alexametrics
30.4 C
Bojonegoro
Monday, May 23, 2022

Kemungkinan Tinggal di Sekitar Kantor Pemerintahan

JEJAK Soegondo Djojopoespito seolah menghilang ditelan bumi. Sejak Rabu (27/10), kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Tuban menelusuri tempat tinggal Soegondo di Tuban dan keluarganya.
Penelusuran tersebut terkait rencana menghadirkan keluarga pemimpin Kongres Sumpah Pemuda tersebut pada upacara Peringatan Sumpah Pemuda Provinsi Jatim di Tuban kemarin (28/10). ”Sampai sekarang belum ditemukan,” ujar Kepala Kesbangpol Tuban Didik Purwanto kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Dia mengatakan, sulitnya menelusuri jejak Soegondo karena keluarganya tinggal di Yogyakarta. Petunjuk lain yang diterima Kesbangpol, kata Didik, terkait keberadaan salah satu cucu Soegondo di Surabaya. Dia bernama Erna. Sebelum hijrah ke Surabaya, dia tinggal di Jalan Sunan Kalijaga. ”Saya sudah kontak teleponnya. Yang bersangkutan membenarkan kakeknya bernama Soegondo,” ujarnya. Karena penjelasan yang diberikan Erna    sangat terbatas, Didik belum bisa memastikan apakah Soegondo yang maksud adalah Soegondo Djoyopoespito,  pemimpin Kongres Sumpah Pemuda.
Saran pegiat sejarah dan kebudayaan Tuban Widayaka ini bisa jadi petunjuk awal menelusuri tempat tinggal Soegondo di Tuban. Dia mengatakan, di  masa kolonialisme, tempat tinggal pegawai pemerintahan memiliki kompleks tertentu. Karena ayah Soegondo bertugas sebagai penghulu dan mantri juru tulis, kata Widayaka, kemungkinan besar rumahnya di kompleks pemerintahan.
Di masa tersebut, kemungkinan pemerintahan Tuban masih menempati kadipaten lama di Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding. ”Tidak mungkin jauh-jauh dari situ,” ujarnya. Posisi pusat pemerintahan kuno tersebut diperkirakan di kantor Desa Prunggahan Kulon. Jaraknya sekitar 3km arah selatan pusat pemerintahan sekarang.
Tak ada satu pun buku yang mengupas bukti sejarah Prunggahan Kulon sebagai pusat pemerintahan lama. Salah satu tetenger yang bisa dikaitkan dengan sejarah adalah terkait nama-nama daerah di sekitar kawasan Prunggahan Kulon. Desa ini memiliki empat dusun. Yakni, Krajan, Tlogo, Jarum, Mojokopek, dan Tlogopule. Pusat pemerintahan pemerintahan lama di Dusun Krajan. Dusun ini memiliki empat nama dukuhan yang namanya sama persis dengan kawasan pemerintahan di Jawa pada umumnya.
Empat nama dukuhan tersebut, Dalem, Kauman, Prayudan, Princikan, dan Paduluh. Biasanya Dalem untuk menyebut nama kawasan tempat tinggal adipati dan punggawa pemerintahan. Kawasan ini berada di timur kantor pemerintahan desa setempat.
Kauman adalah sanepo dari kawasan kaum beriman. Lokasinya di barat dari kantor pemerintah desa. Kawasan ini biasanya dijadikan tempat tinggal kawasan pemuka agama. Sementara padukuhan lain di utara dan selatan.
Asumsi tersebut bisa terbantahkan dari referensi buku Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama karya Graaf. Pada buku tersebut disebutkan pasca runtuhnya Demak, banyak kabupaten-kabupaten yang melepaskan diri dari pusat kekuasaan di Jawa Tengah. Salah satunya Tuban. Setelah Mataram berhasil bangkit kembali, terutama masa kejayaan Sultan Agung, Raja Mataram III tersebut terobsesi untuk menguasai kabupaten-kabupaten yang melepaskan diri.
Sejumlah kabupaten-kabupaten yang semula melepaskan diri, mulai diserang kembali oleh Mataram untuk ditundukkan. Serangan pertama dimulai pada 1598 dan 1599. Namun, serangan tersebut berhasil dipatahkan penguasa Tuban. Pada 1619, bala tentara Mataram kembali menyerang Tuban dan memenangkan pertempuran. Serangan tersebut memporakporandakan seluruh kota. Kalau catatan buku tersebut benar, berarti tempat tinggal keluarga Soegondo sudah menempati bangunan baru pemerintahan Tuban di lokasi sekarang ini. (sab)

Baca Juga :  Merasa Sumber Referensinya Terbatas

JEJAK Soegondo Djojopoespito seolah menghilang ditelan bumi. Sejak Rabu (27/10), kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Tuban menelusuri tempat tinggal Soegondo di Tuban dan keluarganya.
Penelusuran tersebut terkait rencana menghadirkan keluarga pemimpin Kongres Sumpah Pemuda tersebut pada upacara Peringatan Sumpah Pemuda Provinsi Jatim di Tuban kemarin (28/10). ”Sampai sekarang belum ditemukan,” ujar Kepala Kesbangpol Tuban Didik Purwanto kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Dia mengatakan, sulitnya menelusuri jejak Soegondo karena keluarganya tinggal di Yogyakarta. Petunjuk lain yang diterima Kesbangpol, kata Didik, terkait keberadaan salah satu cucu Soegondo di Surabaya. Dia bernama Erna. Sebelum hijrah ke Surabaya, dia tinggal di Jalan Sunan Kalijaga. ”Saya sudah kontak teleponnya. Yang bersangkutan membenarkan kakeknya bernama Soegondo,” ujarnya. Karena penjelasan yang diberikan Erna    sangat terbatas, Didik belum bisa memastikan apakah Soegondo yang maksud adalah Soegondo Djoyopoespito,  pemimpin Kongres Sumpah Pemuda.
Saran pegiat sejarah dan kebudayaan Tuban Widayaka ini bisa jadi petunjuk awal menelusuri tempat tinggal Soegondo di Tuban. Dia mengatakan, di  masa kolonialisme, tempat tinggal pegawai pemerintahan memiliki kompleks tertentu. Karena ayah Soegondo bertugas sebagai penghulu dan mantri juru tulis, kata Widayaka, kemungkinan besar rumahnya di kompleks pemerintahan.
Di masa tersebut, kemungkinan pemerintahan Tuban masih menempati kadipaten lama di Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding. ”Tidak mungkin jauh-jauh dari situ,” ujarnya. Posisi pusat pemerintahan kuno tersebut diperkirakan di kantor Desa Prunggahan Kulon. Jaraknya sekitar 3km arah selatan pusat pemerintahan sekarang.
Tak ada satu pun buku yang mengupas bukti sejarah Prunggahan Kulon sebagai pusat pemerintahan lama. Salah satu tetenger yang bisa dikaitkan dengan sejarah adalah terkait nama-nama daerah di sekitar kawasan Prunggahan Kulon. Desa ini memiliki empat dusun. Yakni, Krajan, Tlogo, Jarum, Mojokopek, dan Tlogopule. Pusat pemerintahan pemerintahan lama di Dusun Krajan. Dusun ini memiliki empat nama dukuhan yang namanya sama persis dengan kawasan pemerintahan di Jawa pada umumnya.
Empat nama dukuhan tersebut, Dalem, Kauman, Prayudan, Princikan, dan Paduluh. Biasanya Dalem untuk menyebut nama kawasan tempat tinggal adipati dan punggawa pemerintahan. Kawasan ini berada di timur kantor pemerintahan desa setempat.
Kauman adalah sanepo dari kawasan kaum beriman. Lokasinya di barat dari kantor pemerintah desa. Kawasan ini biasanya dijadikan tempat tinggal kawasan pemuka agama. Sementara padukuhan lain di utara dan selatan.
Asumsi tersebut bisa terbantahkan dari referensi buku Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama karya Graaf. Pada buku tersebut disebutkan pasca runtuhnya Demak, banyak kabupaten-kabupaten yang melepaskan diri dari pusat kekuasaan di Jawa Tengah. Salah satunya Tuban. Setelah Mataram berhasil bangkit kembali, terutama masa kejayaan Sultan Agung, Raja Mataram III tersebut terobsesi untuk menguasai kabupaten-kabupaten yang melepaskan diri.
Sejumlah kabupaten-kabupaten yang semula melepaskan diri, mulai diserang kembali oleh Mataram untuk ditundukkan. Serangan pertama dimulai pada 1598 dan 1599. Namun, serangan tersebut berhasil dipatahkan penguasa Tuban. Pada 1619, bala tentara Mataram kembali menyerang Tuban dan memenangkan pertempuran. Serangan tersebut memporakporandakan seluruh kota. Kalau catatan buku tersebut benar, berarti tempat tinggal keluarga Soegondo sudah menempati bangunan baru pemerintahan Tuban di lokasi sekarang ini. (sab)

Baca Juga :  Tunda Pembebasan Lahan Waduk Pejok

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/