alexametrics
23.9 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

KIS Salah Alamat, Masyarakat Miskin Tak Terlayani

Radar Tuban – Ratusan warga miskin di Kecamatan Rengel menerima Kartu Indonesia Sehat (KIS) tidak sesuai alamatnya. Karena kesalahan identitas peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang di kelola Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan tersebut, sebagian penerima manfaat tidak bisa dilayani fasilitas kesehatan (faskes).

Dikonfirmasi Jawa Pos Radar Tuban, Suhartono, salah satu perangkat Desa Banjaragung, kecamatan setempat menga takan, banyak warganya menerima KIS tidak sesuai alamatnya. Dia mencontohkan sejumlah penerima KIS di Dusun Gumeng, Desa Banjaragung menerima kartu dengan alamat Desa Kanorejo, kecamatan setempat.

Begitu juga warga Dusun Pegaron, Desa Kanorejo menerima kartu dengan alamat Desa Pekuwon juga di kecamatan setempat. ‘’Kesalahan penulisan alamat ini banyak ditemukan di hampir semua desa di Rengel,’’ ujar dia.

Baca Juga :  Pembagian Paket Sembako Melalui Program CSR Lazis PT PJB

Dikatakan Suhartono, menurut tenaga kesejahteraan sosial kecamatan (TKSK) atau pendamping program, kesalahan alamat pada KIS tidak masalah. Terpenting, nama dan nomor induk ke pendudukan (NIK) sesuai.

Diungkapkan dia, kesalahan penulisan alamat pada KIS menjadi problem serius bagi sebagian besar peserta JKN. Mereka yang hendak berobat ditolak petugas di sejumlah fasilitas kesehatan (faskes) dengan alasan alamatnya tidak sesuai. ‘’Sebagian yang ditolak terpaksa mengurus kembali ke kantor BPJS Kesehatan Tuban,’’ ujar dia.

Selain kesalahan penulisan alamat, kata Hartono, banyak KIS yang terblokir. Padahal, yang bersangkutan baru satu tahun menerima kartu tersebut dan belum pernah digunakan. Kepala Cabang BPJS Kesehatan Bojonegoro Yanoe Tegoeh Prasetijo kepada sejumlah awak media di Tuban menyampaikan, problem tersebut dipicu dari periode sebelumnya. Yakni, data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS) Kemensos sebagai album rujukan masyarakat miskin.

Baca Juga :  Sepekan Nihil Kasus Baru, Sembuh, Meninggal di Tuban

Problem lain, ungkap dia, dipicu dari kebiasaan masyarakat desa yang menggunakan nama panggilan populer daripada nama lengkapnya. ‘’Di desa, nama lengkap nggak begitu familiar. Justru nama panggilan yang lebih dikenal,’’ kata dia pada media gathering di salah satu rumah makan di Tuban kemarin. Terkait permasalahan tersebut, Janu meminta penerima manfaat untuk datang ke kantor BPJS Kesehatan untuk update data.

Radar Tuban – Ratusan warga miskin di Kecamatan Rengel menerima Kartu Indonesia Sehat (KIS) tidak sesuai alamatnya. Karena kesalahan identitas peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang di kelola Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan tersebut, sebagian penerima manfaat tidak bisa dilayani fasilitas kesehatan (faskes).

Dikonfirmasi Jawa Pos Radar Tuban, Suhartono, salah satu perangkat Desa Banjaragung, kecamatan setempat menga takan, banyak warganya menerima KIS tidak sesuai alamatnya. Dia mencontohkan sejumlah penerima KIS di Dusun Gumeng, Desa Banjaragung menerima kartu dengan alamat Desa Kanorejo, kecamatan setempat.

Begitu juga warga Dusun Pegaron, Desa Kanorejo menerima kartu dengan alamat Desa Pekuwon juga di kecamatan setempat. ‘’Kesalahan penulisan alamat ini banyak ditemukan di hampir semua desa di Rengel,’’ ujar dia.

Baca Juga :  Ruang Isolasi Overload, Pasien Tunggu Giliran di Ruang Transit

Dikatakan Suhartono, menurut tenaga kesejahteraan sosial kecamatan (TKSK) atau pendamping program, kesalahan alamat pada KIS tidak masalah. Terpenting, nama dan nomor induk ke pendudukan (NIK) sesuai.

Diungkapkan dia, kesalahan penulisan alamat pada KIS menjadi problem serius bagi sebagian besar peserta JKN. Mereka yang hendak berobat ditolak petugas di sejumlah fasilitas kesehatan (faskes) dengan alasan alamatnya tidak sesuai. ‘’Sebagian yang ditolak terpaksa mengurus kembali ke kantor BPJS Kesehatan Tuban,’’ ujar dia.

Selain kesalahan penulisan alamat, kata Hartono, banyak KIS yang terblokir. Padahal, yang bersangkutan baru satu tahun menerima kartu tersebut dan belum pernah digunakan. Kepala Cabang BPJS Kesehatan Bojonegoro Yanoe Tegoeh Prasetijo kepada sejumlah awak media di Tuban menyampaikan, problem tersebut dipicu dari periode sebelumnya. Yakni, data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS) Kemensos sebagai album rujukan masyarakat miskin.

Baca Juga :  Misa Paskah, Berlanjut Jumat Agung di Bojonegoro

Problem lain, ungkap dia, dipicu dari kebiasaan masyarakat desa yang menggunakan nama panggilan populer daripada nama lengkapnya. ‘’Di desa, nama lengkap nggak begitu familiar. Justru nama panggilan yang lebih dikenal,’’ kata dia pada media gathering di salah satu rumah makan di Tuban kemarin. Terkait permasalahan tersebut, Janu meminta penerima manfaat untuk datang ke kantor BPJS Kesehatan untuk update data.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/