. Pelaku pencurian mencuri data WhatsApp korban, selanjutnya mengirim pesan dengan modus utang uang ke relasi kontak korban tersebut.

Baca Juga :  Warga Desa Nguken, Belasan Tahun Manfaatkan Gas Alam untuk Memasak

‘’Bahkan saya juga pernah jadi sasaran modus seperti ini,’’ terang lulusan Akpol 2000 ini. Yang sering jadi incaran penipuan, kata Ruruh, adalah orang dewasa. Maka dari itu, sangat penting bagi remaja yang melek teknologi agar mengawal orang tuanya yang sedang bermain ponsel. Sebab, modus penipuan yang saat ini beredar sudah mencapai ratusan modus operandi yang berbeda.

‘’Pentingnya cek dan ricek sebelum transaksi ini sangat perlu dilakukan,’’ tutur dia. Untuk kasus pencurian yang belum selesai, mantan Kapolres Madiun ini menjelaskan mayoritas pelakunya merupakan ja ringan antarkota. Biasanya, setelah beraksi mereka langsung pergi ke kota lain. Sehingga masih butuh proses penyelidikan lebih lanjut.

Hal serupa juga menjadi motif kasus pengeroyokan yang saat ini masih dalam meja penyidik, beberapa pelaku kabur ke luar kota.

Perselingkuhan Dominasi Pelanggaran Polisi

Sementara itu, perselingkuhan atau memiliki wanita idaman lain (WIL) masih mendominasi pelanggaran internal personel kepolisian Polres Tuban.

Hal itu disampaikan dalam pers rilis Anev Kamtibmas akhir tahun yang digelar di Mapolres Tuban kemarin (30/12). Sejak dua tahun terakhir, kasus perselingkungan menduduki posisi teratas pelanggaran yang dilakukan anggota Polres Tuban. Pada 2019, kasus perselingkuhan yang berujung sanksi terhadap personel ada 5 kasus.

Baca Juga :  Pria Ini Setubuhi Anak Kandung Sendiri Selama Empat Bulan

Pada 2020 ini, perselingkuhan masih mendominasi pelanggaran tapi jumlahnya menurun hanya 3 kasus. Kasus pelanggaran terbanyak kedua selama 2020 adalah tidak masuk dinas ada 2 kasus. Selanjutnya penggunaan narkoba dan penyalahgunaan wewenang masing-masing ada 1 kasus.

Kapolres Tuban AKBP Ruruh Wicaksono menjelaskan, dari tujuh pelanggaran yang dilakukan personel polisi selama 2020, seluruhnya diterapkan sanksi di siplin. Sanksi diberikan beragam sesuai pelanggaran yang dilakukan. Mulai teguran tertulis, tunda pendidikan, tunda kenaikan pangkat, tunda gaji, mutasi, hingga patsus (penempatan khusus) 7 – 21 hari.

Lulusan Akpol 2000 ini mengatakan sanksi disiplin juga diberikan dengan cara pembinaan khusus. Salah satunya saat apel wajib ikut dengan menggunakan helm merah. Tujuannya agar personel tersebut jera dan menjadi pelajaran anggota kepolisian lainnya agar tidak mengikuti kesalahan tersebut.

‘’Seluruhnya pelanggaran disiplin, tidak ada pelanggaran kode etik atau pidana,’’ jelasnya. Dalam paparannya, Ruruh men jelaskan pelanggaran dilakukan oleh polisi yang bertugas di berbagai satuan. Mulai personel Polsek Tambakboyo, Polsek Plumpang, Polsek Tuban, Polsek Parengan, dan Polsek Soko.

Pelanggaran lain dilakukan oleh personel Polres Tuban yang bertugas di bagian SPKT, Propam, Satreskrim, dan Satlantas. Pangkat para pelanggar disiplin tersebut mulai Bripda, Briptu, Bripka, hingga Ipda. ‘’Semoga pelanggaran ini tidak lagi terjadi tahun berikutnya,’’ tegas dia.

Radar Tuban – Dalam pers rilis anev akhir tahun kemarin (30/12), Satreskrim Polres Tuban melaporkan telah mendapat laporan 366 kasus pidana sepanjang 2020. Dari laporan tersebut, sebanyak 223 kasus telah terselesaikan. Sisanya 143 kasus belum tuntas atau masih dalam proses penyidikan.

Mayoritas kasus yang masih dalam lidik didominasi penipuan, pencurian, dan pengeroyokan. Kapolres Tuban AKBP Ruruh Wicaksono dalam siaran pers menjelaskan urutan terbanyak pelaporan kasus tersebut adalah penipuan, dari 66 laporan yang masuk hanya terselesaikan 12 kasus. Selanjutnya pencurian dengan pemberatan dari 46 laporan yang masuk, sudah 40 kasus selesai.

Peringkat ketiga diduduki pencurian sepeda motor (curanmor) dari 32 laporan hanya 25 yang selesai. ‘’Kasus tertinggi penipuan,’’ jelas dia. Belum tuntasnya sejumlah kasus tersebut disebabkan beberapa faktor. Salah satunya, pelaku teridentifikasi orang luar pulau Jawa.

Modus penipuan online yang sudah muncul sejak belasan tahun lalu ternyata masih efektif menjerat para korbannya. Mayoritas korbannya tergiur iming-iming hadiah undian tak jelas. Sebagian lagi tertipu modus pe nipuan baru. ‘’Setelah kami lidik, mayoritas pelaku penipuan bermukim di Sumatera dan Sulawesi,’’ ungkapnya.

Selain modus lama menawarkan undian berhadiah, ada beberapa modus baru yang dijalankan. Perwira kelahiran Ngawi ini menjelaskan modus baru tersebut yakni membajak pesan WhatsApp. Pelaku pencurian mencuri data WhatsApp korban, selanjutnya mengirim pesan dengan modus utang uang ke relasi kontak korban tersebut.

Baca Juga :  Kemendag Pastikan Pasokan Kedelai Cukup Jelang Libur Nataru 2021

‘’Bahkan saya juga pernah jadi sasaran modus seperti ini,’’ terang lulusan Akpol 2000 ini. Yang sering jadi incaran penipuan, kata Ruruh, adalah orang dewasa. Maka dari itu, sangat penting bagi remaja yang melek teknologi agar mengawal orang tuanya yang sedang bermain ponsel. Sebab, modus penipuan yang saat ini beredar sudah mencapai ratusan modus operandi yang berbeda.

‘’Pentingnya cek dan ricek sebelum transaksi ini sangat perlu dilakukan,’’ tutur dia. Untuk kasus pencurian yang belum selesai, mantan Kapolres Madiun ini menjelaskan mayoritas pelakunya merupakan ja ringan antarkota. Biasanya, setelah beraksi mereka langsung pergi ke kota lain. Sehingga masih butuh proses penyelidikan lebih lanjut.

Hal serupa juga menjadi motif kasus pengeroyokan yang saat ini masih dalam meja penyidik, beberapa pelaku kabur ke luar kota.

Perselingkuhan Dominasi Pelanggaran Polisi

Sementara itu, perselingkuhan atau memiliki wanita idaman lain (WIL) masih mendominasi pelanggaran internal personel kepolisian Polres Tuban.

Hal itu disampaikan dalam pers rilis Anev Kamtibmas akhir tahun yang digelar di Mapolres Tuban kemarin (30/12). Sejak dua tahun terakhir, kasus perselingkungan menduduki posisi teratas pelanggaran yang dilakukan anggota Polres Tuban. Pada 2019, kasus perselingkuhan yang berujung sanksi terhadap personel ada 5 kasus.

Baca Juga :  Pansus Kritisi Raperda Rumah Kos di Bojonegoro Bernuansa Perbup

Pada 2020 ini, perselingkuhan masih mendominasi pelanggaran tapi jumlahnya menurun hanya 3 kasus. Kasus pelanggaran terbanyak kedua selama 2020 adalah tidak masuk dinas ada 2 kasus. Selanjutnya penggunaan narkoba dan penyalahgunaan wewenang masing-masing ada 1 kasus.

Kapolres Tuban AKBP Ruruh Wicaksono menjelaskan, dari tujuh pelanggaran yang dilakukan personel polisi selama 2020, seluruhnya diterapkan sanksi di siplin. Sanksi diberikan beragam sesuai pelanggaran yang dilakukan. Mulai teguran tertulis, tunda pendidikan, tunda kenaikan pangkat, tunda gaji, mutasi, hingga patsus (penempatan khusus) 7 – 21 hari.

Lulusan Akpol 2000 ini mengatakan sanksi disiplin juga diberikan dengan cara pembinaan khusus. Salah satunya saat apel wajib ikut dengan menggunakan helm merah. Tujuannya agar personel tersebut jera dan menjadi pelajaran anggota kepolisian lainnya agar tidak mengikuti kesalahan tersebut.

‘’Seluruhnya pelanggaran disiplin, tidak ada pelanggaran kode etik atau pidana,’’ jelasnya. Dalam paparannya, Ruruh men jelaskan pelanggaran dilakukan oleh polisi yang bertugas di berbagai satuan. Mulai personel Polsek Tambakboyo, Polsek Plumpang, Polsek Tuban, Polsek Parengan, dan Polsek Soko.

Pelanggaran lain dilakukan oleh personel Polres Tuban yang bertugas di bagian SPKT, Propam, Satreskrim, dan Satlantas. Pangkat para pelanggar disiplin tersebut mulai Bripda, Briptu, Bripka, hingga Ipda. ‘’Semoga pelanggaran ini tidak lagi terjadi tahun berikutnya,’’ tegas dia.

Artikel Terkait

Most Read

Biru Milik Langit

Latihan Fisik di Rumah

Geledah Sel Tahanan, Temukan Sajam

Artikel Terbaru


/