alexametrics
23.6 C
Bojonegoro
Friday, May 27, 2022

Menakar Perkembangan Pendidikan di Tengah Pandemi

Harus diakui bahwa pembelajaran tatap muka jauh lebih efektif daripada pembelajaran dalam jaringan (daring). Sejauh mana perkembangan pendidikan di Tuban selama pendemi Covid-19 ini?

Malam itu, seorang kawan dengan nada masygul bertanya tempat les privat membaca, menulis, dan menghitung (calistung). Dari gurat wajahnya, seperti ada perasaan tertekan dan beban berat yang menyangkut buah hatinya.

Belum sempat saya memberikan jawaban, Ziqi, kawan saya ini bercerita terkait masalah yang dihadapi anaknya. Di tahun ajaran baru 2021/2022 ini, sang buah hati masuk pendidikan sekolah dasar (SD).

Namun, akibat pandemi Covid-19 yang hampir dua tahun melanda negeri ini, kegiatan belajar yang dijalani anak semata wayangnya selama di taman kanak-kanak (TK) menjadi tidak maksimal. Waktu dua tahun selama menempuh pendidikan di TK lebih banyak dihabiskan dengan belajar secara daring dari rumah. Dan, itu dinilai sangat tidak maksimal.

Minimnya kegiatan interaksi langsung antara guru dan anak didik membuat perkembangan anaknya dalam belajar membaca sangat kurang. Di usianya yang sudah menginjak tujuh tahun ini, si buah hati belum bisa membaca.

Baca Juga :  Prestasi Jadi Tanggung Jawab

Awalnya, kawan saya ini masih bisa bersikap biasa dan bijaksana dalam memantau tumbuh kembang anaknya. Dia beranggapan bahwa tidak masalah anak di usia tujuh tahun belum bisa membaca.

Namun, tidak sangka, ternyata untuk masuk SD yang diinginkan itu, si anak dituntut harus bisa membaca. Sehingga, dia disarankan mencari les privat untuk anaknya supaya bisa mengejar ketertinggalan membaca. ‘’Jadi itu alasan saya mencari les privat calistung,’’ katanya memungkasi kisah yang dialami buah hatinya.

Dia mengaku cukup tertekan dengan kondisi yang harus dihadapi tersebut. Alasannya, karena dia harus menuntut anaknya bisa membaca untuk mengejar ketertinggalan. Padahal, harapannya memasukkan si buah hati ke salah satu sekolah terbaik di Tuban supaya anaknya bisa mendapat pendidikan yang baik di sekolah.

‘’Dulu, saat kita masuk SD baru belajar membaca, menulis dan berhitung. Itu pun baru diperkenalkan dengan huruf dan angka-angka. Tapi sekarang, untuk masuk SD anak sudah dituntut bisa membaca,’’ katanya yang sekarang harus berjibaku mencari les privat untuk anaknya supaya bisa dengan cepat membaca dan menulis.

Baca Juga :  Jumlah Penerima Sembako Bertambah, Kualitas Sesuai Ketentuan

Senada juga dialami Yanti. Diakuinya, selama hampir dua tahun pandemi ini, anaknya tidak bisa belajar maksimal selama di TK. Bahkan, kata ibu dua anak ini, hampir dua tahun menempuh pendidikan TK, seperti tidak sekolah. Yanti menuturkan, anak TK belajar secara daring itu sangat tidak maksimal.

Menurutnya, belajar dengan guru di sekolah dan belajar dengan orang tua di rumah itu beda. ‘’Kalau guru kan memang basic mengajar dan membimbing anak, kalau orang tua kan hanya bisa mendampingi. Makanya, perkembangan anak belajar daring itu sangat tidak maksimal,’’ katanya.

Karena itu, Yanti berharap saat masuk SD, anak tidak dituntut macam-macam. Termasuk menuntut anak bisa membaca. ‘’Selain kita harus saling memahami akibat kondisi pandemi ini, usia SD memang masih tahap anak belajar membaca. Jadi, jangan dituntut bisa membaca,’’ tandasnya.

Harus diakui bahwa pembelajaran tatap muka jauh lebih efektif daripada pembelajaran dalam jaringan (daring). Sejauh mana perkembangan pendidikan di Tuban selama pendemi Covid-19 ini?

Malam itu, seorang kawan dengan nada masygul bertanya tempat les privat membaca, menulis, dan menghitung (calistung). Dari gurat wajahnya, seperti ada perasaan tertekan dan beban berat yang menyangkut buah hatinya.

Belum sempat saya memberikan jawaban, Ziqi, kawan saya ini bercerita terkait masalah yang dihadapi anaknya. Di tahun ajaran baru 2021/2022 ini, sang buah hati masuk pendidikan sekolah dasar (SD).

Namun, akibat pandemi Covid-19 yang hampir dua tahun melanda negeri ini, kegiatan belajar yang dijalani anak semata wayangnya selama di taman kanak-kanak (TK) menjadi tidak maksimal. Waktu dua tahun selama menempuh pendidikan di TK lebih banyak dihabiskan dengan belajar secara daring dari rumah. Dan, itu dinilai sangat tidak maksimal.

Minimnya kegiatan interaksi langsung antara guru dan anak didik membuat perkembangan anaknya dalam belajar membaca sangat kurang. Di usianya yang sudah menginjak tujuh tahun ini, si buah hati belum bisa membaca.

Baca Juga :  Bupati: Modal Penting Menjadi Pejabat Adalah Tulus Melayani Masyarakat

Awalnya, kawan saya ini masih bisa bersikap biasa dan bijaksana dalam memantau tumbuh kembang anaknya. Dia beranggapan bahwa tidak masalah anak di usia tujuh tahun belum bisa membaca.

Namun, tidak sangka, ternyata untuk masuk SD yang diinginkan itu, si anak dituntut harus bisa membaca. Sehingga, dia disarankan mencari les privat untuk anaknya supaya bisa mengejar ketertinggalan membaca. ‘’Jadi itu alasan saya mencari les privat calistung,’’ katanya memungkasi kisah yang dialami buah hatinya.

Dia mengaku cukup tertekan dengan kondisi yang harus dihadapi tersebut. Alasannya, karena dia harus menuntut anaknya bisa membaca untuk mengejar ketertinggalan. Padahal, harapannya memasukkan si buah hati ke salah satu sekolah terbaik di Tuban supaya anaknya bisa mendapat pendidikan yang baik di sekolah.

‘’Dulu, saat kita masuk SD baru belajar membaca, menulis dan berhitung. Itu pun baru diperkenalkan dengan huruf dan angka-angka. Tapi sekarang, untuk masuk SD anak sudah dituntut bisa membaca,’’ katanya yang sekarang harus berjibaku mencari les privat untuk anaknya supaya bisa dengan cepat membaca dan menulis.

Baca Juga :  Bukit Lei, Upaya Eksplorasi Lokasi Baru Paralayang Tuban

Senada juga dialami Yanti. Diakuinya, selama hampir dua tahun pandemi ini, anaknya tidak bisa belajar maksimal selama di TK. Bahkan, kata ibu dua anak ini, hampir dua tahun menempuh pendidikan TK, seperti tidak sekolah. Yanti menuturkan, anak TK belajar secara daring itu sangat tidak maksimal.

Menurutnya, belajar dengan guru di sekolah dan belajar dengan orang tua di rumah itu beda. ‘’Kalau guru kan memang basic mengajar dan membimbing anak, kalau orang tua kan hanya bisa mendampingi. Makanya, perkembangan anak belajar daring itu sangat tidak maksimal,’’ katanya.

Karena itu, Yanti berharap saat masuk SD, anak tidak dituntut macam-macam. Termasuk menuntut anak bisa membaca. ‘’Selain kita harus saling memahami akibat kondisi pandemi ini, usia SD memang masih tahap anak belajar membaca. Jadi, jangan dituntut bisa membaca,’’ tandasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/