alexametrics
30.7 C
Bojonegoro
Monday, May 16, 2022

Tanpa IPAL, Pabrik Es Tirtojoyo Janji Tak Beroperasi

Radar Tuban – Begitu Jawa Pos Radar Tuban menurunkan berita berjudul Diam-Diam, Pabrik Es Kembali Beroperasi pada edisi Rabu (28/7), pada hari itu juga dinas lingkungan hidup (DLH) bersama kantor kesatuan bangsa dan politik (kesbangpol) setempat langsung mengecek ke lokasi.

Kedua institusi tersebut menegaskan pabrik es PT Tirtojoyo belum boleh bero perasi jika persyaratan pengelolaan limbah belum terpenuhi. Sidak diawali dari turunnya tim yang dipimpin Kepala Bidang Pencegahan Pencemaran Lingkungan DLH Tuban Purnomo Sidi sekitar pukul 09.00. Kunjungan kedua dilanjutkan Kepala DLH Tuban Bambang Irawan bersama Kepala Kesbangpol Tuban Didik Purwanto sekitar pukul 12.00.

Tujuannya, memastikan pabrik es tidak beroperasi selama belum memiliki instalasi pengolahan limbah. Seperti diberitakan sebelumnya, pabrik es kristal PT Tirtojoyo dilaporkan perangkat desa setempat beroperasi secara diam-diam. Padahal, pabrik es di Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding tersebut di-police line.

Baca Juga :  Gelombang Pensiun PNS, Tahun Ini Ada 463 Pegawai

Perusahaan diperbolehkan kembali produksi jika kewajiban untuk mendirikan pengolahan limbah dan perizinan IPAL (instalasi pengolahan air limbah) terpenuhi. Sebab, selama ini pembuangan sisa es kristal selalu dibuang ke sungai.

Kabid Pencegahan Pencemaran Lingkungan DLH Tuban Purnomo Sidi menjelaskan, pihak perusahaan membantah tuduhan beroperasi diamdiam. Pemilik pabrik es kristal, Lanita kepada tim sidak mengatakan pabrik belum beroperasi sejak kebocoran amonia, Sabtu (17/7).

‘’Keterangan pemilik, sejak gas bocor sampai hari ini belum pernah beroperasi sama sekali,’’ terangnya.

Mengutip penjelasan Lanita, Purnomo mengatakan, truk boks yang lalu lalang di pabriknya adalah pengiriman es kristal dari Jombang dan Nganjuk. Es kristal itu didatangkan dari luar kota untuk memenuhi permintaan pelanggan pabrik es tersebut.

Baca Juga :  Menjelang Musim Panen Raya, Petani Keluhkan Harga Gabah

‘’Pemilik pabrik sudah berjanji kepada kami tidak akan beroperasi sebelum memiliki pengolahan limbah dan perizinan IPAL agar tidak ada lagi pencemaran,’’ tegasnya. Pejabat yang tinggal di Kecamatan Merakurak ini menerangkan, saat sidak di lokasi, dia bersama tim melihat mesin baru yang didatangkan. Mesin tersebut menggantikan pengolahan es kristal yang sebelumnya menggunakan amonia dengan bahan freon.

‘’Pemilik mengaku sudah mendatangkan konsultan untuk pendirian pengolahan limbah, jadi kita lihat komitmennya,’’ ujarnya.

Karena itu, Purnomo mengimbau kepada masyarakat untuk bersama-sama mengawal dan mengawasi agar pemilik pabrik menepati janjinya. Terkait sanksi yang wajib mengganti ekosistem, DLH memastikan hal itu sudah dilakukan pemilik pabrik dengan menebar 30 ribu bibit ikan di sekitar sungai. ‘’Tinggal kewajiban pengolahan limbah dan dokumennya yang belum terpenuhi,’’ tandasnya.

Radar Tuban – Begitu Jawa Pos Radar Tuban menurunkan berita berjudul Diam-Diam, Pabrik Es Kembali Beroperasi pada edisi Rabu (28/7), pada hari itu juga dinas lingkungan hidup (DLH) bersama kantor kesatuan bangsa dan politik (kesbangpol) setempat langsung mengecek ke lokasi.

Kedua institusi tersebut menegaskan pabrik es PT Tirtojoyo belum boleh bero perasi jika persyaratan pengelolaan limbah belum terpenuhi. Sidak diawali dari turunnya tim yang dipimpin Kepala Bidang Pencegahan Pencemaran Lingkungan DLH Tuban Purnomo Sidi sekitar pukul 09.00. Kunjungan kedua dilanjutkan Kepala DLH Tuban Bambang Irawan bersama Kepala Kesbangpol Tuban Didik Purwanto sekitar pukul 12.00.

Tujuannya, memastikan pabrik es tidak beroperasi selama belum memiliki instalasi pengolahan limbah. Seperti diberitakan sebelumnya, pabrik es kristal PT Tirtojoyo dilaporkan perangkat desa setempat beroperasi secara diam-diam. Padahal, pabrik es di Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding tersebut di-police line.

Baca Juga :  BAGIKAN 300 PAKET SEMBAKO UNTUK KAUM DHUAFA SEKITAR PERUSAHAAN

Perusahaan diperbolehkan kembali produksi jika kewajiban untuk mendirikan pengolahan limbah dan perizinan IPAL (instalasi pengolahan air limbah) terpenuhi. Sebab, selama ini pembuangan sisa es kristal selalu dibuang ke sungai.

Kabid Pencegahan Pencemaran Lingkungan DLH Tuban Purnomo Sidi menjelaskan, pihak perusahaan membantah tuduhan beroperasi diamdiam. Pemilik pabrik es kristal, Lanita kepada tim sidak mengatakan pabrik belum beroperasi sejak kebocoran amonia, Sabtu (17/7).

‘’Keterangan pemilik, sejak gas bocor sampai hari ini belum pernah beroperasi sama sekali,’’ terangnya.

Mengutip penjelasan Lanita, Purnomo mengatakan, truk boks yang lalu lalang di pabriknya adalah pengiriman es kristal dari Jombang dan Nganjuk. Es kristal itu didatangkan dari luar kota untuk memenuhi permintaan pelanggan pabrik es tersebut.

Baca Juga :  Betah Nongkrong di Bojonegoro

‘’Pemilik pabrik sudah berjanji kepada kami tidak akan beroperasi sebelum memiliki pengolahan limbah dan perizinan IPAL agar tidak ada lagi pencemaran,’’ tegasnya. Pejabat yang tinggal di Kecamatan Merakurak ini menerangkan, saat sidak di lokasi, dia bersama tim melihat mesin baru yang didatangkan. Mesin tersebut menggantikan pengolahan es kristal yang sebelumnya menggunakan amonia dengan bahan freon.

‘’Pemilik mengaku sudah mendatangkan konsultan untuk pendirian pengolahan limbah, jadi kita lihat komitmennya,’’ ujarnya.

Karena itu, Purnomo mengimbau kepada masyarakat untuk bersama-sama mengawal dan mengawasi agar pemilik pabrik menepati janjinya. Terkait sanksi yang wajib mengganti ekosistem, DLH memastikan hal itu sudah dilakukan pemilik pabrik dengan menebar 30 ribu bibit ikan di sekitar sungai. ‘’Tinggal kewajiban pengolahan limbah dan dokumennya yang belum terpenuhi,’’ tandasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/