alexametrics
32.2 C
Bojonegoro
Tuesday, August 9, 2022

Petani Diminta Mengacu Prediksi BMKG

Kemarau Molor Pertengahan Juni

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Awal musim kemarau (AMK) molor lagi. Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi AMK pada Mei. Ternyata, dampak fenomena la nina mengakibatkan musim panjang lebih lama, hingga pertengahan Juni. Saat ini potensi hujan deras disertai angin kencang masih mengintai.

 

Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro Zainal Maarif menerangkan, bahwa AMK memang molor pada pertengahan Juni. Sehingga puncak musim kemarau ikut molor. “Sebelumnya diprediksi puncak musim kemarau pada Agustus, sekarang diperkirakan puncaknya September atau awal Oktober,” tutur Zainal.

 

Adapun siklus fenomena la nina memang terjadi dua tahu sekali. Sehingga musim hujan lebih lama dan ada yang mengartikan sebagai musim kemarau basah. Disinggung perihal antisipasi banjir bandang, Zainal menyampaikan kondisinya cenderung aman.

Baca Juga :  Besaran Silpa 2021 Belum Berubah

 

Karena berdasar curah hujan saat ini terus mengalami penurunan.

Saat musim hujan, biasanya turun hujan setiap hari. Kalau sekarang hujan diperkirakan hanya terjadi tiga hari sekali. “Saat musim hujan, curah hujannya mencapai 400 milimeter per bulan. Sedangkan saat ini berangsur turun menjadi sekitar 300 milimeter per bulan,” bebernya.

 

Karena itu, Zainal mengimbau kepada para petani agar memastikan prediksi AMK sebelum memulai masa tanam. Biasanya saat musim kemarau, para petani mulai menanam tembakau atau tanaman jenis palawija.

 

“Prediksi BMKG sebaiknya dijadikan acuan para petani guna menggeser masa tanam yang mana saat ini masih belum masuk kemarau. Apabila tanam sekarang tentu berisiko gagal panen,” ucapnya.

Baca Juga :  Matangkan Pelebaran Jalan Bojonegoro-Dander

 

Sementara itu, adanya fenomena la nina kemungkinan besar dampak kekeringan tidak meluas. Berdasar data kekeringan, pada 2021 kekeringan terjadi di 15 desa dari 7 kecamatan. Sedangkan pada 2020 kekeringan terjadi di 42 desa dari 16 kecamatan. Lalu pada 2019 kekeringan terjadi di 79 desa dari 22 kecamatan. (bgs/rij)

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Awal musim kemarau (AMK) molor lagi. Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi AMK pada Mei. Ternyata, dampak fenomena la nina mengakibatkan musim panjang lebih lama, hingga pertengahan Juni. Saat ini potensi hujan deras disertai angin kencang masih mengintai.

 

Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro Zainal Maarif menerangkan, bahwa AMK memang molor pada pertengahan Juni. Sehingga puncak musim kemarau ikut molor. “Sebelumnya diprediksi puncak musim kemarau pada Agustus, sekarang diperkirakan puncaknya September atau awal Oktober,” tutur Zainal.

 

Adapun siklus fenomena la nina memang terjadi dua tahu sekali. Sehingga musim hujan lebih lama dan ada yang mengartikan sebagai musim kemarau basah. Disinggung perihal antisipasi banjir bandang, Zainal menyampaikan kondisinya cenderung aman.

Baca Juga :  Nabung di Bank Jatim Menguntungkan

 

Karena berdasar curah hujan saat ini terus mengalami penurunan.

Saat musim hujan, biasanya turun hujan setiap hari. Kalau sekarang hujan diperkirakan hanya terjadi tiga hari sekali. “Saat musim hujan, curah hujannya mencapai 400 milimeter per bulan. Sedangkan saat ini berangsur turun menjadi sekitar 300 milimeter per bulan,” bebernya.

 

Karena itu, Zainal mengimbau kepada para petani agar memastikan prediksi AMK sebelum memulai masa tanam. Biasanya saat musim kemarau, para petani mulai menanam tembakau atau tanaman jenis palawija.

 

“Prediksi BMKG sebaiknya dijadikan acuan para petani guna menggeser masa tanam yang mana saat ini masih belum masuk kemarau. Apabila tanam sekarang tentu berisiko gagal panen,” ucapnya.

Baca Juga :  Alokasi Dana Desa 13 Desa Belum Cair

 

Sementara itu, adanya fenomena la nina kemungkinan besar dampak kekeringan tidak meluas. Berdasar data kekeringan, pada 2021 kekeringan terjadi di 15 desa dari 7 kecamatan. Sedangkan pada 2020 kekeringan terjadi di 42 desa dari 16 kecamatan. Lalu pada 2019 kekeringan terjadi di 79 desa dari 22 kecamatan. (bgs/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/