alexametrics
24.9 C
Bojonegoro
Monday, May 23, 2022

Serupa dengan Temuan di Taragan

TUMPUKAN batu bata yang ditemukan di Situs Wawar menyerupai pondasi bangunan yang ditemukan di Dusun Taragan, Desa Prunggahan Wetan pada 31 Oktober 2020.
Diberitakan sebelumnya, batu berwarna putih tersebut muncul dalam penggalian pondasi kantor Majelis Wakil Cabang MWC Nahdlatul Ulama (MWC NU) Semanding. Berdasar penjelasan Kepala Desa Prunggahan Wetan Hari Winarko, lahan yang ditempati untuk pembangunan gedung MWC NU tersebut dulunya berstatus tanah telantar. Luas awalnya sekitar 2.550 meter persegi. Setelah tergerus aliran air Kali Gede, luasnya tinggal 2.250 meter persegi.
Berdasarkan cerita para tetua desa setempat, sebelum ajaran Islam masuk Tuban, dulunya kawasan tersebut dikenal dengan nama Mintorogo yang merupakan tempat berlatih prajut Kerajaan Warunggahan di bawah kepemimpinan Mapandji Garasakan. Setelah Islam masuk tlatah Tuban, tempat tersebut dijadikan sebagai tempat penggemblengan para santri oleh Mbah Santri (Mbah Sastro Sowo). Dia adalah anak angkat petinggi Warunggahan yang merupakan murid Syekh Ibrahim Asmoro Qondi, ayahanda Raden Ali Rahmatullah (Sunan Ampel).
Temuan tumpukan batu tersebut menguatkan kalau desa ini menyimpan peradaban tertua di Tuban.
Sebelumnya, pada 27 Oktober 2016 ditemukan arca Dewa Siwa berbahan perunggu setinggi 20 sentimeter (cm) di sekitar makam Patih Barat Ketigo yang juga di Dusun Taragan.
Sepuluh hari sebelumnya, persisnya pada 17 Oktober 2016 ditemukan prasasti batu bertuliskan huruf palawa di tanah milik Pasimin di Dusun Banaran, desa setempat. Diperkirakan prasasti tersebut peninggalan Kerajaan Kahuripan di bawah kepemimpinan Raja Airlangga. Apakah Situs Wawar memiliki benang merah dengan temuan di Dusun Taragan? Tunggu saja hasil ekskavasi penyelamatan dan deskripsikan BPCB.

Baca Juga :  Jangan Takut, Ayo Bersama-sama Melawan Covid-19

TUMPUKAN batu bata yang ditemukan di Situs Wawar menyerupai pondasi bangunan yang ditemukan di Dusun Taragan, Desa Prunggahan Wetan pada 31 Oktober 2020.
Diberitakan sebelumnya, batu berwarna putih tersebut muncul dalam penggalian pondasi kantor Majelis Wakil Cabang MWC Nahdlatul Ulama (MWC NU) Semanding. Berdasar penjelasan Kepala Desa Prunggahan Wetan Hari Winarko, lahan yang ditempati untuk pembangunan gedung MWC NU tersebut dulunya berstatus tanah telantar. Luas awalnya sekitar 2.550 meter persegi. Setelah tergerus aliran air Kali Gede, luasnya tinggal 2.250 meter persegi.
Berdasarkan cerita para tetua desa setempat, sebelum ajaran Islam masuk Tuban, dulunya kawasan tersebut dikenal dengan nama Mintorogo yang merupakan tempat berlatih prajut Kerajaan Warunggahan di bawah kepemimpinan Mapandji Garasakan. Setelah Islam masuk tlatah Tuban, tempat tersebut dijadikan sebagai tempat penggemblengan para santri oleh Mbah Santri (Mbah Sastro Sowo). Dia adalah anak angkat petinggi Warunggahan yang merupakan murid Syekh Ibrahim Asmoro Qondi, ayahanda Raden Ali Rahmatullah (Sunan Ampel).
Temuan tumpukan batu tersebut menguatkan kalau desa ini menyimpan peradaban tertua di Tuban.
Sebelumnya, pada 27 Oktober 2016 ditemukan arca Dewa Siwa berbahan perunggu setinggi 20 sentimeter (cm) di sekitar makam Patih Barat Ketigo yang juga di Dusun Taragan.
Sepuluh hari sebelumnya, persisnya pada 17 Oktober 2016 ditemukan prasasti batu bertuliskan huruf palawa di tanah milik Pasimin di Dusun Banaran, desa setempat. Diperkirakan prasasti tersebut peninggalan Kerajaan Kahuripan di bawah kepemimpinan Raja Airlangga. Apakah Situs Wawar memiliki benang merah dengan temuan di Dusun Taragan? Tunggu saja hasil ekskavasi penyelamatan dan deskripsikan BPCB.

Baca Juga :  Tunjangan Perumahan Wakil Rakyat Kembali Melambung

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Dari Dangdut ke Salawat

Mampu Berbuah Lebih Cepat

Anak Desa Harus Semangat Kuliah


/