alexametrics
24 C
Bojonegoro
Wednesday, May 25, 2022

Peringati Hari Kusta Sedunia, RSUD Sumberrejo Gelar Seminar Kesehatan

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Kepedulian masyarakat terhadap kesehatan masih perlu ditingkatkan. Masih banyak masyarakat punya stigma negatif terhadap penderita penyakit kulit, terutama kusta. Hal ini melatarbelakangi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sumberrejo menggelar seminar sekaligus memperingati Hari Kusta Sedunia 2022. 

Seminar berlangsung di ruang paripurna lantai 6 RSUD Semberrejo digelar Sabtu (29/1) itu dihadiri dokter dan paramedis dari fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) daerah timur. Meliputi 12 puskesmas dan tiga klinik swasta. Seminar mengangkat tema “Sinergi dan Kolaborasi Klinis Penanganan Kusta Terkini.”

Direktur RSUD Sumberrejo dr. Ratih Wulandari, M.H. mengatakan, bahwa stigma negatif yang melekat pada penderita kusta harus dihilangkan. Sebisa mungkin para tenaga medis memberikan edukasi kepada masyarakat tentang penyakit kusta. Penyakit kusta ditandai dengan bercak di kulit yang mati rasa. Dikarenakan fungsi saraf tepi terganggu. Kalau tidak segera mendapat pengobatan maka dapat menimbulkan kecacatan pada penderita. Misalnya penderita tidak bisa merasakan rasa panas atau tidak merasa nyeri ketika menginjak benda tajam karena mati rasa, jelasnya.

Baca Juga :  DPRD Bojonegoro Beri Catatan 29 Rekom ke OPD

Ratih sapaan akrabnya menambahkan, ketika saraf tepi sudah terganggu, akan menurunkan kualitas hidup penderita.

Tenaga medis juga harus proaktif berkolaborasi. Karena banyak penderita atau masyarakat tidak menyadari adanya keluhan bercak di tubuh yang mati rasa. Bercak ini bisa berupa bercak putih, bercak merah ataupun benjolan ujarnya.

Ketika keluhan sudah berat dan parah maka pengobatan akan lebih panjang, lanjut dia. 

Tentu, tenaga medis berkolaborasi dengan cara proaktif terhadap penemuan kasus, khususnya di daerah yang sudah ada kasusnya. Tenaga medis sudah memiliki peta daerah mana saja di wilayahnya yang terdapat penderita kusta. Misalnya, ada satu kasus diobati. Sebagai tindakan preventif, mereka yang berkontak erat dengan penderita juga harus diperiksa secara berkala setiap enam bulan sekali. Pemeriksaan ini dinamakan PoD (prevention of disability). Pemeriksaan ini juga dilakukan pada penderita kusta sebagai bahan evaluasi. Ini untuk menekan kasus agar tidak tinggi, ujar dokter asal Kecamatan Sugihwaras tersebut.

Baca Juga :  PMI Belum Bisa Suplai Plasma Konvalesen Untuk Terapi Penyembuhan Covid

Di Kabupaten Bojonegoro kasus kusta masih kecil. Tentu, seluruh tenaga kesehatan harus terus mengedukasi masyarakat agar tidak abai dan menyepelekan. Ratih mengingatkan agar masyarakat tidak takut berobat ke fasilitas kesehatan terdekat. Apalagi Kabupaten Bojonegoro sudah universal health coverage (UHC), yang mana jaminan kesehatannya ditanggung Pemkab Bojonegoro. Sehingga masyarakat tidak perlu membayar untuk berobat.

dr. Yustian Devika Rakhmawati, Sp. DV (spesialis dermatologi dan venereologi) salah satu narasumber dalam seminar menjelaskan tentang pemeriksaan pada pasien kusta, langkah langkah apa yang harus dilakukan dan bagaimana penanganan terkini oleh tenaga kesehatan kepada penderita kusta. Selain seminar, adapula hiburan berupa tari kusta, dan tari cuci tangan. Hal ini menjadi bagian edukasi yang menyenangkan para tenaga kesehatan agar selalu bersemangat memberikan informasi kepada masyarakat agar peduli terhadap kesehatan.

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Kepedulian masyarakat terhadap kesehatan masih perlu ditingkatkan. Masih banyak masyarakat punya stigma negatif terhadap penderita penyakit kulit, terutama kusta. Hal ini melatarbelakangi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sumberrejo menggelar seminar sekaligus memperingati Hari Kusta Sedunia 2022. 

Seminar berlangsung di ruang paripurna lantai 6 RSUD Semberrejo digelar Sabtu (29/1) itu dihadiri dokter dan paramedis dari fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) daerah timur. Meliputi 12 puskesmas dan tiga klinik swasta. Seminar mengangkat tema “Sinergi dan Kolaborasi Klinis Penanganan Kusta Terkini.”

Direktur RSUD Sumberrejo dr. Ratih Wulandari, M.H. mengatakan, bahwa stigma negatif yang melekat pada penderita kusta harus dihilangkan. Sebisa mungkin para tenaga medis memberikan edukasi kepada masyarakat tentang penyakit kusta. Penyakit kusta ditandai dengan bercak di kulit yang mati rasa. Dikarenakan fungsi saraf tepi terganggu. Kalau tidak segera mendapat pengobatan maka dapat menimbulkan kecacatan pada penderita. Misalnya penderita tidak bisa merasakan rasa panas atau tidak merasa nyeri ketika menginjak benda tajam karena mati rasa, jelasnya.

Baca Juga :  Sulap Lahan Kosong Menjadi Taman RTH

Ratih sapaan akrabnya menambahkan, ketika saraf tepi sudah terganggu, akan menurunkan kualitas hidup penderita.

Tenaga medis juga harus proaktif berkolaborasi. Karena banyak penderita atau masyarakat tidak menyadari adanya keluhan bercak di tubuh yang mati rasa. Bercak ini bisa berupa bercak putih, bercak merah ataupun benjolan ujarnya.

Ketika keluhan sudah berat dan parah maka pengobatan akan lebih panjang, lanjut dia. 

Tentu, tenaga medis berkolaborasi dengan cara proaktif terhadap penemuan kasus, khususnya di daerah yang sudah ada kasusnya. Tenaga medis sudah memiliki peta daerah mana saja di wilayahnya yang terdapat penderita kusta. Misalnya, ada satu kasus diobati. Sebagai tindakan preventif, mereka yang berkontak erat dengan penderita juga harus diperiksa secara berkala setiap enam bulan sekali. Pemeriksaan ini dinamakan PoD (prevention of disability). Pemeriksaan ini juga dilakukan pada penderita kusta sebagai bahan evaluasi. Ini untuk menekan kasus agar tidak tinggi, ujar dokter asal Kecamatan Sugihwaras tersebut.

Baca Juga :  DPRD Bojonegoro Beri Catatan 29 Rekom ke OPD

Di Kabupaten Bojonegoro kasus kusta masih kecil. Tentu, seluruh tenaga kesehatan harus terus mengedukasi masyarakat agar tidak abai dan menyepelekan. Ratih mengingatkan agar masyarakat tidak takut berobat ke fasilitas kesehatan terdekat. Apalagi Kabupaten Bojonegoro sudah universal health coverage (UHC), yang mana jaminan kesehatannya ditanggung Pemkab Bojonegoro. Sehingga masyarakat tidak perlu membayar untuk berobat.

dr. Yustian Devika Rakhmawati, Sp. DV (spesialis dermatologi dan venereologi) salah satu narasumber dalam seminar menjelaskan tentang pemeriksaan pada pasien kusta, langkah langkah apa yang harus dilakukan dan bagaimana penanganan terkini oleh tenaga kesehatan kepada penderita kusta. Selain seminar, adapula hiburan berupa tari kusta, dan tari cuci tangan. Hal ini menjadi bagian edukasi yang menyenangkan para tenaga kesehatan agar selalu bersemangat memberikan informasi kepada masyarakat agar peduli terhadap kesehatan.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/