alexametrics
28.4 C
Bojonegoro
Thursday, May 26, 2022

Imigran Tuban Terbanyak Jadi ABK

TUBAN, Radar Tuban – Sebagian pekerja Tuban terpaksa mengais rezeki di negeri seberang. Tahun ini, tercatat 36 orang meninggalkan Bumi Ronggolawe untuk mempertaruhkan nasib. 

Dikonfirmasi Jawa Pos Radar Tuban, Kepala Bidang  Pelatihan dan Penempatan Tenaga Kerja  Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja (DPMPTSP Naker)  Tuban  Harris Takdir Basuki menyampaikan, rata-rata mereka bekerja sebagai anak buah kapal (ABK) di Taiwan, Hongkong, Spanyol, dan Italia. Statusnya tenaga kerja legal. 

Selain ABK, kata dia, pekerja imigran asal Bumi Ronggolawe tersebut  juga bekerja di bidang konstruksi. Untuk bidang tersebut sebarannya di negara Singapura dan Polandia. Selebihnya bekerja sebagai caregiver, asisten rumah tangga, dan sejenis. 

Baca Juga :  Wisuda Perdana, Dukung Hadirnya Bidan Berkualitas

Dia mengemukakan, Malaysia sebagai kantong pekerja di sektor tersebut sampai sekarang belum membuka akses. Penutupan akses tersebut dipicu dari pandemi. 

Pejabat asal Surabaya ini mengakui Malaysia menjadi negara yang cukup ketat menutup akses dari negara-negara lain. Kondisi ini memicu ribuan pekerja imigran pulang ke Indonesia. Khusus di Tuban, jumlah pekerja imigran yang pulang kampung mencapai 439 orang. Sebagian dideportasi dan pulang mandiri.

Harris memastikan, rata-rata penyebab kepulangan ratusan pekerja imigran tersebut karena suasana pandemi. Berdasar hasil pemetaan, mereka berasal dari empat daerah kantong imigran. Di antaranya, Desa Rawasan, Kecamatan Jenu; Desa Sumberejo, Kecamatan Merakurak; dan Desa Ketambul dan Pucangan, Kecamatan Palang. ”Khusus imigran dari Kecamatan Palang, mereka bisa dikatakan satu komunitas dengan imigran Kecamatan Paciran, Lamongan,” jelasnya.

Baca Juga :  Ada Tiga PR Lalu Lintas

Bagaimana nasib ratusan mantan pekerja imigran tersebut setelah kembali ke Tuban? Pria lulusan Institut  Teknologi  Adhi Tama  Surabaya ini menuturkan, DPMPTSP naker memiliki peran memberdayakan. Salah satunya memberikan pelatihan menjahit. 

Harris berharap program pemberdayaan tersebut diharapakan mampu menghalau gelombang pengangguran yang muncul akibat kepulangan para pekerja imigran. ”Kami lakukan semampunya, sesuai anggaran yang tersedia,” tandasnya. 

Lebih lanjut dia meminta seluruh masyarakat Tuban yang berniat bekerja ke luar negeri untuk mencatatkan diri ke lembaga terkait. Tujuannya, untuk kepentingan diri sendiri. (sab)

TUBAN, Radar Tuban – Sebagian pekerja Tuban terpaksa mengais rezeki di negeri seberang. Tahun ini, tercatat 36 orang meninggalkan Bumi Ronggolawe untuk mempertaruhkan nasib. 

Dikonfirmasi Jawa Pos Radar Tuban, Kepala Bidang  Pelatihan dan Penempatan Tenaga Kerja  Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja (DPMPTSP Naker)  Tuban  Harris Takdir Basuki menyampaikan, rata-rata mereka bekerja sebagai anak buah kapal (ABK) di Taiwan, Hongkong, Spanyol, dan Italia. Statusnya tenaga kerja legal. 

Selain ABK, kata dia, pekerja imigran asal Bumi Ronggolawe tersebut  juga bekerja di bidang konstruksi. Untuk bidang tersebut sebarannya di negara Singapura dan Polandia. Selebihnya bekerja sebagai caregiver, asisten rumah tangga, dan sejenis. 

Baca Juga :  Anggrek Hiasi Jalan Basrah

Dia mengemukakan, Malaysia sebagai kantong pekerja di sektor tersebut sampai sekarang belum membuka akses. Penutupan akses tersebut dipicu dari pandemi. 

Pejabat asal Surabaya ini mengakui Malaysia menjadi negara yang cukup ketat menutup akses dari negara-negara lain. Kondisi ini memicu ribuan pekerja imigran pulang ke Indonesia. Khusus di Tuban, jumlah pekerja imigran yang pulang kampung mencapai 439 orang. Sebagian dideportasi dan pulang mandiri.

Harris memastikan, rata-rata penyebab kepulangan ratusan pekerja imigran tersebut karena suasana pandemi. Berdasar hasil pemetaan, mereka berasal dari empat daerah kantong imigran. Di antaranya, Desa Rawasan, Kecamatan Jenu; Desa Sumberejo, Kecamatan Merakurak; dan Desa Ketambul dan Pucangan, Kecamatan Palang. ”Khusus imigran dari Kecamatan Palang, mereka bisa dikatakan satu komunitas dengan imigran Kecamatan Paciran, Lamongan,” jelasnya.

Baca Juga :  Tuban Juara Umum Kejurprov Gulat

Bagaimana nasib ratusan mantan pekerja imigran tersebut setelah kembali ke Tuban? Pria lulusan Institut  Teknologi  Adhi Tama  Surabaya ini menuturkan, DPMPTSP naker memiliki peran memberdayakan. Salah satunya memberikan pelatihan menjahit. 

Harris berharap program pemberdayaan tersebut diharapakan mampu menghalau gelombang pengangguran yang muncul akibat kepulangan para pekerja imigran. ”Kami lakukan semampunya, sesuai anggaran yang tersedia,” tandasnya. 

Lebih lanjut dia meminta seluruh masyarakat Tuban yang berniat bekerja ke luar negeri untuk mencatatkan diri ke lembaga terkait. Tujuannya, untuk kepentingan diri sendiri. (sab)

Artikel Terkait

Most Read

Kenalkan Industri Migas ke Pelajar

Brand Bumi Wali Belum Dipatenkan

Artikel Terbaru


/